Rabu, 18 Maret 2026

Dewi Saraswati: Dewi Pengetahuan.

Di dalam Mitologi Hindu, Dewi Saraswati dikenal sebagai istri Bhatara Brahma, Sang Pencipta Alam Semesta. Ia adalah Dewi pelindung sekaligus pelimpah berkat pengetahuan, kesadaran yang dalam (widya), dan kesusastraan yang mulia. Tanpa anugerah dari Dewi Saraswati, manusia tidak akan mampu mengembangkan diri menjadi makhluk yang beradab dan memiliki kebudayaan yang kaya. Kehadiran-Nya menjadi pijakan dasar bagi segala bentuk perkembangan ilmu pengetahuan, baik yang bersifat material maupun spiritual, yang mengantarkan manusia pada tingkat kematangan hidup yang lebih tinggi.
 
Dewi Saraswati digambarkan sebagai sosok wanita yang luar biasa cantik dengan bentuk tubuh yang anggun dan mulia, memiliki empat tangan yang masing-masing memegang atribut yang penuh dengan makna mendalam. Di salah satu tangannya, Ia memegang Genitri atau yang lebih dikenal dengan tasbih, sebuah gelang manik-manik yang menjadi simbol kesadaran dan perenungan. Tangan lainnya memegang Kropak atau lontar, yaitu lembaran tulisan kuno yang menyimpan segala bentuk ajaran suci dan pengetahuan warisan nenek moyang. Salah satu tangan lagi memegang Wina, sebuah alat musik yang mirip dengan rebab atau gitar, yang menjadi lambang harmoni dan keindahan alam semesta. Sedangkan tangan terakhir memegang sekuntum bunga teratai yang mekar dengan indah, melambangkan kesucian dan kemurnian hati. Di dekatnya biasanya terdapat dua jenis burung yang menjadi teman setia dan wahana-Nya, yaitu burung merak yang memiliki bulu berwarna-warni indah, serta undan atau swan, burung besar yang mirip dengan angsa namun mampu terbang tinggi menjelajahi alam semesta yang luas.
 
Untuk menghormati dan memanjatkan rasa syukur kepada Dewi Saraswati sebagai Sumber Segala Ilmu Pengetahuan, masyarakat yang taat menjalankan ajaran Hindu khususnya di Bali selalu melaksanakan upacara yang penuh dengan kesakralan pada hari yang dipercaya sebagai hari turunnya keberadaan-Nya. Pada saat perayaan tiba, seluruh pustaka, lontar-lontar kuno, buku-buku pelajaran, serta alat-alat tulis yang mengandung ajaran agama, kesusilaan, dan nilai-nilai luhur lainnya akan dibersihkan dengan seksama, kemudian dikumpulkan dan diatur dengan rapi pada suatu tempat yang dianggap suci. Tempat tersebut bisa berada di dalam pura yang kudus, di komplek pemerajan, atau di dalam bilik khusus yang telah disiapkan untuk diupacarai dengan penuh penghormatan.
 
Persembahan atau Widhi widhana yang disiapkan untuk Dewi Saraswati sangat beragam dan penuh dengan makna. Di antaranya adalah peras daksina yang menjadi simbol penghormatan kepada para leluhur dan kekuatan ilahi, bebanten yang merupakan sesajen berupa kain yang dilipat dengan cara khusus, serta sesayut Saraswati yang dirangkai dengan indah dari berbagai bahan alami. Tak ketinggalan juga rayunan putih kuning yang melambangkan kemurnian dan kemakmuran, canang-canang sebagai sarana komunikasi spiritual, pasepan yang berisi makanan ringan, tepung tawar yang menjadi simbol kesucian, berbagai jenis bunga yang mewakili keindahan dan keharmonisan alam, sesangku atau samba berupa gelas yang diisi dengan air suci, air suci murni yang membersihkan jiwa dan raga, serta bija atau beras kuning yang menjadi lambang kesuburan dan kelimpahan berkah. Bagi mereka yang ingin memohon berkah Tirtha Saraswati, pemujaan dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan utama berupa air yang telah disucikan, bija beras, menyan astanggi yang memberikan aroma harum dan kesegaran, serta bunga-bunga segar yang menjadi simbol penghormatan dan cinta.
 
Secara periodik setiap 210 hari sekali, sesuai dengan perhitungan sistem kalender pawukon Bali, setiap hari Sabtu (Saniscara) Umanis (Legi) Watugunung diperingati sebagai hari raya Saraswati, yaitu hari turunnya ilmu pengetahuan suci ke alam duniawi. Pada bulan Februari tahun ini, perayaan hari raya yang mulia ini jatuh tepat pada tanggal 27. Sebagai wujud rasa bhakti yang tulus dan pelayanan yang suci kepada Sumber Segala Ilmu Pengetahuan, baik yang bersifat material maupun spiritual, masyarakat memuja Dewi Saraswati dengan mengangkatnya sebagai personifikasi dari kekuatan ilahi yang memberikan pencerahan bagi kehidupan manusia. Di dalam alam pikiran setiap orang yang beribadah, sosok Dewi Saraswati yang anggun nan cantik menjadi gambaran konkret dari segala kebaikan dan kebenaran yang terkandung dalam ilmu pengetahuan.
 
Terdapat tujuh makna simbolis yang dalam terkandung dari perwujudan Dewi Saraswati yang memukau tersebut, di mana Ia selalu tampil dengan busana putih bersih yang memberikan kesan suci dan mulia, sambil memainkan alat musik Wina, memegang kitab pustaka Kropak, Genitri atau aksamala, serta bunga teratai, didampingi oleh burung merak dan angsa putih yang menjadi wahana-Nya. Semua simbol ini merupakan perwujudan dari kehendak TUHAN Yang Maha Esa untuk memberikan anugerah pengetahuan dan kebahagiaan kepada umat manusia, menjadikan segala sesuatu ada dengan makna dan tujuan yang jelas, serta penuh dengan keutamaan yang tinggi.
 
Pertama, penampilan Dewi Saraswati yang cantik dengan busana putih bersih yang berkilauan melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu memiliki nilai yang sangat mulia dan selalu menarik untuk dipelajari oleh siapapun, tanpa memandang latar belakang atau kedudukan seseorang. Kedua, alat musik Wina atau sejenis gitar yang dimainkan-Nya melambangkan bahwa unsur mutlak dari ilmu pengetahuan berasal dari hukum alam yang telah tercipta melalui melodi alami dan citarasa seni yang indah dari Sang Pencipta, yang selalu mengajak manusia untuk hidup dalam keharmonisan dengan alam sekitar. Ketiga, kitab suci atau Kropak yang dipegang-Nya melambangkan bahwa segala bentuk petunjuk ajaran suci telah tertuang dengan jelas sebagai sumber ilmu pengetahuan, baik yang berkaitan dengan kehidupan duniawi maupun kehidupan spiritual yang kekal.
 
Keempat, Genitri atau aksamala yang menjadi tasbih melambangkan bahwa ilmu pengetahuan memiliki sifat yang kekal dan tidak terbatas batasnya, tidak akan pernah ada akhirnya atau habis-habisnya untuk dipelajari oleh manusia, sehingga setiap orang harus selalu bersedia untuk belajar sepanjang hayat. Kelima, bunga teratai yang menjadi salah satu atribut-Nya melambangkan kesucian ilmu pengetahuan yang murni dan tidak tercela, yang harus selalu dijaga keasliannya agar tidak disalahgunakan untuk tujuan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Keenam, burung merak yang menjadi teman setia Dewi Saraswati melambangkan bahwa ilmu pengetahuan akan memberikan suatu kewibawaan bagi setiap orang yang telah benar-benar memahami dan menguasainya dengan baik, sehingga mampu menjadi contoh serta memberikan manfaat bagi banyak orang. Ketujuh, angsa putih atau swan yang menjadi wahana-Nya melambangkan bahwa ilmu pengetahuan berfungsi sebagai petunjuk yang cerdas untuk membantu manusia bersikap bijaksana dalam setiap langkah hidupnya, terutama dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara kebenaran dan kebohongan.
 
Simbol perwujudan Dewi Saraswati yang cantik nan anggun dengan berlengan empat dan bermacam-macam atribut yang dipegang-Nya mengandung makna filosofis yang sangat mendalam, yaitu bahwa TUHAN Yang Maha Esa adalah satu-satunya sumber kebenaran mutlak dari segala jenis ilmu pengetahuan yang ada di alam semesta, serta menjadi sumber wahyu suci yang telah terhimpun dengan rapi dalam berbagai kitab suci dan ajaran agama yang ada di dunia. Setiap gambaran simbolis tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi yang tidak hanya menjadi landasan bagi kehidupan beragama, melainkan juga sebagai panduan untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang lebih baik, beradab, dan memiliki kontribusi positif bagi kemajuan peradaban manusia secara keseluruhan.
 

Selasa, 17 Maret 2026

Kisah Legendaris Calonarang.

Alkisah di masa lalu, hiduplah seorang wanita bernama Calonarang yang dikenal sebagai penyihir sakti mandraguna di wilayah kerajaan Kediri. Meskipun ia memiliki kekuatan luar biasa dan bisa berubah menjadi makhluk menyeramkan bernama Leak, hati Calonarang dipenuhi dengan rasa kecewa dan kemarahan yang mendalam. Sebab, anak perempuannya yang cantik bernama Ratna Manggali telah menginjak usia dewasa namun tidak seorang pun pemuda yang berani datang untuk melamarnya. Bagi Calonarang, hal ini bukan hanya masalah kehormatan keluarga, melainkan juga ancaman bagi kelangsungan garis keturunan putrinya yang tercinta.
 
Pemuda-pemuda di sekitar sana tak punya keberanian untuk mendekati Ratna Manggali bukan karena alasan lain selain reputasi Calonarang yang terkenal suka menggunakan ilmu hitam dan menyembah Dewi Durga sebagai kekuatan yang mendasari kesaktiannya. Nama Calonarang sendiri sudah cukup membuat orang-orang merasa gentar, sehingga tak seorang pun berani mengambil risiko untuk menjadi menantunya. Hari demi hari berlalu, dan rasa murka dalam hati Calonarang semakin membesar seiring dengan ketidakmampuannya untuk memberikan masa depan yang layak bagi anak perempuannya.
 
Akhirnya, kesabaran Calonarang habis. Dalam amarah yang tak terkendali, ia memerintahkan semua muridnya untuk menyebarkan penyakit ke seluruh pesisir kerajaan Kediri. Tindakan ini dilakukan pada tengah malam, saat semua penduduk sedang tertidur lelap tanpa curiga akan bahaya yang akan datang. Tak butuh waktu lama, wabah atau yang dikenal dengan sebutan Gerubug menyebar dengan cepat ke setiap sudut desa, membuat kondisi masyarakat menjadi kacau balau dan tak terkendali. Banyak orang yang jatuh sakit, kehidupan yang dulunya damai pun terganggu total oleh bencana yang tak terduga ini.
 
Melihat kondisi yang semakin memburuk dan tidak ada tanda-tanda perbaikan, para tetua Desa Girah akhirnya mengadakan musyawarah untuk mencari solusi. Setelah berdiskusi dengan cermat, mereka memutuskan untuk memohon pertolongan dan perhatian dari Raja Airlangga, harapannya adalah sang raja akan datang langsung ke desa untuk melihat kondisi masyarakat yang sedang menderita akibat serangan wabah tersebut. Raja Airlangga yang dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan penuh perhatian terhadap rakyatnya, segera merespon panggilan dari para tetua desa dan datang untuk melihat keadaan secara langsung.
 
Setelah menyaksikan sendiri betapa parahnya penderitaan yang dialami oleh rakyatnya, Raja Airlangga bertekad untuk mengakhiri masalah ini dengan cara yang damai. Ia kemudian memutuskan untuk mengirim Empu Bahula, seorang tokoh spiritual yang terhormat, untuk menikahi Ratna Manggali. Raja Airlangga berharap bahwa dengan pernikahan ini, hati Calonarang akan kembali tenang dan ia akan berhenti menebarkan penyakit serta kesusahan kepada masyarakat.
 
Ketika berita pernikahan putrinya dengan Empu Bahula sampai ke telinga Calonarang, ia langsung merasa senang dan lega. Rasa murka yang selama ini menghuni hatinya lenyap begitu saja digantikan oleh kegembiraan yang luar biasa. Ia segera menyuruh mengadakan pesta besar-besaran yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, di mana seluruh masyarakat diundang untuk merayakan kebahagiaan putrinya. Selama pesta berlangsung, suasana penuh keceriaan dan kebahagiaan; Calonarang merasa puas karena akhirnya bisa memberikan kebahagiaan bagi Ratna Manggali, sementara Ratna Manggali dan Empu Bahula pun menemukan cinta sejati satu sama lain dan hidup dalam kedamaian.
 
Namun, setelah pesta pernikahan selesai dan kehidupan kembali memasuki jalur normal, Empu Bahula mulai merasa penasaran akan sumber kesaktian yang dimiliki oleh ibu mertuanya. Suatu hari, ia bertanya kepada Ratna Manggali mengapa Calonarang bisa memiliki kekuatan sakti yang begitu besar. Dengan jujur, Ratna Manggali menjelaskan bahwa kesaktian ibunya terletak pada sebuah kitab sihir yang sangat sakral. Melalui kitab tersebut, Calonarang bisa berkomunikasi dan memanggil Bhatari Durga untuk memberikan kekuatan serta perlindungan. Kitab sihir itu menjadi bagian tak terpisahkan dari Calonarang dan tidak pernah lepas dari genggamannya.
 
Setelah mengetahui rahasia tersebut, Empu Bahula merasa bahwa untuk mencegah terjadinya kesusahan di masa depan, ia perlu mengambil tindakan. Ia segera merencanakan sebuah siasat untuk mencuri kitab sihir tersebut dari Calonarang. Pada suatu malam yang sunyi dan sepi, Empu Bahula menyelinap dengan hati-hati ke kamar Calonarang dan berhasil mengambil kitab sihir yang tersimpan dengan aman. Setelah berhasil mendapatkan kitab tersebut, ia segera menyerahkannya kepada ayahnya yang lebih berpengalaman, Empu Baradah, dengan harapan agar kitab tersebut bisa disimpan dengan baik dan tidak lagi digunakan untuk tujuan yang merugikan.
 
Ketika Calonarang menyadari bahwa kitab sihirnya yang sangat berharga telah dicuri, rasa murka yang pernah hilang kembali muncul dengan kekuatan yang lebih besar. Ia merasa telah dikhianati dan dengan marah menantang Empu Baradah untuk bertarung secara langsung. Pertarungan antara kedua tokoh yang sakti ini berlangsung sangat sengit dan penuh dengan kekuatan supranatural yang luar biasa. Setelah berlangsung cukup lama, akhirnya pertarungan tersebut dimenangkan oleh Empu Baradah, yang berhasil mengalahkan dan menewaskan Calonarang.
 
Sejak saat itu, kehidupan masyarakat di sekitar kerajaan Kediri kembali pulih dan menjadi lebih damai serta aman. Ancaman ilmu hitam yang selama ini mengganggu ketenangan mereka pun lenyap begitu saja. Kisah Calonarang kemudian terus hidup dalam ingatan masyarakat, tidak hanya sebagai cerita tentang kekuatan dan kemarahan, melainkan juga sebagai pengingat akan pentingnya keseimbangan, kasih sayang, dan bagaimana tindakan kita bisa memberikan dampak besar bagi kehidupan orang lain di sekitar kita.
 

Kisah Dewi Durga Menjadi Penguasa Kuburan.

Sejak zaman dahulu kala, keberadaan kuburan atau yang lebih dikenal dengan sebutan setra di tanah Bali selalu menyimpan misteri yang dalam, tak hanya sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi tubuh manusia, melainkan juga sebagai tempat tinggal bagi kekuatan spiritual yang sakral dalam kepercayaan Hindu. Di balik kesan yang kerap dianggap menyeramkan, masyarakat Bali meyakini bahwa tidak hanya di pura terdapat dewa yang berstana, melainkan di setiap sudut alam semesta, termasuk di dalam kuburan, terdapat kekuatan Tuhan beserta para pengikutnya yang menjalankan tugas khusus sesuai dengan kodrat yang telah ditetapkan.
 
Asal muasal keberadaan sang penguasa kuburan, Dewi Durga, telah dicatat dengan jelas dalam salah satu lontar kuno bernama Lontar Andhabhuwana. Kisahnya bermula dari sosok Dewi Uma, sang istri Bhatara Siwa, yang pada awalnya tinggal bersama sang suami di Kahyangan atau alam para dewa yang penuh dengan kedamaian dan kemuliaan. Namun, sebuah peristiwa tak terduga mengubah seluruh nasibnya, menjadikannya Dewi Durga yang harus tinggal menetap di kuburan hingga saatnya tiba untuk kembali ke Siwa Loka setelah melalui proses pembersihan dan penyucian diri.
 
Pada suatu hari, Bhatara Siwa memerintahkan Dewi Uma untuk mencari susu yang memiliki bobot cukup berat, sebuah tugas yang tidaklah mudah dan membutuhkan pengorbanan besar. Untuk memenuhi permintaan sang suami yang disegani, Dewi Uma rela merendahkan diri dan melayani seorang pengembala dengan sepenuh hati, hanya untuk mendapatkan susu yang diminta. Setelah melalui berbagai kesulitan dan usaha yang luar biasa, akhirnya Dewi Uma berhasil memperoleh susu tersebut dan kembali ke Kahyangan untuk menyerahkannya kepada Bhatara Siwa.
 
Ketika saatnya tiba untuk memberikan penjelasan tentang bagaimana ia mendapatkan susu tersebut, Dewi Uma memutuskan untuk tidak menyebutkan asal-usul sebenarnya. Ia berusaha menyembunyikan fakta bahwa ia telah melayani pengembala untuk memperolehnya. Namun, kebenaran takkan pernah bisa tersembunyi selamanya. Melalui tenung Aji Saraswati yang dimiliki oleh Dewa Ganesha, putra kesayangannya, seluruh peristiwa yang telah dilalui oleh Dewi Uma terungkap dengan jelas. Dewa Ganesha dengan jujur membeberkan bagaimana ibunya memperoleh susu tersebut, tanpa menyembunyikan satu pun detailnya.
 
Mendengar penjelasan dari Dewa Ganesha dan menyadari bahwa rahasianya telah terbongkar, kemarahan meluap dari dalam diri Dewi Uma. Dalam amarahnya yang tak terkendali, ia langsung menghancurkan tenung Aji Saraswati hingga menjadi abu dengan menggunakan kekuatan api kemarahannya. Tindakan tersebut dan usaha Dewi Uma untuk berbohong mengenai asal-usul susu telah membangkitkan kemarahan besar dari Bhatara Siwa. Sang Dewa Yang Mahakuasa merasa sangat kecewa dengan sikap istri terkasihnya yang telah melanggar prinsip kejujuran dan memiliki keberanian untuk menghancurkan benda sakral seperti tenung Aji Saraswati. Akibat dari kemarahan tersebut, Bhatara Siwa kemudian mengutuk Dewi Uma untuk turun ke dunia dan menjelma menjadi Dewi Durga, yang harus tinggal di antara manusia dan menjaga wilayah kuburan sebagai tempat tinggalnya.
 
Setelah turun ke dunia dan menjelma sebagai Dewi Durga, ia kemudian berstana di dalam kuburan dan diiringi oleh sebanyak 108 Bhuta-Bhuti yang setia, masing-masing dengan nama dan ciri khas tersendiri. Di antara para pengikutnya yang terhormat adalah bhùta banaspati, yamapati, mregapati, banaspatiraja, bhùta saliwah, bhùta salah rupa, bhùta Enjek-pupu, Tangan-tangan, Laweyan, Kumangmang, Anja-anja, Mamedi, bhùta Sungsang, Udug-Basur, Ileg-ileg, Papengkah, Barong Asepek, I Gagendu, Suku-tunggal, kakawa, Mretyu, Togtogsil, Raregek, Raparayu, Kala Ngadang, bhùta Tan-pakuping, hingga bhùta Bungut-sasibak. Setiap nama yang tercantum mewakili kekuatan spiritual yang memiliki peran penting dalam menjalankan tugas bersama Dewi Durga.
 
Tugas utama yang diberikan kepada Dewi Durga dan para pengikutnya adalah menebarkan penyakit, menciptakan kekeringan, serta berbagai jenis kebencanaan di dunia. Namun, tidak semua manusia menjadi sasaran dari tindakan tersebut, karena sasaran utama dari segala sesuatu yang mereka lakukan adalah manusia yang telah lupa akan akar sejarah dan tugas utama mereka sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yaitu untuk selalu berbhakti dan mengingat-Nya setiap saat. Bukan tanpa alasan, penyakit dan kebencanaan yang diciptakan oleh Dewi Durga dan para pengikutnya memiliki tujuan yang dalam, yaitu untuk menyadarkan manusia agar tidak terus-terusan terjebak dalam kesibukan duniawi yang hanya sementara, dan kembali kepada jalan yang benar dengan selalu mengingat serta berbhakti kepada Sang Pencipta.
 
Untuk mengurangi gangguan yang mungkin ditimbulkan oleh kekuatan Dewi Durga dan para pengikutnya, masyarakat Bali yang taat menjalankan ajaran Hindu melakukan upacara khusus yang dikenal dengan nama butha yadnya. Upacara ini bukanlah sebagai bentuk penghindaran atau pemusnahan kekuatan tersebut, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan komunikasi spiritual agar kekuatan yang ada di dalam kuburan dapat memberikan kesejahteraan dan keselamatan bagi kehidupan manusia di dunia, serta mengingatkan setiap orang untuk selalu menjaga kesucian hati dan tetap berpegang teguh pada ajaran agama yang diyakini. Seiring berjalannya waktu, kisah Dewi Durga dan keberadaan kekuatan spiritual di dalam kuburan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan kepercayaan masyarakat Bali, yang terus dilestarikan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bentuk penghormatan terhadap kekuatan Tuhan yang mengatur alam semesta.
 
 
 

Prabu Aji Saka.

Di zaman dahulu kala, ketika Tanah Jawa masih dikenal sebagai tanah yang penuh misteri dan dikuasai oleh kekuasaan yang tak manusiawi, muncul sosok legendaris yang akan mengubah wajah peradaban pulau itu selamanya. Beliau adalah Prabu Aji Saka, tokoh yang tidak hanya membawa terang ke dalam kegelapan, tetapi juga menyisakan warisan yang hingga kini masih hidup dalam kehidupan masyarakat Jawa dan Bali, bahkan menjadi dasar bagi salah satu hari raya paling sakral di Nusantara. Menurut cerita yang turun temurun dari satu generasi ke generasi, Aji Saka berasal dari Bumi Majeti, sebuah negeri antah-berantah yang berada jauh di luar batas wilayah yang dikenal manusia kala itu. Negeri itu dipercaya sebagai tempat dimana para leluhur yang memiliki kemampuan luar biasa tinggal, dan Aji Saka sendiri datang ke Tanah Jawa dengan tujuan mulia: untuk menyebarkan peradaban, membawa keadilan, dan mengakhiri masa kegelapan yang melanda tanah air.
 
Pada saat kedatangan Aji Saka, Tanah Jawa bagian tengah yang kemudian dikenal sebagai Medang Kamulan dikuasai oleh Prabu Dewata Cengkar, seorang raja raksasa yang memerintah dengan tangan besi dan kekuasaan yang lalim. Rakyat hidup dalam ketakutan dan penderitaan, tidak ada keadilan yang bisa mereka harapkan, dan setiap hari menjadi perjuangan untuk bertahan hidup. Prabu Dewata Cengkar menggunakan kekuatan fisiknya yang luar biasa untuk menindas siapapun yang berani menentangnya, dan tidak seorang pun berani mengangkat suara untuk melawan kekejamannya. Namun, kedatangan Aji Saka membawa harapan baru bagi rakyat Medang Kamulan. Dengan kemampuan luar biasa yang dimilikinya—baik dalam hal kebijaksanaan, kekuatan spiritual, maupun keahlian dalam peperangan—Aji Saka menghadapi Prabu Dewata Cengkar dalam sebuah pertarungan epik yang menjadi legenda. Pertarungan itu berlangsung selama berhari-hari, dengan tanah berguncang dan langit berkobar karena kekuatan yang dilepaskan oleh kedua tokoh tersebut. Pada akhirnya, kebaikan dan keadilan yang diwakili oleh Aji Saka mengalahkan kekerasan dan keserakahan Prabu Dewata Cengkar. Setelah sang raja raksasa dikalahkan, rakyat Medang Kamulan merayakan kemenangan dengan penuh sukacita, dan mereka secara sepakat mengangkat Aji Saka sebagai raja baru yang akan memimpin mereka menuju masa depan yang lebih baik.
 
Setelah menjabat sebagai raja, Aji Saka segera melakukan serangkaian perubahan besar yang mengubah wajah peradaban Jawa secara menyeluruh. Ia membangun sistem pemerintahan yang berdasarkan keadilan dan rasa hormat terhadap semua lapisan masyarakat, memperkuat hubungan antar suku bangsa, dan menyebarkan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Salah satu kontribusi terbesar yang diberikan oleh Prabu Aji Saka adalah penciptaan Kalender Saka, sebuah sistem penanggalan yang kemudian menjadi dasar bagi perhitungan waktu dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Kalender ini diperkenalkan oleh Aji Saka pada tahun 456 Masehi, dan sejak saat itu menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan tradisi daerah Jawa serta Bali. Salah satu manifestasi paling nyata dari penggunaan Kalender Saka adalah perayaan Nyepi, hari raya Tahun Baru Saka yang dirayakan dengan penuh kesakralan setiap tahunnya. Dalam perayaan ini, masyarakat mengikuti ajaran catur brata penyepian yang terdiri dari empat larangan utama: amati geni yang melarang penggunaan sumber api dan cahaya yang tidak perlu, amati karya yang mengajak untuk berhenti dari segala aktivitas pekerjaan dan kegiatan duniawi, amati lelungan yang melarang bepergian keluar rumah atau melakukan perjalanan, serta amati lelanguan yang mengajak untuk menghindari segala bentuk kesenangan duniawi dan fokus pada refleksi diri. Melalui catur brata ini, umat berusaha untuk membersihkan diri dari segala kotoran rohani dan menyambut tahun baru dengan hati yang suci dan pikiran yang jernih.
 
Selain kontribusinya dalam bidang penanggalan dan keagamaan, Aji Saka juga dikenal sebagai pencipta aksara Jawa yang terkenal dengan nama "Hanacaraka". Aksara ini diciptakan bukan hanya sebagai alat untuk menuliskan bahasa Jawa, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan yang mendalam kepada dua abdinya yang setia, Dora dan Sembada. Pada suatu hari, ketika Aji Saka sedang dalam perjalanan untuk menyebarkan ajaran peradaban ke pelosok negeri, beliau memberikan amanah penting kepada Dora dan Sembada untuk menjaga sebuah benda berharga yang menjadi simbol kekuatan dan keadilan kerajaan. Namun, dalam perjalanan pulang, kedua abdi tersebut ditemui oleh sekelompok penjahat yang ingin mencuri benda berharga itu. Meskipun mereka tahu bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan penjahat tersebut, Dora dan Sembada tidak pernah berpikir untuk menyerah atau mengkhianati amanah yang diberikan oleh Prabu Aji Saka. Mereka berjuang dengan sekuat tenaga hingga akhirnya tewas dalam pertempuran, namun berhasil menyelamatkan benda berharga tersebut dan menjaga kehormatan mereka sebagai abdi yang setia. Setelah mendengar kabar tentang pengorbanan Dora dan Sembada, Aji Saka merasa sangat sedih namun juga bangga dengan kesetiaan yang diberikan oleh kedua abdinya. Untuk mengenang jasa dan pengorbanan mereka, beliau menciptakan aksara Jawa dengan susunan huruf yang pertama kali membentuk kata "Hanacaraka", yang merupakan singkatan dari nama-nama tokoh atau konsep yang memiliki makna mendalam terkait kesetiaan dan pengorbanan. Aksara Hanacaraka kemudian menjadi alat penting untuk menyimpan dan menyebarkan pengetahuan, sastra, dan budaya Jawa selama berabad-abad, menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
 
Kisah Prabu Aji Saka tidak hanya menjadi bagian dari legenda yang diceritakan dari mulut ke mulut, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya tentang pentingnya keadilan, kesetiaan, dan kontribusi bagi kemajuan peradaban. Warisan yang beliau tinggalkan—baik dalam bentuk Kalender Saka, perayaan Nyepi, maupun aksara Hanacaraka—hanya sedikit dari bukti bahwa pengaruh beliau masih terasa hingga hari ini, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya bangsa Indonesia.

Jumat, 13 Maret 2026

Dewi Durga.

Pada zaman dahulu kala, ketika alam semesta masih dalam tahap pembentukan dan keseimbangan, alam semesta sering terganggu oleh kekuatan gelap yang haus akan kekuasaan, energi feminin yang maha kuasa—Shakti—muncul dalam wujud yang dahsyat dan mulia bernama Dewi Durga. Beliau adalah sakti dari Bhatara Siwa, Sang pelebur segala sesuatu, dan dikenal sebagai pelindung yang tak terkalahkan dari segala bentuk kejahatan yang mengancam keharmonisan alam dan kehidupan. Dengan kulit yang berwarna kuning keputihan yang memancarkan kilauan keagungan, Dewi Durga sering digambarkan menunggangi harimau atau singa yang gagah perkasa—simbol kekuatan, keberanian, dan kesetiaan yang selalu menemani beliau dalam setiap perjuangan melawan kegelapan. Tubuh beliau dihiasi oleh banyak tangan, masing-masing memegang senjata yang diberikan oleh para dewa, menjadi bukti bahwa beliau adalah perwujudan kekuatan kolektif dari seluruh alam semesta, melambangkan kemenangan mutlak kebaikan atas kejahatan serta kekuatan keibuan yang mencipta, melindungi, dan menjaga segala sesuatu yang ada.
 
Dewi Durga tidak muncul begitu saja dalam wujud yang dahsyat itu. Beliau sering disebut sebagai perwujudan dari krodha—rasa marah yang terkendali dan penuh tujuan—dari Dewi Parwati atau Uma, sang istri yang lembut dan penuh kasih sayang dari Bhatara Siwa. Saat alam semesta diancam oleh raksasa Mahishasura yang kejam dan sombong, yang telah mendapatkan berkah bahwa ia tidak dapat dikalahkan oleh makhluk laki-laki, para dewa merasa putus asa karena tidak ada yang mampu menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh kerbau raksasa itu. Mahishasura telah menghancurkan banyak desa, merusak pura-pura suci, dan menyiksa masyarakat dengan kejam, menyatakan bahwa dirinya adalah penguasa yang layak atas seluruh alam semesta.
 
Melihat penderitaan yang dialami oleh ciptaan mereka, para dewa berkumpul dan memutuskan untuk menggabungkan seluruh kekuatan spiritual mereka untuk menciptakan seorang pelindung yang mampu mengalahkan Mahishasura. Dari tubuh setiap dewa keluar cahaya yang menyilaukan, dan cahaya-cahaya itu berkumpul menjadi satu, membentuk sosok wanita yang megah dan penuh kekuatan—Dewi Durga. Setiap dewa memberikan senjata terbaik mereka kepada beliau: Bhatara Wisnu memberikan cakra yang tajam dan mampu menghancurkan segala sesuatu yang menyentuhnya; Bhatara Siwa memberikan trisula yang kuat untuk menusuk kegelapan; Bhatara Agni memberikan pedang yang menyala dengan nyala api yang tak padam; Bhatara Vayu memberikan busur dan anak panah yang dapat melesat dengan kecepatan angin; sementara para dewa lainnya memberikan senjata dan perlengkapan perang yang tak terhitung jumlahnya. Dengan delapan tangan yang masing-masing memegang senjata yang sakti, Dewi Durga berdiri gagah di atas tubuh kerbau raksasa Mahishasura, siap untuk menghadapi pertempuran yang akan menentukan nasib alam semesta.
 
Dalam pertempuran yang dahsyat dan berlangsung selama sembilan hari sembilan malam, Dewi Durga menunjukkan kekuatan dan keahlian peperangan yang luar biasa. Mahishasura berubah-ubah bentuk dengan canggih, terkadang menjadi kerbau yang ganas, terkadang menjadi raksasa yang besar, dan terkadang menjadi binatang buas lainnya, namun tidak satu pun bentuk itu mampu mengalahkan Dewi Durga. Dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa, beliau menghindari setiap serangan yang dilakukan oleh iblis dan memberikan serangan balik yang mematikan. Pada hari kesepuluh—yang kemudian dikenal sebagai Vijayadashami—Dewi Durga akhirnya berhasil menusuk dada Mahishasura dengan trisula-nya, mengakhiri kejahatan yang telah merajalela dan menyelamatkan alam semesta dari kehancuran total. Kemenangan ini menjadi simbol bahwa kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan, bahkan ketika lawan yang dihadapi tampaknya tidak dapat dikalahkan.
 
Sebagai dewi pelindung, pertempuran, dan kekuatan kosmik, peran Dewi Durga jauh melampaui sekadar mengalahkan raksasa. Beliau adalah kekuatan yang menciptakan kehidupan, memelihara keseimbangan alam semesta, dan menghancurkan segala sesuatu yang menghalangi pertumbuhan serta kedamaian. Beliau dipuja sebagai ibu semesta yang menyayangi dan melindungi seluruh ciptaan-Nya, memberikan kekuatan dan keberanian kepada mereka yang menghadapi kesulitan dan ujian dalam hidup.
 
Di Nusantara, khususnya di Jawa dan Bali, pemujaan terhadap Dewi Durga telah ada sejak zaman kuno. Arca-arca beliau banyak ditemukan di berbagai candi Hindu, dengan yang paling terkenal adalah Arca Roro Jonggrang di kompleks Candi Prambanan di Jawa Tengah. Arca ini menggambarkan keanggunan dan kekuatan Dewi Durga dengan sangat indah, menjadi bukti bahwa pengaruh ajaran Hindu dan pemujaan terhadap beliau telah meresap dalam budaya dan kehidupan masyarakat setempat. Di Bali, beliau sangat dihormati, dan banyak pura didirikan untuk menyembahnya. Salah satu tempat yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya Dewi Durga adalah Pura Kayangan Jagat Bukit Dharma atau yang lebih dikenal sebagai Durga Putri, di mana masyarakat datang untuk memohon perlindungan, keselamatan, dan berkah dalam kehidupan mereka sehari-hari serta dalam menjalankan ibadah.
 
Untuk menghormati kebesaran dan kemenangan Dewi Durga, terdapat festival-festival utama yang dirayakan dengan penuh semangat di seluruh dunia Hindu. Durga Puja adalah festival besar yang dirayakan terutama di wilayah Bengal dan sebagian India lainnya, di mana patung-patung Dewi Durga dibuat dengan indah dan dipajang di paviljong-paviljong khusus selama sembilan hari. Navratri—yang berarti sembilan malam—juga dirayakan untuk menghormati beliau, dengan setiap malam diisi dengan doa, puja, tarian tradisional, dan berbagai bentuk ibadah. Pada hari kesepuluh, Vijayadashami, masyarakat merayakan kemenangan Dewi Durga atas Mahishasura dengan penuh sukacita, sebagai bentuk rasa syukur atas perlindungan dan keberkahan yang diberikan oleh ibu semesta yang mulia.
 
 
 

Mayadanawa.

Pada zaman dahulu kala, ketika alam manusia masih erat terjalin dengan alam para dewa, Pulau Bali berdiri megah sebagai tanah suci yang penuh dengan keberkahan dan kedamaian. Di setiap sudut pulau ini, masyarakat Hindu Bali dengan penuh kebijaksanaan menjalankan persembahyangan mereka, pergi ke pura-pura yang tersebar di lereng gunung, tepi pantai, dan tengah desa untuk mempersembahkan sesajen kepada para dewa yang menjaga kesejahteraan alam semesta dan kehidupan mereka. Setiap hari penuh dengan rasa syukur dan penghormatan terhadap kekuasaan yang lebih tinggi, hingga suatu saat kedamaian itu terganggu oleh kehadiran seorang raksasa yang sangat sakti bernama Mayadenawa.
 
Mayadenawa adalah raksasa yang memiliki kekuatan luar biasa dan jiwa yang penuh dengan kesombongan serta keinginan untuk menguasai segala sesuatu. Dengan tubuh yang gagah dan aura yang mengerikan, ia menginjakkan kaki di setiap sudut Pulau Bali, membuat masyarakat merasa takut dan tertekan. Hatinya yang gelap membuatnya tidak dapat menerima bahwa ada kekuatan yang lebih besar darinya, dan dalam kegelapan hatinya, ia memutuskan untuk menghapuskan semua bentuk persembahyangan yang dilakukan oleh masyarakat kepada para dewa. Dengan suara yang mengguntur dan penuh ancaman, Mayadenawa melarang seluruh masyarakat Hindu Bali untuk melakukan persembahyangan ke pura atau memuja Ida Sang Hyang Widi dan para dewa. "Dari sekarang ini," ujarnya dengan nada yang tak terbantahkan, "hanya aku yang layak disembah dan dipuja oleh semua makhluk di pulau ini. Siapa pun yang berani melanggar perintahku akan mendapatkan hukuman yang mengerikan."
 
Meskipun rasa takut telah menyelimuti sebagian besar masyarakat, masih banyak di antara mereka yang tidak mampu meninggalkan keyakinan yang telah mereka anut sejak lama. Mereka tetap dengan diam-diam melakukan persembahyangan, mempersembahkan sesajen sederhana dan berdoa kepada para dewa dengan harapan bahwa kedamaian dan keadilan akan segera kembali ke tanah air mereka. Ketika para dewa di sorga menyaksikan tingkah laku sombong dan kejam Mayadenawa, serta melihat bagaimana umat mereka diperlakukan dengan tidak adil, rasa kemarahan yang mendalam muncul dalam hati mereka. Mereka tahu bahwa tidak dapat lagi tinggal diam dan membiarkan kejahatan merajalela di dunia manusia. Setelah melakukan musyawarah yang mendalam, para dewa memutuskan untuk mengutus Bhatara Indra—Sang Penguasa Langit, pemimpin para dewa, dan pembawa keadilan serta perlindungan—untuk turun ke marcapada (dunia) untuk menemui Mayadenawa dan menghabisi ancaman yang ditimbulkannya.
 
Dengan semangat yang penuh tekad dan kekuatan yang tak terbatas, Bhatara Indra turun dari sorga menuju Pulau Bali. Ia melintasi awan-awan yang putih dan menerbangkan diri melalui langit yang biru, sampai akhirnya tiba di sebuah daerah yang memiliki tingkat kemiringan cukup terjal—tempat yang dipilih Mayadenawa sebagai tempat persembunyian dan markasnya. Di lereng yang curam itu, di antara pepohonan yang rimbun dan batu-batu yang besar, Bhatara Indra berhasil menjumpai sosok raksasa yang dicarinya. Mayadenawa berdiri dengan gagah, dengan wajah yang penuh dengan kesombongan dan mata yang menyala dengan amarah ketika melihat kedatangan Bhatara Indra.
 
"Siapa kamu? berani sekali kamu menggangguku di tempatku sendiri?" tanya Mayadenawa dengan suara mengancam. "Apakah kamu tidak tahu bahwa pulau ini sekarang berada di bawah kekuasaanku, dan tidak ada yang berani menentangku?"
 
Bhatara Indra berdiri dengan tegak, dengan wajah yang penuh dengan keadilan dan kekuatan. "Aku adalah Bhatara Indra, yang diutus oleh para dewa untuk menghentikan kejahatan yang telah kamu lakukan," jawabnya dengan suara yang tenang namun penuh dengan kekuatan yang tak terbantahkan. "Kamu telah menyalahgunakan kekuatanmu dengan menyiksa masyarakat dan melarang mereka untuk menjalankan persembahyangan kepada para Dewa. Waktumu telah tiba untuk menerima hukuman atas perbuatanmu yang salah."
 
Namun, kata-kata Bhatara Indra tidak membuat Mayadenawa merasa takut atau menyesal. Sebaliknya, ia menjadi semakin angkuh dan mulai menyerang Bhatara Indra dengan segala kekuatannya. Raksasa itu mengeluarkan serangan yang dahsyat, menggunakan kekuatan sihir dan fisiknya untuk mengalahkan Bhatara Indra. Kedua sosok yang sakti itu saling bertempur dengan hebat, membuat tanah berguncang dan langit menjadi mendung karena benturan kekuatan mereka. Petir menyambar dan guntur bergemuruh di langit, sementara dedaunan dan batu-batu terlempar ke segala arah akibat kekerasan pertempuran tersebut.
 
Namun, kehebatan dan kesaktian yang dimiliki oleh Bhatara Indra jauh melampaui kekuatan Mayadenawa. Setelah beberapa saat bertempur, raksasa itu mulai merasa kewalahan dan menyadari bahwa ia tidak dapat mengalahkan Bhatara Indra. Dengan hati yang penuh dengan rasa takut dan kegagalan, Mayadenawa memutuskan untuk melarikan diri dan berlari dengan sekuat tenaga, berusaha menjauhi Bhatara Indra.
 
Dalam usahanya untuk menyelamatkan diri, Mayadenawa melakukan penyamaran berkali-kali agar tidak ditemukan oleh Bhatara Indra. Pada suatu saat, ia berubah menjadi Busung atau janur. Namun, mata tajam Bhatara Indra mampu melihat melalui penyamaran itu, dan ia segera mengejarnya lagi. Ketika merasa akan tertangkap, Mayadenawa berubah menjadi jantung pisang yang terletak di tengah batang pisang yang rimbun. Lagi pula, Bhatara Indra tidak tertipu dan terus mengejarnya tanpa lelah.
 
Setelah itu, Mayadanawa berubah menjadi batu besar yang terletak di tengah hutan yang lebat, berharap dapat menyembunyikan diri di antara bebatuan lain. Namun, Bhatara Indra dengan mudah mengenali bentuk aslinya dan terus mendekatinya. Dalam kepanikan, Mayadenawa kemudian berubah menjadi Manuk Raya—burung besar dengan sayap yang luas yang terbang tinggi ke langit, berusaha kabur dari jangkauan Bhatara Indra. Tapi sang dewa tidak tinggal diam; ia juga menerbangkan diri dan mengejar burung besar itu melalui awan-awan yang tinggi.
 
Akhirnya, setelah beberapa kali gagal menyembunyikan diri, Mayadenawa berubah menjadi batu paras—sebuah batu besar yang kokoh yang terletak di tepi sebuah lembah yang dalam. Ia berharap bahwa dengan menjadi batu yang tidak bernyawa, ia akan dapat menghindari hukuman yang telah menantinya. Namun, Bhatara Indra telah melihat segala sesuatu dan tahu bahwa itu adalah bentuk terakhir dari penyamaran Mayadenawa. Dengan tangan yang mantap dan penuh dengan keadilan, Bhatara Indra menarik busurnya yang sakti dan melepaskan anak panahnya yang tajam dengan kekuatan luar biasa. Panah itu tepat mengenai batu paras, dan pada saat itu juga, bentuk penyamaran Mayadenawa hancur berkeping-keping.
 
Darah raksasa itu mengalir deras dari dalam batu, membentuk aliran air yang jernih yang kemudian mengalir ke seluruh lereng dan akhirnya menjadi sebuah sungai yang panjang dan luas. Sungai ini kemudian diberi nama Tukad Petanu, yang hingga kini masih mengalir dengan tenang di Pulau Bali sebagai bukti dari pertempuran epik antara kebaikan dan kejahatan. Kemenangan Bhatara Indra atas Mayadenawa menjadi simbol kemenangan kebenaran dan keyakinan atas kekerasan dan kesombongan, dan cerita ini kemudian menjadi dasar dari perayaan Hari Raya Galungan yang dirayakan dengan penuh semangat oleh masyarakat Hindu Bali sebagai bentuk syukur atas keberkahan dan kemenangan yang diberikan oleh para dewa.
 
 
 

Lahirnya Bhatara Kala.

Di zaman dahulu kala, ketika alam semesta masih dalam kedamaian dan langit serta bumi saling melengkapi dalam harmoni yang agung, Bhatara Siwa bersama Dewi Uma, istrinya yang cantik dan penuh kebijaksanaan, memutuskan untuk menyempatkan diri menikmati keindahan laut yang luas dan misterius. Laut yang biru menyala itu mengembangkan ombak-ombak yang lembut, seperti kain sutra yang diayunkan oleh angin yang lembut, sementara sinar matahari menyinari permukaan air hingga memancarkan kilauan emas yang tak terhitung jumlahnya. Ikan-ikan berwarna-warni berenang dengan lincah di bawah permukaan, dan terumbu karang yang indah seperti mahakarya seni yang tersembunyi di kedalaman laut.
 
Bhatara Siwa dan Dewi Uma duduk di atas permukaan laut yang tenang, bercengkerama dengan hangat sambil menikmati pemandangan yang memukau itu. Mereka berbicara tentang kehidupan di kahyangan, tentang tugas mereka sebagai penguasa alam semesta, dan tentang keindahan ciptaan yang ada di sekeliling mereka. Saat suasana semakin hangat dan mereka semakin asyik dalam percakapannya, tiba-tiba sebuah hasrat yang kuat muncul dari dalam diri Bhatara Siwa. Birahinya yang lama terpendam bangkit dengan hebat, dan tanpa berpikir panjang, ia menyampaikan keinginannya kepada Dewi Uma dengan tulus dan langsung.
 
Namun, Dewi Uma dengan lembut menolak permintaan Bhatara Siwa. "Suamiku," katanya dengan suara lembut, "perilaku seperti ini tidak sesuai dengan adat dan tata krama para dewa yang tinggal di kahyangan yang suci. Kita sebagai pemimpin dan contoh bagi semua makhluk harus menjaga kesucian dan kehormatan kita, serta bertindak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh alam semesta itu sendiri."
 
Bhatara Siwa mendengarkan kata-kata Dewi Uma dengan cermat, namun hatinya yang sedang diliputi hasrat tidak dapat menerima penolakan itu. Ia membantah dengan suara yang kuat namun tidak kasar, "Wahai istriku, siapakah di antara kita yang dapat sepenuhnya menahan nafsu yang sedang bergelora dengan tiba-tiba? Nafsu ini muncul bukan karena keinginan yang sia-sia, melainkan karena indriya kita yang bertemu dengan objek yang sesuai dengan keinginannya. Ini adalah bagian dari sifat alamiah yang telah diberikan kepada kita oleh ciptaan itu sendiri, dan tidak dapat dengan mudah ditekan atau dihalangi."
 
Meskipun Dewi Uma masih ingin memberikan nasihat lebih lanjut, Bhatara Siwa tidak dapat lagi menahan hasrat yang membara dalam dirinya. Pada saat itu juga, Kama (air mani) Bhatara Siwa keluar dengan sendirinya dan jatuh ke dalam laut yang luas itu. Setelah kejadian itu, Bhatara Siwa dan Dewi Uma bergabung sebagai Ardanareswari—wujud tunggal yang menyatukan kekuatan pria dan wanita—dan kemudian mereka kembali ke Siwaloka, kediaman yang suci dan agung bagi Bhatara Siwa.
 
Sementara itu, di atas permukaan laut yang kini mulai bergelora karena kehadiran Kama Bhatara Siwa, Bhatara Brahma—sang pencipta alam semesta—dan Bhatara Wisnu—sang pelindung alam semesta- datang untuk menyaksikan fenomena yang luar biasa itu. Mereka melihat bagaimana laut yang tadinya tenang kini menjadi bergolak dengan hebat, dan ada tanda-tanda ajaib yang muncul di sekeliling mereka: kilatan cahaya yang menyilaukan menerobos awan, suara gemuruh yang terdengar seperti guntur yang kuat, dan aroma harum yang tak dikenal memenuhi udara.
 
Tanpa banyak bicara, Brahma dan Wisnu memutuskan untuk melakukan yoga bersama-sama. Mereka duduk dalam posisi meditasi yang tenang dan fokus, mengumpulkan kekuatan spiritual mereka untuk menghadapi apa pun yang akan muncul. Seiring dengan berjalannya waktu dan dengan kekuatan yoga yang luar biasa mereka miliki, Kama Bhatara Siwa yang telah jatuh ke laut mulai berkumpul menjadi satu kesatuan yang padat dan kuat. Perlahan-lahan, bentuknya mulai berubah dan tumbuh dengan pesat, hingga akhirnya menjadi seorang raksasa yang sangat besar dengan tubuh yang kokoh seperti gunung dan tinggi seperti langit. Raksasa ini diberi nama Bhatara Kala—Sang Penguasa Waktu dan Kematian.
 
Segera setelah ia muncul secara utuh, Bhatara Kala mengeluarkan suara raungan yang sangat keras dan mengguntur. Suara itu terdengar ke seluruh penjuru alam semesta, menyebabkan bumi berguncang dengan hebat, gunung-gunung bergoyang, dan sungai-sungai berbalik arah alirannya. Bahkan sorga loka—kediaman para dewa yang tinggi dan suci—juga menjadi bergoyang dan terguncang, membuat para dewa merasa takut dan khawatir akan keselamatan mereka dan alam semesta secara keseluruhan.
 
Para Dewata Nawa Sanga—sembilan dewa utama yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam semesta—segera menyadari bahwa ada bahaya yang besar yang mengancam sorga loka. Mereka berkumpul bersama dan kemudian melaporkan situasi yang genting itu kepada Bhatara Siwa di Siwaloka. "Yang Mulia," katanya dengan suara yang penuh rasa hormat namun juga khawatir, "seorang raksasa yang maha besar telah muncul dari laut dan mengeluarkan suara yang mengerikan. Dunia dan sorga loka menjadi tidak stabil, dan kami khawatir bahwa bahaya yang besar akan datang jika tidak segera ada tindakan yang diambil."
 
Bhatara Siwa mendengarkan laporan para Dewata Nawa Sanga dengan tenang dan penuh perhatian. Ia tahu bahwa saatnya telah tiba untuk menghadapi raksasa yang misterius itu dan mencari tahu tujuan serta asal-usulnya. Dengan kecepatan yang luar biasa, Bhatara Siwa pergi dari Siwaloka menuju tempat di mana Bhatara Kala berdiri dengan gagah.
 
Ketika Bhatara Siwa tiba di lokasi, ia melihat betapa besarnya Bhatara Kala, yang berdiri dengan tinggi dan mengancam di atas permukaan laut yang masih bergelora. Tanpa ragu, Bhatara Siwa menghampiri raksasa itu dan memulai percakapan. Mereka berbicara tentang banyak hal: tentang alam semesta, tentang peran masing-masing makhluk dalam menjaga keseimbangan dunia, dan tentang tujuan yang mendasari keberadaan setiap ciptaan. Namun, inti dari percakapan mereka adalah ketika Bhatara Kala dengan suara yang dalam dan kuat bertanya kepada Bhatara Siwa, "Siapakah orang tuaku? Dari mana aku berasal dan apa tujuan keberadaanku di dunia ini?"
 
Bhatara Siwa melihat ke mata Bhatara Kala dengan penuh kasih sayang dan kebijaksanaan. Ia tahu bahwa saatnya telah tiba bagi Bhatara Kala untuk mengetahui kebenaran tentang asal-usulnya. "Wahai Kala," katanya dengan suara yang tenang namun penuh kekuatan, "untuk mengetahui siapa orang tuamu dan asal-usulmu yang sebenarnya, kamu harus melakukan satu hal. Kamu harus memotong taring bagian kananmu dan melihat apa yang terjadi setelah itu."
 
Meskipun merasa sedikit bingung dan ragu, Bhatara Kala mempercayai kata-kata Bhatara Siwa. Dengan kekuatan yang luar biasa miliknya, ia mengambil sebuah benda tajam dan dengan tegas memotong taring bagian kanannya. Pada saat taring itu terpotong dan jatuh, seketika Bhatara Kala merasakan sebuah kesadaran yang mendalam muncul dalam dirinya. Ia melihat kembali pada Bhatara Siwa dengan mata yang kini penuh pemahaman dan rasa hormat yang mendalam. Akhirnya, ia mengetahui bahwa Bhatara Siwa adalah ayahnya yang sebenarnya—Yang Mahakuasa yang telah memberikan kehidupan padanya.
 
Sejak saat itu, Bhatara Kala memahami peran dan tugasnya dalam alam semesta. Ia menjadi penguasa waktu dan kematian yang adil dan bijaksana, yang bertugas untuk menjaga keseimbangan alam semesta dengan memastikan bahwa setiap makhluk menjalani hidupnya sesuai dengan takdir yang telah ditentukan, dan kemudian kembali kepada alam semesta ketika waktunya tiba. Cerita ini kemudian menjadi salah satu cerita yang paling terkenal dan sering digelar dalam pertunjukan pewayangan di Bali, terutama dalam upacara Sapuh Leger atau ruwatan yang dilakukan untuk orang-orang yang lahir pada Wuku Wayang, sebagai bentuk penghormatan kepada Bhatara Kala dan sebagai sarana untuk memohon perlindungan serta keberuntungan dalam hidup mereka.