Senin, 23 Februari 2026

Kisah Brahma Kumbara.

Di masa kejayaan Kerajaan Majapahit, ketika tanah Jawa penuh dengan ksatria gagah berani dan ajian sakti yang memukau, hidup seorang pemuda bernama Brahma Kumbara. Beliau bukanlah putra bangsawan, namun bakat bela diri dan hati yang luhur menjadikannya salah satu pendekar sakti terkemuka di tanah air.

 

Dengan gelang-gelang sakti yang selalu mengiringinya, serta menguasai ajian seperti Serat Jiwa yang bisa merasakan detak hati musuh, Ilmu Lampah Lumpuh yang membuat lawan tak berdaya, dan Ilmu Cipta Dewi yang melindungi dari bahaya, Brahma Kumbara menjadi harapan rakyat yang tertindas. Ia selalu menjunjung tinggi keberanian, kejujuran, dan kesetiaan—nilai-nilai yang membuatnya dicintai banyak orang.

 

Dalam perjalanannya, hati Brahma Kumbara tersentuh oleh tiga wanita dengan sosok berbeda. Pertama adalah Mantili, seorang gadis pemberani yang pernah menyelamatkannya dari bahaya. Kemudian ada Paramita, putri bangsawan yang mengagumi kebajikannya. Namun, cinta yang paling mendalam tumbuh antara dia dan Dewi Harnum—seorang wanita bijak dan penuh kasih yang selalu menjadi tempat kembali setiap kali dia lelah berperang. Cinta mereka menjadi sumber kekuatan tersembunyi yang membuat Brahma Kumbara semakin kuat menghadapi setiap tantangan.

 

Namun, kedamaian tidak bertahan lama. Gardika, pemimpin pasukan Kuntala yang telah lama menginginkan kekuasaan, muncul dengan rencana jahat untuk menggulingkan kekuasaan Majapahit dan mengembalikan kejayaan kerajaan lamanya. Ia menyusun intrik politik yang licik, bahkan membujuk beberapa orang terdekat Brahma Kumbara untuk mengkhianatinya.

 

Saat intrik mulai terbongkar dan peperangan tak terhindarkan, Brahma Kumbara harus menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya dari ajian sakti, melainkan dari hati yang tulus ingin melindungi rakyat. Dengan dukungan Dewi Harnum dan mereka yang masih setia, ia menghadapi Gardika dalam pertempuran epik yang mengguncang tanah Jawa.

 

Setelah berhasil mengalahkan musuh bebuyutannya dan mengatasi segala pengkhianatan, rakyat mengangkat Brahma Kumbara sebagai Raja Madangkara—seorang pemimpin yang memerintah dengan keadilan dan kasih sayang, membawa kemakmuran bagi wilayahnya di bawah bayangan kejayaan Majapahit.

 

 

 


Minggu, 22 Februari 2026

Bhisma: Pahlawan dengan Sumpah Tak Terlupakan

Di kerajaan Hastinapura, lahirlah seorang putra mulia dari Raja Shantanu dan Dewi Gangga—dia diberi nama Dewabrata, yang nantinya akan dikenal sepanjang masa sebagai Bhisma. Dengan kecerdasan yang luar biasa dan kekuatan tubuh yang mengagumkan, dia tumbuh menjadi pemuda yang layak untuk menjabat raja. Namun, takdir telah menyusun jalan yang berbeda baginya.
 
Ketika Raja Shantanu ingin menikahi Satyavati, ibu dari Vichitravirya dan Chitrangada, keluarganya memberikan syarat bahwa hanya keturunan Satyavati yang boleh menjadi pewaris tahta. Untuk memenuhi keinginan ayahnya dan menjaga keharmonisan kerajaan, Dewabrata mengucapkan sumpah yang abadi: "Aku tidak akan pernah menikah, tidak akan memiliki keturunan, dan tidak akan pernah menguasai tahta Hastinapura!" Dari saat itu, dia dikenal sebagai Bhisma—yang berarti "sumpah yang mengerikan".
 
Sepanjang hidupnya, Bhisma tetap setia pada sumpahnya. Ia menjaga dan mendidik adik tirinya, Vichitravirya, serta cucu-cucunya—para Kaurawa dan Pandawa. Kemampuan bertarungnya tidak tertandingi; dia adalah salah satu pejuang terhebat zamannya, mahir dalam segala jenis senjata dan taktik perang. Kesetiaannya kepada keluarga dan negara menjadi contoh bagi semua orang di Hastinapura.
 
Ketika perselisihan antara Kaurawa dan Pandawa mencapai puncaknya dan perang Kurukshetra pecah, Bhisma terpaksa memimpin pasukan Kaurawa. Meskipun ia tahu bahwa pihak Kaurawa berada di pihak yang salah, kesetiaannya pada kerajaan membuatnya tidak dapat berpaling. Selama hari-hari perang, dia bertempur dengan kehebatan yang membuat pasukan Pandawa kesusahan. Banyak pahlawan Pandawa jatuh di bawah serangannya, dan tampaknya tidak ada yang dapat mengalahkannya.
 
Namun, ada satu cara untuk menghentikan Bhisma. Ia pernah berjanji bahwa dia tidak akan pernah menyakiti orang yang pernah hidup sebagai wanita. Shikhandi—pangeran yang pernah memiliki kehidupan sebagai wanita sebelum menjadi laki-laki—ditempatkan di depan Arjuna ketika mereka menghadapi Bhisma. Ketika Arjuna menembakkan panahnya dengan bimbingan Shikhandi, panah-panah itu menancap ke tubuh Bhisma, membuatnya jatuh ke tanah. Tubuhnya tidak menyentuh bumi karena ditopang oleh ribuan panah, seperti sebuah tempat tidur yang terbuat dari logam.
 
Meskipun terluka parah, Bhisma tidak langsung meninggal. Dewa-dewa memberinya kesempatan untuk memilih waktu kematiannya sendiri. Ia memilih untuk menunggu hingga musim Uttarayana tiba—saat matahari bergerak ke arah utara, yang dianggap sebagai waktu suci dan baik bagi seorang pahlawan untuk kembali ke alam semesta. Setelah musim tiba, Bhisma mengambil nafas terakhirnya, meninggalkan dunia dengan kehormatan dan kehormatan yang layak bagi sosok legendarisnya.
 
 
 

Dewi Durga, Dari Bidadari Menjadi Raksasa. (Cerita Versi Jawa)

Di alam Kahyangan, hiduplah seorang Dewi yang bernama Dewi Uma—istri Bhatara Guru Siwa. Wajahnya seperti bulan purnama yang menerangi kegelapan, rambutnya lurus mengkilap seperti sutra, dan setiap gerakannya memancarkan keanggunan yang mempesona. Semua makhluk memuliakan kecantikannya dan keharmonisan pernikahannya dengan Bhatara Guru.
 
Namun, kedamaian itu hancur ketika sebuah tuduhan menyebar. Bhatara Guru mulai mencurigai bahwa Dewi Uma telah melakukan kesalahan fatal, bahkan berselingkuh. Kemarahan yang tak terkendali melanda hatinya, dan dengan kata-kata yang menusuk hati, ia mengucapkan kutukan yang mengubah segalanya: "Hingga dosamu terhapus, engkau akan menjadi makhluk yang ditakuti, tinggal di tempat yang jauh dari keindahan surga!"
 
Dalam sekejap, keindahan Dewi Uma sirna lenyap. Wajahnya menjadi menyeramkan dengan taring tajam yang menonjol, rambutnya menjadi gimbal dan kusut seperti semak belukar, dan tubuhnya berubah menjadi raksasa yang dikenal sebagai Bhatari Durga. Dihantui oleh kutukan, ia terpaksa tinggal di kuburan—tempat yang selalu berbau mayat dan ditinggalkan oleh semua makhluk.
 
Meskipun berwujud mengerikan, kesaktiannya tidak pernah pudar. Seiring waktu, Bhatari Durga menjadi ratu bagi segala makhluk halus—jin, setan, dan genderewo—yang mengagungkan kekuatannya. Di dunia pewayangan, ketika perselisihan pecah antara Kurawa dan Pandawa, pihak Kurawa datang meminta bantuannya untuk mencelakai Pandawa. Meskipun tindakannya terlihat jahat, Bhatari Durga hanya menjalankan apa yang dipercayakan kepadanya sebagai bagian dari takdir yang telah ditentukan.
 
Namun, jalan menuju pembebasan telah disiapkan. Suatu hari, Sahadewa— adik bungsu dari Pandawa yang jujur dan penuh kasih—datang ke kuburan. Bhatari Durga muncul dengan wajahnya yang menakutkan dan memaksa Sahadewa untuk meruwatnya dari kutukan. Ketika Sahadewa mengaku tidak tahu cara melakukan ritual penyucian, Bhatari Durga mengancam akan membunuh pemuda itu.
 
Pada saat genting itu, Bhatara Guru yang telah menyesali tindakannya mendadak merasuki tubuh Sahadewa. Dengan kekuatan yang diberikan oleh Sang Hyang Tunggal, Sahadewa menjalankan ritual penyucian dengan penuh kesopanan dan keikhlasan. Seiring dengan setiap langkah ritual, bentuk menyeramkan Bhatari Durga perlahan menghilang, dan kembali muncul wajah cantik Dewi Uma yang dulu dikenal seluruh alam.
 
Kutukan akhirnya luntur. Atas jasanya yang melenyapkan noda dan penderitaan dari Dewi Uma, Sahadewa kemudian diberi gelar yang terkenal hingga kini—Sudamala, ia yang mampu membersihkan segala kekotoran dan penyakit.
 
 
 

Kamis, 19 Februari 2026

Kisah Batara Kala.

Pada zaman dahulu kala, ketika alam semesta masih dalam keseimbangan yang halus, Dewa Siwa sedang berdiam bersama Dewi Uma, sang istri yang memiliki kecantikan yang mempesona hingga membuat langit dan bumi terpana. Saat melihatnya, sebuah benih dari Dewa Siwa terjatuh ke dalam lautan.
 
Lautan membawa benih itu jauh ke kedalaman, hingga akhirnya ditemukan oleh Dewa Brahma dan Wisnu. Kedua dewa itu merasakan kekuatan besar yang terkandung di dalamnya, sehingga mereka memutuskan untuk merawatnya dengan penuh perhatian. Setelah waktu yang lama, dari benih itu lahir seorang raksasa bertaring besar dengan wajah yang menyeramkan—ia adalah Batara Kala, yang kemudian akan menjadi penguasa waktu dan kematian.
 
Setelah dewasa, Batara Kala tinggal di dunia bawah tanah bersama pasangannya, Setesuyara. Ia melambangkan hukum alam yang tak bisa dielakkan; waktu yang terus berjalan dan merusak segala sesuatu yang ada di ruang dan waktu. Sebagai tanda kehormatan, ia berhak memakan manusia yang lahir pada Wuku Wayang—wuku kelahiran dirinya sendiri.
 
Salah satu yang terancam adalah Batara Kumara, adik kandungnya yang lahir pada wuku tersebut. Ketika Batara Kala mulai mengejar adiknya untuk memenuhi haknya, langit dan bumi bergemetar. Melihat hal ini, para dewa dan manusia melakukan ritual ruwatan—penyucian yang sakral—untuk menghentikan pengejaran itu. Berkat ritual tersebut, Batara Kumara selamat, dan kesepakatan dibuat agar orang yang lahir pada Wuku Wayang bisa diselamatkan melalui upacara yang tepat.
 
Selain itu, Batara Kala juga dikenal dalam mitos gerhana. Ia diyakini mengejar dan mencoba memakan Batara Surya sang matahari atau Batara Candra sang bulan sebagai balas dendam atas nasibnya yang dianggap tidak adil. Ketika ia hampir berhasil menggigit salah satu dari mereka, gerhana terjadi di dunia manusia. Hanya ketika para dewa dan manusia berdoa serta melakukan upacara, ia akan melepaskan mangsanya dan cahaya kembali menyinari bumi.
 
Untuk melindungi orang-orang yang lahir pada Wuku Wayang, masyarakat Jawa-Bali mengadakan ritual Sapuh Leger—pertunjukan wayang khusus yang dipercaya dapat menjauhkan bahaya dari mangsa Batara Kala. Hiasan kepala raksasanya juga sering ditemukan di candi-candi Jawa, sebagai pengingat akan keberadaannya yang melambangkan nafsu dan kekacauan, namun juga sebagai simbol bahwa tidak ada yang bisa melawan alur waktu dan hukum alam yang mutlak.
 

Dewi Arimbi: Kisah Cinta Dan Pengorbanan Seorang Ibu.

Bab 1: Kehidupan di Negeri Pringgandani
 
Di kaki pegunungan yang menjulang tinggi, ada sebuah kerajaan yang bernama Pringgandani. Kerajaan tersebut dikelilingi oleh hutan lebat yang rimbun dan sungai yang jernih mengalir, menjadi tempat tinggal bagi kaum raksasa yang dipimpin oleh Prabu Arimbaka—raja yang gagah perkasa dengan hati yang cukup adil bagi rakyatnya. Bersamanya, Ratu Dewi Hadimba memerintah dengan kasih sayang, dan dari pernikahan mereka, delapan anak lahir ke dunia.
 
Yang paling muda di antara putri-putrinya adalah Dewi Arimbi, putri kedua yang sejak lahir telah menunjukkan keistimewaan. Meskipun memiliki darah raksasa yang membuatnya mampu memiliki tubuh besar dan kuat, ia juga memiliki wajah yang semakin cantik seiring bertambahnya usia. Selain itu, ia mewarisi kesaktian dari kedua orang tuanya, termasuk kemampuan untuk mengubah wujudnya—dari bentuk raksasa yang tangguh menjadi putri jelita dengan paras memukau dan tubuh langsing.
 
Dewi Arimbi tumbuh bersama tujuh saudara kandungnya: Arimba, Arya Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa, dan Kalabendana. Meskipun para saudara laki-lakinya lebih suka menghabiskan waktu untuk berlatih senjata dan menjelajahi hutan luas, Arimbi lebih sering memilih untuk menghabiskan waktu bersama ibunya, belajar tentang kesaktian, etika hidup, dan bagaimana menjadi sosok yang bermanfaat bagi rakyat. Ia tumbuh menjadi wanita yang tidak hanya cantik dan kuat, tetapi juga memiliki hati yang baik—jujur dalam setiap perkataan, setia kepada apa yang diyakininya, dan selalu berbakti kepada orang tua serta saudara-saudaranya.
 
Bab 2: Pertemuan dengan Bima
 
Suatu hari, kabar menyebar bahwa para Pandawa—lima saudara satria yang terkenal karena keberanian dan kebajikan mereka—sedang melakukan perjalanan melintasi wilayah sekitar Pringgandani setelah harus meninggalkan kerajaan Hastinapura. Prabu Arimbaka, yang telah mendengar tentang kehebatan para Pandawa, mengundang mereka untuk beristirahat di istananya.
 
Di antara kelima Pandawa, sosok Bima—yang berbadan besar, kuat seperti gajah, dan memiliki hati yang hangat—mencuri perhatian Dewi Arimbi. Saat melihat Bima berinteraksi dengan rakyat jelata dan membantu mereka dengan sukarela, hati Arimbi tergerak dengan kedermawanan yang dimiliki pria tersebut. Sementara itu, Bima juga terpikat dengan kecantikan dan kesederhanaan Dewi Arimbi, yang berbeda dari banyak wanita bangsawan yang pernah ditemuinya.
 
Mereka mulai sering bertemu di taman istana atau di tepi sungai, berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Bima bercerita tentang perjuangan para Pandawa untuk mendapatkan hak yang seharusnya, sementara Arimbi menceritakan tentang kehidupan di Pringgandani dan harapannya untuk melihat dunia lebih luas. Seiring berjalannya waktu, cinta tumbuh di antara keduanya—cinta yang tidak terbatas oleh perbedaan latar belakang atau bentuk fisik yang mereka miliki.
 
Setelah mendapatkan restu dari Prabu Arimbaka dan Dewi Hadimba, Bima dan Dewi Arimbi menikah dengan upacara yang meriah. Selama waktu bersama mereka, kebahagiaan meliputi istana Pringgandani. Tak lama kemudian, Dewi Arimbi dikaruniai seorang putra yang diberi nama Gatotkaca. Sejak lahir, Gatotkaca menunjukkan bakat luar biasa—berbadan kuat seperti ayahnya dan memiliki kesaktian yang diwarisi dari ibunya. Dewi Arimbi mencintai putranya dengan sepenuh hati, selalu mengajarkannya tentang pentingnya kejujuran, kesetiaan, dan tanggung jawab terhadap orang lain.
 
Bab 3: Masa Perpisahan dan Pertumbuhan Gatotkaca
 
Waktu terus berlalu, dan saatnya tiba bagi para Pandawa untuk melanjutkan perjalanan mereka. Bima harus pergi bersama saudara-saudaranya untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dan memperjuangkan hak mereka atas takhta Hastinapura. Meskipun sangat sulit untuk berpisah, Dewi Arimbi memahami bahwa tugas suaminya adalah untuk membela kebenaran. Ia menerima keputusan tersebut dengan hati yang kuat, berjanji akan merawat Gatotkaca dengan sebaik-baiknya dan mengajarkannya untuk menjadi seorang pria yang baik dan berbakti.
 
Selama tahun-tahun perpisahan, Dewi Arimbi mendidik Gatotkaca dengan penuh kasih dan ketelitian. Ia mengajarkan putranya tentang kesaktian yang dimilikinya, cara mengendalikan kekuatan dengan bijak, dan pentingnya menggunakan kekuatan untuk membantu orang yang lemah. Gatotkaca tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa, penuh rasa hormat terhadap ibu dan orang tua lainnya, serta memiliki semangat juang yang tinggi untuk membela kebenaran.
 
Selama itu juga, Dewi Arimbi terus menjalankan tugasnya sebagai putri kerajaan Pringgandani, membantu rakyatnya dengan segala cara yang bisa dilakukan. Ia dikenal sebagai sosok yang murah hati dan selalu siap memberikan bantuan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Meskipun sering merindukan Bima, ia tidak pernah mengeluh dan selalu menjaga semangat putranya agar tetap kuat.
 
Bab 4: Munculnya Perang Bharatayuda
 
Kabar tentang perselisihan yang semakin memanas antara pihak Pandawa dan Kurawa akhirnya mencapai telinga Dewi Arimbi dan Gatotkaca. Mereka mendengar bahwa upaya untuk menyelesaikan masalah secara damai telah gagal, dan perang yang besar—yang kemudian dikenal sebagai Perang Bharatayuda—tak terhindarkan lagi.
 
Gatotkaca, yang telah dewasa dan siap untuk membuktikan diri, mengungkapkan keinginannya untuk bergabung dengan pihak Pandawa dan membantu ayahnya dalam perang. Meskipun hati sangat khawatir, Dewi Arimbi memahami bahwa putranya telah siap untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang pejuang kebenaran. Ia memberikan restu kepada Gatotkaca, sekaligus mengingatkannya untuk selalu menjaga hati yang baik dan tidak terbawa emosi dalam medan perang.
 
Sebelum Gatotkaca berangkat, Dewi Arimbi memberikan kepada putranya sebuah amulet yang telah diberi doa dan kesaktiannya—sebagai perlindungan serta tanda cinta seorang ibu yang selalu mengawalinya. Gatotkaca menerima dengan penuh rasa hormat, berjanji akan selalu mengingat ajaran ibu dan berjuang dengan penuh kehormatan.
 
Bab 5: Tragedi di Medan Perang
 
Perang Bharatayuda berlangsung dengan sangat sengit. Kedua pihak bertempur dengan penuh semangat, masing-masing yakin bahwa mereka berjuang untuk kebenaran. Gatotkaca dengan gagah berperang di medan perang, menunjukkan kehebatan kesaktian dan keberaniannya. Ia berhasil mengalahkan banyak pejuang kuat dari pihak Kurawa, menjadi salah satu pahlawan utama yang membantu pihak Pandawa dalam berbagai pertempuran.
 
Namun, takdir memiliki rencana yang berbeda. Pada hari yang gelap dan penuh dengan badai petir, Gatotkaca harus menghadapi Adipati Karna—salah satu pejuang terkuat pihak Kurawa yang terkenal karena keahliannya dalam memanah. Dalam pertempuran yang sangat sengit, Karna mengeluarkan panah sakti bernama Kunta—sebuah panah yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan setiap lawan yang dihadapinya. Tanpa kesempatan untuk menghindar, Gatotkaca terkena panah tersebut dan gugur di medan perang.
 
Berita tentang wafatnya Gatotkaca segera menyebar ke seluruh medan perang. Ketika kabar itu sampai ke telinga Dewi Arimbi, yang telah mengikuti perkembangan perang dari kejauhan, hati ibunya hancur berkeping-keping. Namun, bukan kesedihan yang menguasainya—melainkan semangat keberanian untuk membela kehormatan putranya dan memastikan bahwa pengorbanannya tidak sia-sia.
 
Tanpa ragu, Dewi Arimbi mengubah wujudnya menjadi bentuk raksasa yang tangguh dan melesat ke medan perang. Ia dengan gagah menghadapi pasukan Kurawa, menyerang dengan kekuatan penuh untuk membela nama baik putranya. Meskipun telah berjuang dengan sangat keras dan berhasil mengalahkan banyak pejuang musuh, akhirnya Dewi Arimbi juga gugur di medan perang—berbaring bersama putranya yang sangat dicintainya, sebagai bukti cinta dan pengorbanan seorang ibu yang tidak ada batasnya.
 
Bab 6: Warisan Dewi Arimbi
 
Setelah berakhirnya Perang Bharatayuda, pihak Pandawa dan rakyat banyak mengenang jasa Dewi Arimbi dan Gatotkaca. Kedua sosok tersebut dikenang sebagai pahlawan yang rela berkorban untuk kebenaran dan cinta keluarga.
 
Dalam pewayangan Jawa yang kemudian berkembang, Dewi Arimbi sering digambarkan sebagai sosok putri cantik dengan wajah penuh kasih dan hati yang kuat. Kisahnya menjadi contoh bagi banyak orang tentang makna cinta yang tulus—baik cinta antara suami istri maupun cinta seorang ibu terhadap anaknya. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya datang dari kesaktian atau kekuatan fisik, tetapi juga dari kebaikan hati, kejujuran, dan kesediaan untuk berkorban bagi orang yang dicintai.
 
Hingga kini, nama Dewi Arimbi tetap hidup dalam khazanah budaya Jawa. Kisahnya menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kesetiaan, dan kasih sayang keluarga—nilai-nilai yang terus menjadi pondasi bagi kehidupan masyarakat hingga saat ini.
 
 
 

Minggu, 08 Februari 2026

Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun

Di masa lalu, ada dua kerajaan besar di tanah Jawa: Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala. Dari Kediri lahir seorang putri cantik bernama Dewi Sekartaji, sementara dari Jenggala datang putra mahkota yang gagah berani bernama Panji Asmarabangun.
 
Ketika kedua insan itu bertemu, cinta langsung tumbuh di antara mereka. Mereka berjanji untuk selalu bersama dan membangun kehidupan bahagia bersama-sama. Namun, takdir memiliki rencana lain. Raja Kediri, ayah Dewi Sekartaji, telah merencanakan agar putrinya menikah dengan seorang pria lain yang dianggapnya lebih layak menjadi pasangan putri kerajaan.
 
Tidak sanggup menerima pernikahan yang tidak diinginkan, Dewi Sekartaji memutuskan untuk melarikan diri dari istana. Dia menyamar sebagai seorang gadis biasa bernama Endang Rara Tompe dan menghilang ke tempat yang jauh dari kedatangan orang banyak.
 
Saat itu, Panji Asmarabangun yang tidak tahu keberadaan kekasihnya, merasa sangat sedih dan bertekad untuk mencari Dewi Sekartaji ke mana pun dia berada. Dalam perjalanannya, dia pun menyamar—kali ini sebagai manusia kera—untuk menghindari pengawasan dan dapat bergerak lebih leluasa.
 
Keajaiban membawa mereka bertemu kembali di tempat yang tidak terduga. Meskipun masing-masing menyembunyikan identitas aslinya, mereka merasa memiliki ikatan khusus dan menjadi akrab. Mereka saling merawat dan memberikan dukungan satu sama lain tanpa menyadari bahwa orang yang mereka jaga adalah kekasih yang lama mereka cari.
 
Suatu hari, Raja Kediri mengadakan sebuah sayembara besar dengan hadiah utama adalah Dewi Sekartaji akan menjadi istri untuk pemenang sayembara . Panji Asmarabangun, yang akhirnya mengetahui tentang acara tersebut, memutuskan untuk berpartisipasi dengan mengenakan identitas aslinya. Dengan keberanian dan keahliannya, dia berhasil memenangkan sayembara.
 
Pada saat pertemuan terakhir, Dewi Sekartaji juga mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya. Kedua kekasih itu sangat gembira dapat bertemu kembali dan menyadari bahwa cinta mereka telah mampu mengatasi segala rintangan. Raja Kediri, yang melihat kesetiaan dan kebaikan hati Panji Asmarabangun, akhirnya menyetujui pernikahan mereka.
 
Sejak itu, Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun hidup bahagia bersama. Kisah cinta mereka yang penuh perjuangan telah menjadi bagian penting dari warisan budaya Jawa dan mengilhami berbagai karya seni hingga kini.
 
 
 

Kamis, 05 Februari 2026

Kisah Prabu Aji Saka Dan Dewata Cengkar.

Pada abad ke-1 Masehi, wilayah Medang – tanah yang subur dengan sungai yang jernih dan hutan yang rindang – dikuasai oleh Dewata Cengkar, seorang makhluk gaib dengan kekuatan luar biasa. Dia bukan raja yang dipilih rakyat, melainkan penguasa yang datang dengan paksa dan mengklaim wilayah itu sebagai miliknya.
 
Dewata Cengkar dikenal sangat kejam: dia memaksa rakyat untuk menyerahkan separuh hasil panen mereka setiap bulan, memerintahkan kaum muda untuk bekerja tanpa bayaran membangun istana batu yang besar, dan jika ada yang berani menentangnya, dia akan berubah menjadi bentuk binatang buas seperti naga raksasa atau harimau belang raksasa untuk menghukum mereka. Rakyat hidup dalam ketakutan, tidak berani mengeluh atau bergerak bebas. Beberapa kali mereka mencoba mengangkat senjata, tetapi tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan Dewata Cengkar yang bisa mengendalikan angin dan tanah.
 
Pada suatu musim hujan, seorang pemuda gagah dengan janggut hitam rapi dan mata yang penuh kebijaksanaan tiba di wilayah Medang. Dia adalah Prabu Aji Saka, yang berasal dari tanah jauh dan telah mendengar tentang penderitaan rakyat Medang. Sebelum berangkat, dia bertemu dengan Dewa Brahma di dalam mimpi, yang memberinya sebuah senjata ajaib bernama Tombak Trisula Wisnu – tombak yang memiliki tiga mata tajam yang masing-masing mewakili kebenaran, kebaikan, dan perdamaian. Dewa Brahma juga memberinya nasihat: "Kekuatan fisik tidak akan mengalahkan kejamannya. Gunakan akal sehat dan kasih sayang untuk memenangkan pertempuran ini."
 
Setelah tiba, Prabu Aji Saka tidak langsung mencari Dewata Cengkar. Sebaliknya, dia menghabiskan beberapa hari untuk bertemu rakyat, mendengar keluhan mereka, dan membantu mereka dengan pekerjaan sehari-hari. Dia membantu petani menyiram ladang, mengobati orang sakit dengan tumbuhan obat, dan mengajarkan anak-anak cara membaca dan menulis. Rakyat mulai merasa harapan kembali dan melihat Prabu Aji Saka sebagai sosok yang bisa menyelamatkan mereka.
 
Ketika berita tentang kedatangannya sampai ke telinga Dewata Cengkar, dia sangat marah. "Siapa pemuda yang berani mengganggu kekuasaan saya?" teriaknya. Dia segera berubah menjadi naga raksasa dengan tubuh sebesar pohon beringin tua dan sisik yang berkilau seperti logam, lalu pergi mencari Prabu Aji Saka.
 
Pertarungan dimulai di dataran terbuka di dekat sungai Bengawan Solo. Dewata Cengkar dengan cepat menyerang dengan ekornya yang kuat, mencoba menghancurkan Prabu Aji Saka. Namun, Prabu Aji Saka dengan gesit menghindari serangan itu dan menggunakan kecepatannya untuk mengelilingi musuhnya.
 
Setelah serangan dengan bentuk naga tidak berhasil, Dewata Cengkar berubah menjadi harimau belang raksasa dengan gigi yang tajam seperti pisau dan cakar yang bisa mencakar batu. Dia melompat dengan cepat menuju Prabu Aji Saka, tetapi kali ini Prabu Aji Saka tidak menghindar – dia mengangkat Tombak Trisula Wisnu dan menyuarakan kata-kata doa. Tombak itu memancarkan cahaya keemasan yang membuat harimau tidak bisa melihat dengan jelas.
 
Pertarungan berlangsung selama tiga hari dan tiga malam. Dewata Cengkar terus berubah bentuk – kadang menjadi ular raksasa, kadang menjadi burung elang besar, bahkan pernah menjadi badai pasir yang menghalangi pandangan. Prabu Aji Saka tidak pernah menyerah; dia menggunakan strategi berbeda untuk setiap bentuk musuhnya. Ketika Dewata Cengkar menjadi badai pasir, Prabu Aji Saka menggunakan kekuatan tombaknya untuk memanggil hujan yang menyiram pasir dan membuatnya menetap. Ketika dia menjadi ular raksasa, Prabu Aji Saka menggunakan tali dari kulit pohon untuk mengikat tubuhnya tanpa menyakitinya.
 
Pada hari keempat, ketika kedua belah pihak sudah lelah, Dewata Cengkar kembali ke bentuk aslinya – seorang pria tinggi dengan wajah kasar dan mata yang penuh kemarahan. "Mengapa kamu terus melawan saya?" tanyanya dengan suara yang bergema. "Saya adalah yang paling kuat di wilayah ini! Saya layak memerintah!"
 
Prabu Aji Saka menjatuhkan tombaknya dan mendekatinya dengan tenang. "Kekuatan tidak membuat seseorang layak memerintah," jawabnya dengan suara yang jelas dan penuh rasa hormat. "Seorang pemimpin harus melayani rakyatnya, bukan menyiksa mereka. Lihatlah tanah ini – ia subur dan bisa memberi makan semua orang, tetapi kamu membuat rakyat hidup dalam kelaparan dan ketakutan. Apa yang kamu dapatkan dengan kekuasaan yang tidak disukai rakyat?"
 
Dengar kata-kata itu, Dewata Cengkar merasa tersentuh. Untuk pertama kalinya, dia melihat wajah-wajah rakyat Medang yang tidak lagi penuh ketakutan, tetapi penuh harapan. Dia menyadari bahwa selama ini dia telah menggunakan kekuatannya dengan salah. Tanpa berkata apa-apa, dia menjentikkan jari dan istana batu yang dia perintahkan dibangun berubah menjadi taman yang indah dengan berbagai macam bunga. "Aku mengakui kekalahan saya," ujarnya dengan suara yang lembut. "Aku akan menyerahkan kekuasaan kepadamu dan membantu rakyat Medang sebagai penjaga tanah dan sungai."
 
Setelah itu, Prabu Aji Saka mendirikan kerajaan Medang dan menjadi raja yang adil dan bijaksana. Dia membuat peraturan yang menguntungkan rakyat, membangun tempat ibadah, sekolah, dan tempat perlindungan bagi orang miskin. Dewata Cengkar benar-benar berubah – dia menjadi penjaga kerajaan yang setia dan menggunakan kekuatannya untuk melindungi tanah dari bencana alam seperti banjir dan gempa bumi.
 
Rakyat Medang hidup bahagia dan makmur. Kisah kemenangan Prabu Aji Saka atas Dewata Cengkar menjadi legenda yang diceritakan dari generasi ke generasi, menjadi simbol bahwa kekuatan sejati bukanlah untuk menindas, melainkan untuk melayani dan membawa kebaikan bagi semua orang. Kerajaan Medang kemudian menjadi cikal bakal kerajaan-kerajaan besar yang muncul di Jawa setelahnya.