Burisrawa adalah tokoh dalam epik Mahabharata yang juga memiliki versi khas dalam pewayangan Jawa. Dalam versi asli Mahabharata, ia adalah putra Raja Soma Datta dari kerajaan Bahlik dan masih memiliki hubungan darah dengan keluarga Kuru (korawa dan pandawa). Namun, dalam pewayangan Jawa, ia disebut sebagai putra Prabu Salya (juga dikenal sebagai Nara Soma) dari kerajaan Mandaraka dan Dewi Setyawati.
Di antara lima bersaudara – Era Wati, Surtikanti, Bano Wati, Burisrawa, dan Rukma Rata – hanya Burisrawa yang memiliki wajah buruk seperti raksasa, berbeda dengan saudara-saudaranya yang cantik atau tampan. Hal ini adalah kutukan akibat perbuatan ayahnya Prabu Salya yang semasa muda membunuh mertuanya, Resi Bagaspati, yang berwujud raksasa karena merasa jijik. Sebagai hukuman, salah satu anaknya akan terlahir dengan rupa yang tidak sedap dipandang, yaitu Burisrawa.
Karena penampilannya yang menakutkan, Burisrawa tidak tinggal bersama keluarga di istana Mandaraka dan tinggal sendiri di Kasatriyan Madyapura. Ia kemudian diampuni dan diterima oleh para korawa, yang membuatnya sangat setia kepada mereka.
Sejak muda, Burisrawa mencintai Subadra (dipanggil Lara Ireng olehnya), adik kandung Baladewa dan Kresna. Saat pernikahan saudara perempuannya Era Wati dengan Baladewa, ia mencoba merayu Subadra tetapi dihalangi oleh Satyaki, adik sepupu Baladewa. Hal ini menyebabkan perkelahian hebat antara keduanya, yang baru bisa dilerai oleh Baladewa dan Kresna. Pada kesempatan itu, Baladewa menjanjikan bahwa kelak Burisrawa akan dinikahkan dengan Subadra.
Namun, kenyataan berbeda. Arjuna dan Subadra telah dijodohkan sejak kecil, dan ketika dewasa, Arjuna berhasil memenuhi semua persyaratan mahar perkawinan yang diajukan. Sementara itu, meskipun mendapat bantuan dari korawa, Burisrawa tidak mampu memenuhinya. Akhirnya, Subadra dinikahkan dengan Arjuna, yang membuat Burisrawa merasa dikhianati. Ia bahkan mencoba membuat onar pada pernikahan tersebut tetapi berhasil dikalahkan oleh pandawa. Pada saat itu juga, ia kembali bertengkar dengan Satyaki, dan keduanya bersumpah akan menyelesaikan dendam mereka di medan perang Baratayuda.
Dalam beberapa versi cerita, Burisrawa bahkan pernah menghunus keris untuk memaksa Subadra menerima cintanya, tetapi sang dewi justru menusukkan keris ke tubuhnya sendiri ketimbang menyerah.
Ketika perang Baratayuda pecah antara korawa dan pandawa, Burisrawa berdiri di pihak korawa dan menjadi salah satu senapati yang handal. Ia memiliki kesaktian dan kekuatan yang luar biasa, membuatnya menjadi ancaman bagi pasukan pandawa.
Pada hari perang yang menentukan, Burisrawa bertemu dengan Satyaki di medan tempur. Keduanya bertarung sengit sesuai dengan sumpah mereka. Burisrawa yang lebih unggul dalam stamina berhasil mengalahkan Satyaki dan hampir memenggal kepalanya. Namun, pada saat kritis, Kresna meminta Arjuna untuk menguji kemampuannya dengan memanah sehelai rambut Burisrawa. Arjuna dengan tepat mengenai rambut tersebut sekaligus mengenai leher Burisrawa, membuatnya gugur dan menyelamatkan Satyaki.
Dalam versi Mahabharata asli, seluruh keluarga Burisrawa (Soma Datta dan saudara-saudaranya) juga gugur dalam perang ini, kecuali Saumadati yang tewas di tangan Panca Kumara.
Burisrawa menikah dengan Dewi Kiswari, putri Prabu Kiswamuka dari kerajaan Cindekembang, dan memiliki seorang anak bernama Arya Kiswara. Meskipun ia dikenal sebagai antagonis dalam cerita, kisahnya sering dijadikan contoh tentang bagaimana rasa sakit hati dan dendam bisa mengubah seseorang, serta bagaimana kutukan dan perbuatan masa lalu bisa memengaruhi kehidupan seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar