Rabu, 25 Februari 2026

Kisah Burisrawa.

Burisrawa adalah tokoh dalam epik Mahabharata yang juga memiliki versi khas dalam pewayangan Jawa. Dalam versi asli Mahabharata, ia adalah putra Raja Soma Datta dari kerajaan Bahlik dan masih memiliki hubungan darah dengan keluarga Kuru (korawa dan pandawa). Namun, dalam pewayangan Jawa, ia disebut sebagai putra Prabu Salya (juga dikenal sebagai Nara Soma) dari kerajaan Mandaraka dan Dewi Setyawati.
 
Di antara lima bersaudara – Era Wati, Surtikanti, Bano Wati, Burisrawa, dan Rukma Rata – hanya Burisrawa yang memiliki wajah buruk seperti raksasa, berbeda dengan saudara-saudaranya yang cantik atau tampan. Hal ini adalah kutukan akibat perbuatan ayahnya Prabu Salya yang semasa muda membunuh mertuanya, Resi Bagaspati, yang berwujud raksasa karena merasa jijik. Sebagai hukuman, salah satu anaknya akan terlahir dengan rupa yang tidak sedap dipandang, yaitu Burisrawa.
 
Karena penampilannya yang menakutkan, Burisrawa tidak tinggal bersama keluarga di istana Mandaraka dan tinggal sendiri di Kasatriyan Madyapura. Ia kemudian diampuni dan diterima oleh para korawa, yang membuatnya sangat setia kepada mereka.
 
Sejak muda, Burisrawa mencintai Subadra (dipanggil Lara Ireng olehnya), adik kandung Baladewa dan Kresna. Saat pernikahan saudara perempuannya Era Wati dengan Baladewa, ia mencoba merayu Subadra tetapi dihalangi oleh Satyaki, adik sepupu Baladewa. Hal ini menyebabkan perkelahian hebat antara keduanya, yang baru bisa dilerai oleh Baladewa dan Kresna. Pada kesempatan itu, Baladewa menjanjikan bahwa kelak Burisrawa akan dinikahkan dengan Subadra.
 
Namun, kenyataan berbeda. Arjuna dan Subadra telah dijodohkan sejak kecil, dan ketika dewasa, Arjuna berhasil memenuhi semua persyaratan mahar perkawinan yang diajukan. Sementara itu, meskipun mendapat bantuan dari korawa, Burisrawa tidak mampu memenuhinya. Akhirnya, Subadra dinikahkan dengan Arjuna, yang membuat Burisrawa merasa dikhianati. Ia bahkan mencoba membuat onar pada pernikahan tersebut tetapi berhasil dikalahkan oleh pandawa. Pada saat itu juga, ia kembali bertengkar dengan Satyaki, dan keduanya bersumpah akan menyelesaikan dendam mereka di medan perang Baratayuda.
 
Dalam beberapa versi cerita, Burisrawa bahkan pernah menghunus keris untuk memaksa Subadra menerima cintanya, tetapi sang dewi justru menusukkan keris ke tubuhnya sendiri ketimbang menyerah.
 
Ketika perang Baratayuda pecah antara korawa dan pandawa, Burisrawa berdiri di pihak korawa dan menjadi salah satu senapati yang handal. Ia memiliki kesaktian dan kekuatan yang luar biasa, membuatnya menjadi ancaman bagi pasukan pandawa.
 
Pada hari perang yang menentukan, Burisrawa bertemu dengan Satyaki di medan tempur. Keduanya bertarung sengit sesuai dengan sumpah mereka. Burisrawa yang lebih unggul dalam stamina berhasil mengalahkan Satyaki dan hampir memenggal kepalanya. Namun, pada saat kritis, Kresna meminta Arjuna untuk menguji kemampuannya dengan memanah sehelai rambut Burisrawa. Arjuna dengan tepat mengenai rambut tersebut sekaligus mengenai leher Burisrawa, membuatnya gugur dan menyelamatkan Satyaki.
 
Dalam versi Mahabharata asli, seluruh keluarga Burisrawa (Soma Datta dan saudara-saudaranya) juga gugur dalam perang ini, kecuali Saumadati yang tewas di tangan Panca Kumara.
 
Burisrawa menikah dengan Dewi Kiswari, putri Prabu Kiswamuka dari kerajaan Cindekembang, dan memiliki seorang anak bernama Arya Kiswara. Meskipun ia dikenal sebagai antagonis dalam cerita, kisahnya sering dijadikan contoh tentang bagaimana rasa sakit hati dan dendam bisa mengubah seseorang, serta bagaimana kutukan dan perbuatan masa lalu bisa memengaruhi kehidupan seseorang.
 

Subali dan Sugriwa: Dari Putra Resi hingga Raja Kera.

Di masa lalu, jauh sebelum kerajaan Kiskenda berdiri megah di kaki Gunung Mandara Giri, hiduplah seorang resi bijaksana bernama Gotama. Beliau tinggal bersama istrinya, Dewi Indradi, seorang wanita cantik dan mulia yang dipercaya menyimpan sebuah benda pusaka ajaib. Pusaka itu bernama Cupu Manik Astagina—hadiah langsung dari Dewa Surya yang diberikan sebagai bentuk penghargaan atas kesetiaan dan kebajikan Dewi Indradi.
 
Cupu Manik Astagina bukanlah benda biasa. Selain memiliki kilau yang memukau seperti delapan matahari yang bersinar sekaligus, pusaka ini juga menyimpan rahasia besar: ia dapat menunjukkan gambaran apa saja yang diinginkan oleh pemiliknya, bahkan hal-hal yang tersembunyi jauh di pelosok alam semesta. Tak hanya itu, benda ini juga dipercaya dapat membawa kemakmuran dan kesehatan bagi siapa pun yang menjaganya dengan baik.
 
Dari perkawinan Resi Gotama dan Dewi Indradi, tiga anak lahir yang cerdas dan gagah: dua putra bernama Guwarsa dan Guwarsi, serta seorang putri bernama Dewi Anjani. Ketiganya tumbuh bersama dengan cinta dan rasa persaudaraan yang erat, namun hati mereka mulai berubah ketika mereka mengetahui keberadaan Cupu Manik Astagina.
 
Guwarsa, sebagai anak sulung, merasa bahwa pusaka itu seharusnya menjadi miliknya karena ia akan menjadi penerus ayahnya. Guwarsi, meskipun lebih muda, berpendapat bahwa ia lebih layak menjaganya karena ia telah belajar ilmu gaib lebih giat dari kakaknya. Sementara itu, Dewi Anjani mengklaim bahwa pusaka tersebut diberikan khusus untuk kaum wanita oleh Dewa Surya, sehingga haknya untuk memilikinya lebih kuat dibandingkan kedua saudara laki-lakinya.
 
Hari demi hari, perselisihan mereka semakin memanas. Mereka sering bertengkar di depan kedua orang tua, masing-masing berusaha membuktikan bahwa dirinya yang paling pantas menjadi pemilik Cupu Manik Astagina. Resi Gotama dan Dewi Indradi berusaha menenangkan mereka, menjelaskan bahwa pusaka itu bukanlah barang yang boleh diperdebatkan, melainkan amanah yang harus dijaga bersama untuk kesejahteraan keluarga dan masyarakat sekitar. Namun kata-kata bijaksana mereka tak kunjung masuk ke dalam hati ketiga anaknya.
 
Suatu hari, ketika Resi Gotama sedang pergi melakukan tapa di hutan, Dewi Anjani memutuskan untuk menggunakan Cupu Manik Astagina untuk membuktikan bahwa dirinya layak menjadi pemiliknya. Ia ingin menunjukkan kepada kedua saudara laki-lakinya bahwa pusaka itu dapat memberikan manfaat luar biasa jika dikelolanya. Namun, ketika ia mengaktifkan pusaka tersebut, yang muncul bukanlah gambaran kebaikan seperti yang diharapkannya—melainkan gambar yang menunjukkan bahwa istri Resi Gotama, ibunda mereka sendiri, sedang berselingkuh dengan seorang pria asing di balik sebuah gua terpencil.
 
Hati Dewi Anjani hancur berkeping-keping melihat hal itu. Ia tidak dapat menyembunyikan rahasia pahit ini dan langsung memberitahu Guwarsa dan Guwarsi. Kedua putra Resi Gotama pun marah besar. Mereka merasa bahwa ibunda mereka telah mencuri kehormatan keluarga, dan menyalahkan Cupu Manik Astagina yang telah mengungkapkan rahasia tersebut. Tanpa berpikir panjang, mereka bergegas mencari pusaka itu dan mulai berebut dengan kekerasan.
 
Ketika Resi Gotama kembali dari tapanya, ia menemukan rumahnya dalam kekacauan. Suara teriakan dan benturan barang membuatnya segera berlari ke dalam ruangan tempat pusaka disimpan. Di situlah ia melihat ketiga anaknya sedang saling menyerang untuk merebut Cupu Manik Astagina. Saat mereka berteriak menjelaskan alasan perkelahian tersebut, Resi Gotama mendengar tentang perselingkuhan istrinya. Rasa sakit dan kemarahan yang luar biasa menghantam hatinya—bukan hanya karena khianatan yang dialaminya, tetapi juga karena anak-anaknya telah menggunakan pusaka suci untuk hal yang hanya menyakiti hati dan memecah belah keluarga.
 
Dengan amarah yang tak tertahankan, Resi Gotama mengeluarkan Cupu Manik Astagina dari tangan anak-anaknya dan membuangnya sejauh mungkin ke arah utara. Pusaka itu terbang melintasi langit, membentuk busur cahaya yang indah sebelum pecah menjadi delapan bagian yang berbeda-beda. Setiap bagian jatuh ke permukaan bumi dan menyatu dengan tanah, membentuk sebuah telaga yang luas dengan air yang bening dan bersinar seperti permata—telaga yang kemudian dikenal sebagai Telaga Mardida.
 
Setelah membuang pusaka, Resi Gotama pergi meninggalkan rumahnya bersama Dewi Indradi, tak ingin lagi melihat wajah anak-anaknya yang telah menyebabkan kehancuran keluarga mereka. Sementara itu, Guwarsa dan Guwarsi merasa sangat menyesal dan juga sangat haus setelah perkelahian yang melelahkan. Mereka melihat Telaga Mardida yang baru terbentuk dan merasa bahwa di dalamnya mungkin masih tersisa bagian dari Cupu Manik Astagina yang bisa mereka kembalikan untuk meminta maaf kepada ayah mereka.
 
Tanpa ragu, kedua bersaudara itu langsung menceburkan diri ke dalam air telaga. Namun, mereka tidak menyadari bahwa air Telaga Mardida telah menyerap kekuatan ajaib dari bagian-bagian Cupu Manik Astagina yang jatuh ke dalamnya. Ada kutukan tersembunyi dalam air tersebut: siapa pun yang menyentuhnya akan berubah menjadi makhluk kera secara permanen.
 
Ketika tubuh mereka terendam sepenuhnya dalam air, rasa panas yang luar biasa melanda tubuh Guwarsa dan Guwarsi. Kulit mereka menjadi berbulu tebal, tubuh mereka menyusut namun menjadi lebih kuat, dan wajah mereka berubah menjadi wajah kera yang gagah. Mereka mencoba keluar dari telaga dan kembali ke bentuk aslinya, tetapi tak ada yang bisa mereka lakukan—kutukan telah bekerja dengan sempurna.
 
Dewi Anjani yang melihat hal itu menangis sedih. Ia menyadari bahwa semua ini terjadi karena kesalahannya yang menggunakan pusaka untuk tujuan yang salah. Untuk mengimbangi kesalahannya, ia memutuskan untuk mengikuti kedua saudara laki-lakinya dan tinggal bersama mereka di hutan. Meskipun ia tidak berubah menjadi kera, ia memilih untuk hidup sebagai pengasuh dan pelindung mereka.
 
Seiring berjalannya waktu, Guwarsa dan Guwarsi yang kini dikenal dengan nama Subali dan Sugriwa menjadi pemimpin bagi sekelompok kera yang hidup di sekitar Telaga Mardida. Kekuatan dan kecerdasan mereka yang berasal dari darah Resi Gotama membuat mereka dihormati dan disegani oleh semua makhluk hutan. Mereka membangun kerajaan kera yang kuat dan teratur, dan meskipun tak bisa kembali ke bentuk aslinya, mereka belajar untuk menerima takdir mereka dan menggunakan kekuatan mereka untuk melindungi alam dan semua makhluk yang tinggal di dalamnya.
 
Cerita tentang Subali dan Sugriwa kemudian menjadi legenda yang diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya—cerita tentang kesalahpahaman, kehancuran keluarga, dan bagaimana kesalahan masa lalu dapat diubah menjadi kekuatan untuk menciptakan kebaikan di masa depan.
 
 
 

Senin, 23 Februari 2026

Kisah Brahma Kumbara.

Di masa kejayaan Kerajaan Majapahit, ketika tanah Jawa penuh dengan ksatria gagah berani dan ajian sakti yang memukau, hidup seorang pemuda bernama Brahma Kumbara. Beliau bukanlah putra bangsawan, namun bakat bela diri dan hati yang luhur menjadikannya salah satu pendekar sakti terkemuka di tanah air.

 

Dengan gelang-gelang sakti yang selalu mengiringinya, serta menguasai ajian seperti Serat Jiwa yang bisa merasakan detak hati musuh, Ilmu Lampah Lumpuh yang membuat lawan tak berdaya, dan Ilmu Cipta Dewi yang melindungi dari bahaya, Brahma Kumbara menjadi harapan rakyat yang tertindas. Ia selalu menjunjung tinggi keberanian, kejujuran, dan kesetiaan—nilai-nilai yang membuatnya dicintai banyak orang.

 

Dalam perjalanannya, hati Brahma Kumbara tersentuh oleh tiga wanita dengan sosok berbeda. Pertama adalah Mantili, seorang gadis pemberani yang pernah menyelamatkannya dari bahaya. Kemudian ada Paramita, putri bangsawan yang mengagumi kebajikannya. Namun, cinta yang paling mendalam tumbuh antara dia dan Dewi Harnum—seorang wanita bijak dan penuh kasih yang selalu menjadi tempat kembali setiap kali dia lelah berperang. Cinta mereka menjadi sumber kekuatan tersembunyi yang membuat Brahma Kumbara semakin kuat menghadapi setiap tantangan.

 

Namun, kedamaian tidak bertahan lama. Gardika, pemimpin pasukan Kuntala yang telah lama menginginkan kekuasaan, muncul dengan rencana jahat untuk menggulingkan kekuasaan Majapahit dan mengembalikan kejayaan kerajaan lamanya. Ia menyusun intrik politik yang licik, bahkan membujuk beberapa orang terdekat Brahma Kumbara untuk mengkhianatinya.

 

Saat intrik mulai terbongkar dan peperangan tak terhindarkan, Brahma Kumbara harus menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya dari ajian sakti, melainkan dari hati yang tulus ingin melindungi rakyat. Dengan dukungan Dewi Harnum dan mereka yang masih setia, ia menghadapi Gardika dalam pertempuran epik yang mengguncang tanah Jawa.

 

Setelah berhasil mengalahkan musuh bebuyutannya dan mengatasi segala pengkhianatan, rakyat mengangkat Brahma Kumbara sebagai Raja Madangkara—seorang pemimpin yang memerintah dengan keadilan dan kasih sayang, membawa kemakmuran bagi wilayahnya di bawah bayangan kejayaan Majapahit.

 

 

 


Minggu, 22 Februari 2026

Bhisma: Pahlawan dengan Sumpah Tak Terlupakan

Di kerajaan Hastinapura, lahirlah seorang putra mulia dari Raja Shantanu dan Dewi Gangga—dia diberi nama Dewabrata, yang nantinya akan dikenal sepanjang masa sebagai Bhisma. Dengan kecerdasan yang luar biasa dan kekuatan tubuh yang mengagumkan, dia tumbuh menjadi pemuda yang layak untuk menjabat raja. Namun, takdir telah menyusun jalan yang berbeda baginya.
 
Ketika Raja Shantanu ingin menikahi Satyavati, ibu dari Vichitravirya dan Chitrangada, keluarganya memberikan syarat bahwa hanya keturunan Satyavati yang boleh menjadi pewaris tahta. Untuk memenuhi keinginan ayahnya dan menjaga keharmonisan kerajaan, Dewabrata mengucapkan sumpah yang abadi: "Aku tidak akan pernah menikah, tidak akan memiliki keturunan, dan tidak akan pernah menguasai tahta Hastinapura!" Dari saat itu, dia dikenal sebagai Bhisma—yang berarti "sumpah yang mengerikan".
 
Sepanjang hidupnya, Bhisma tetap setia pada sumpahnya. Ia menjaga dan mendidik adik tirinya, Vichitravirya, serta cucu-cucunya—para Kaurawa dan Pandawa. Kemampuan bertarungnya tidak tertandingi; dia adalah salah satu pejuang terhebat zamannya, mahir dalam segala jenis senjata dan taktik perang. Kesetiaannya kepada keluarga dan negara menjadi contoh bagi semua orang di Hastinapura.
 
Ketika perselisihan antara Kaurawa dan Pandawa mencapai puncaknya dan perang Kurukshetra pecah, Bhisma terpaksa memimpin pasukan Kaurawa. Meskipun ia tahu bahwa pihak Kaurawa berada di pihak yang salah, kesetiaannya pada kerajaan membuatnya tidak dapat berpaling. Selama hari-hari perang, dia bertempur dengan kehebatan yang membuat pasukan Pandawa kesusahan. Banyak pahlawan Pandawa jatuh di bawah serangannya, dan tampaknya tidak ada yang dapat mengalahkannya.
 
Namun, ada satu cara untuk menghentikan Bhisma. Ia pernah berjanji bahwa dia tidak akan pernah menyakiti orang yang pernah hidup sebagai wanita. Shikhandi—pangeran yang pernah memiliki kehidupan sebagai wanita sebelum menjadi laki-laki—ditempatkan di depan Arjuna ketika mereka menghadapi Bhisma. Ketika Arjuna menembakkan panahnya dengan bimbingan Shikhandi, panah-panah itu menancap ke tubuh Bhisma, membuatnya jatuh ke tanah. Tubuhnya tidak menyentuh bumi karena ditopang oleh ribuan panah, seperti sebuah tempat tidur yang terbuat dari logam.
 
Meskipun terluka parah, Bhisma tidak langsung meninggal. Dewa-dewa memberinya kesempatan untuk memilih waktu kematiannya sendiri. Ia memilih untuk menunggu hingga musim Uttarayana tiba—saat matahari bergerak ke arah utara, yang dianggap sebagai waktu suci dan baik bagi seorang pahlawan untuk kembali ke alam semesta. Setelah musim tiba, Bhisma mengambil nafas terakhirnya, meninggalkan dunia dengan kehormatan dan kehormatan yang layak bagi sosok legendarisnya.
 
 
 

Dewi Durga, Dari Bidadari Menjadi Raksasa. (Cerita Versi Jawa)

Di alam Kahyangan, hiduplah seorang Dewi yang bernama Dewi Uma—istri Bhatara Guru Siwa. Wajahnya seperti bulan purnama yang menerangi kegelapan, rambutnya lurus mengkilap seperti sutra, dan setiap gerakannya memancarkan keanggunan yang mempesona. Semua makhluk memuliakan kecantikannya dan keharmonisan pernikahannya dengan Bhatara Guru.
 
Namun, kedamaian itu hancur ketika sebuah tuduhan menyebar. Bhatara Guru mulai mencurigai bahwa Dewi Uma telah melakukan kesalahan fatal, bahkan berselingkuh. Kemarahan yang tak terkendali melanda hatinya, dan dengan kata-kata yang menusuk hati, ia mengucapkan kutukan yang mengubah segalanya: "Hingga dosamu terhapus, engkau akan menjadi makhluk yang ditakuti, tinggal di tempat yang jauh dari keindahan surga!"
 
Dalam sekejap, keindahan Dewi Uma sirna lenyap. Wajahnya menjadi menyeramkan dengan taring tajam yang menonjol, rambutnya menjadi gimbal dan kusut seperti semak belukar, dan tubuhnya berubah menjadi raksasa yang dikenal sebagai Bhatari Durga. Dihantui oleh kutukan, ia terpaksa tinggal di kuburan—tempat yang selalu berbau mayat dan ditinggalkan oleh semua makhluk.
 
Meskipun berwujud mengerikan, kesaktiannya tidak pernah pudar. Seiring waktu, Bhatari Durga menjadi ratu bagi segala makhluk halus—jin, setan, dan genderewo—yang mengagungkan kekuatannya. Di dunia pewayangan, ketika perselisihan pecah antara Kurawa dan Pandawa, pihak Kurawa datang meminta bantuannya untuk mencelakai Pandawa. Meskipun tindakannya terlihat jahat, Bhatari Durga hanya menjalankan apa yang dipercayakan kepadanya sebagai bagian dari takdir yang telah ditentukan.
 
Namun, jalan menuju pembebasan telah disiapkan. Suatu hari, Sahadewa— adik bungsu dari Pandawa yang jujur dan penuh kasih—datang ke kuburan. Bhatari Durga muncul dengan wajahnya yang menakutkan dan memaksa Sahadewa untuk meruwatnya dari kutukan. Ketika Sahadewa mengaku tidak tahu cara melakukan ritual penyucian, Bhatari Durga mengancam akan membunuh pemuda itu.
 
Pada saat genting itu, Bhatara Guru yang telah menyesali tindakannya mendadak merasuki tubuh Sahadewa. Dengan kekuatan yang diberikan oleh Sang Hyang Tunggal, Sahadewa menjalankan ritual penyucian dengan penuh kesopanan dan keikhlasan. Seiring dengan setiap langkah ritual, bentuk menyeramkan Bhatari Durga perlahan menghilang, dan kembali muncul wajah cantik Dewi Uma yang dulu dikenal seluruh alam.
 
Kutukan akhirnya luntur. Atas jasanya yang melenyapkan noda dan penderitaan dari Dewi Uma, Sahadewa kemudian diberi gelar yang terkenal hingga kini—Sudamala, ia yang mampu membersihkan segala kekotoran dan penyakit.
 
 
 

Kamis, 19 Februari 2026

Kisah Batara Kala.

Pada zaman dahulu kala, ketika alam semesta masih dalam keseimbangan yang halus, Dewa Siwa sedang berdiam bersama Dewi Uma, sang istri yang memiliki kecantikan yang mempesona hingga membuat langit dan bumi terpana. Saat melihatnya, sebuah benih dari Dewa Siwa terjatuh ke dalam lautan.
 
Lautan membawa benih itu jauh ke kedalaman, hingga akhirnya ditemukan oleh Dewa Brahma dan Wisnu. Kedua dewa itu merasakan kekuatan besar yang terkandung di dalamnya, sehingga mereka memutuskan untuk merawatnya dengan penuh perhatian. Setelah waktu yang lama, dari benih itu lahir seorang raksasa bertaring besar dengan wajah yang menyeramkan—ia adalah Batara Kala, yang kemudian akan menjadi penguasa waktu dan kematian.
 
Setelah dewasa, Batara Kala tinggal di dunia bawah tanah bersama pasangannya, Setesuyara. Ia melambangkan hukum alam yang tak bisa dielakkan; waktu yang terus berjalan dan merusak segala sesuatu yang ada di ruang dan waktu. Sebagai tanda kehormatan, ia berhak memakan manusia yang lahir pada Wuku Wayang—wuku kelahiran dirinya sendiri.
 
Salah satu yang terancam adalah Batara Kumara, adik kandungnya yang lahir pada wuku tersebut. Ketika Batara Kala mulai mengejar adiknya untuk memenuhi haknya, langit dan bumi bergemetar. Melihat hal ini, para dewa dan manusia melakukan ritual ruwatan—penyucian yang sakral—untuk menghentikan pengejaran itu. Berkat ritual tersebut, Batara Kumara selamat, dan kesepakatan dibuat agar orang yang lahir pada Wuku Wayang bisa diselamatkan melalui upacara yang tepat.
 
Selain itu, Batara Kala juga dikenal dalam mitos gerhana. Ia diyakini mengejar dan mencoba memakan Batara Surya sang matahari atau Batara Candra sang bulan sebagai balas dendam atas nasibnya yang dianggap tidak adil. Ketika ia hampir berhasil menggigit salah satu dari mereka, gerhana terjadi di dunia manusia. Hanya ketika para dewa dan manusia berdoa serta melakukan upacara, ia akan melepaskan mangsanya dan cahaya kembali menyinari bumi.
 
Untuk melindungi orang-orang yang lahir pada Wuku Wayang, masyarakat Jawa-Bali mengadakan ritual Sapuh Leger—pertunjukan wayang khusus yang dipercaya dapat menjauhkan bahaya dari mangsa Batara Kala. Hiasan kepala raksasanya juga sering ditemukan di candi-candi Jawa, sebagai pengingat akan keberadaannya yang melambangkan nafsu dan kekacauan, namun juga sebagai simbol bahwa tidak ada yang bisa melawan alur waktu dan hukum alam yang mutlak.
 

Dewi Arimbi: Kisah Cinta Dan Pengorbanan Seorang Ibu.

Bab 1: Kehidupan di Negeri Pringgandani
 
Di kaki pegunungan yang menjulang tinggi, ada sebuah kerajaan yang bernama Pringgandani. Kerajaan tersebut dikelilingi oleh hutan lebat yang rimbun dan sungai yang jernih mengalir, menjadi tempat tinggal bagi kaum raksasa yang dipimpin oleh Prabu Arimbaka—raja yang gagah perkasa dengan hati yang cukup adil bagi rakyatnya. Bersamanya, Ratu Dewi Hadimba memerintah dengan kasih sayang, dan dari pernikahan mereka, delapan anak lahir ke dunia.
 
Yang paling muda di antara putri-putrinya adalah Dewi Arimbi, putri kedua yang sejak lahir telah menunjukkan keistimewaan. Meskipun memiliki darah raksasa yang membuatnya mampu memiliki tubuh besar dan kuat, ia juga memiliki wajah yang semakin cantik seiring bertambahnya usia. Selain itu, ia mewarisi kesaktian dari kedua orang tuanya, termasuk kemampuan untuk mengubah wujudnya—dari bentuk raksasa yang tangguh menjadi putri jelita dengan paras memukau dan tubuh langsing.
 
Dewi Arimbi tumbuh bersama tujuh saudara kandungnya: Arimba, Arya Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa, dan Kalabendana. Meskipun para saudara laki-lakinya lebih suka menghabiskan waktu untuk berlatih senjata dan menjelajahi hutan luas, Arimbi lebih sering memilih untuk menghabiskan waktu bersama ibunya, belajar tentang kesaktian, etika hidup, dan bagaimana menjadi sosok yang bermanfaat bagi rakyat. Ia tumbuh menjadi wanita yang tidak hanya cantik dan kuat, tetapi juga memiliki hati yang baik—jujur dalam setiap perkataan, setia kepada apa yang diyakininya, dan selalu berbakti kepada orang tua serta saudara-saudaranya.
 
Bab 2: Pertemuan dengan Bima
 
Suatu hari, kabar menyebar bahwa para Pandawa—lima saudara satria yang terkenal karena keberanian dan kebajikan mereka—sedang melakukan perjalanan melintasi wilayah sekitar Pringgandani setelah harus meninggalkan kerajaan Hastinapura. Prabu Arimbaka, yang telah mendengar tentang kehebatan para Pandawa, mengundang mereka untuk beristirahat di istananya.
 
Di antara kelima Pandawa, sosok Bima—yang berbadan besar, kuat seperti gajah, dan memiliki hati yang hangat—mencuri perhatian Dewi Arimbi. Saat melihat Bima berinteraksi dengan rakyat jelata dan membantu mereka dengan sukarela, hati Arimbi tergerak dengan kedermawanan yang dimiliki pria tersebut. Sementara itu, Bima juga terpikat dengan kecantikan dan kesederhanaan Dewi Arimbi, yang berbeda dari banyak wanita bangsawan yang pernah ditemuinya.
 
Mereka mulai sering bertemu di taman istana atau di tepi sungai, berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Bima bercerita tentang perjuangan para Pandawa untuk mendapatkan hak yang seharusnya, sementara Arimbi menceritakan tentang kehidupan di Pringgandani dan harapannya untuk melihat dunia lebih luas. Seiring berjalannya waktu, cinta tumbuh di antara keduanya—cinta yang tidak terbatas oleh perbedaan latar belakang atau bentuk fisik yang mereka miliki.
 
Setelah mendapatkan restu dari Prabu Arimbaka dan Dewi Hadimba, Bima dan Dewi Arimbi menikah dengan upacara yang meriah. Selama waktu bersama mereka, kebahagiaan meliputi istana Pringgandani. Tak lama kemudian, Dewi Arimbi dikaruniai seorang putra yang diberi nama Gatotkaca. Sejak lahir, Gatotkaca menunjukkan bakat luar biasa—berbadan kuat seperti ayahnya dan memiliki kesaktian yang diwarisi dari ibunya. Dewi Arimbi mencintai putranya dengan sepenuh hati, selalu mengajarkannya tentang pentingnya kejujuran, kesetiaan, dan tanggung jawab terhadap orang lain.
 
Bab 3: Masa Perpisahan dan Pertumbuhan Gatotkaca
 
Waktu terus berlalu, dan saatnya tiba bagi para Pandawa untuk melanjutkan perjalanan mereka. Bima harus pergi bersama saudara-saudaranya untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dan memperjuangkan hak mereka atas takhta Hastinapura. Meskipun sangat sulit untuk berpisah, Dewi Arimbi memahami bahwa tugas suaminya adalah untuk membela kebenaran. Ia menerima keputusan tersebut dengan hati yang kuat, berjanji akan merawat Gatotkaca dengan sebaik-baiknya dan mengajarkannya untuk menjadi seorang pria yang baik dan berbakti.
 
Selama tahun-tahun perpisahan, Dewi Arimbi mendidik Gatotkaca dengan penuh kasih dan ketelitian. Ia mengajarkan putranya tentang kesaktian yang dimilikinya, cara mengendalikan kekuatan dengan bijak, dan pentingnya menggunakan kekuatan untuk membantu orang yang lemah. Gatotkaca tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa, penuh rasa hormat terhadap ibu dan orang tua lainnya, serta memiliki semangat juang yang tinggi untuk membela kebenaran.
 
Selama itu juga, Dewi Arimbi terus menjalankan tugasnya sebagai putri kerajaan Pringgandani, membantu rakyatnya dengan segala cara yang bisa dilakukan. Ia dikenal sebagai sosok yang murah hati dan selalu siap memberikan bantuan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Meskipun sering merindukan Bima, ia tidak pernah mengeluh dan selalu menjaga semangat putranya agar tetap kuat.
 
Bab 4: Munculnya Perang Bharatayuda
 
Kabar tentang perselisihan yang semakin memanas antara pihak Pandawa dan Kurawa akhirnya mencapai telinga Dewi Arimbi dan Gatotkaca. Mereka mendengar bahwa upaya untuk menyelesaikan masalah secara damai telah gagal, dan perang yang besar—yang kemudian dikenal sebagai Perang Bharatayuda—tak terhindarkan lagi.
 
Gatotkaca, yang telah dewasa dan siap untuk membuktikan diri, mengungkapkan keinginannya untuk bergabung dengan pihak Pandawa dan membantu ayahnya dalam perang. Meskipun hati sangat khawatir, Dewi Arimbi memahami bahwa putranya telah siap untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang pejuang kebenaran. Ia memberikan restu kepada Gatotkaca, sekaligus mengingatkannya untuk selalu menjaga hati yang baik dan tidak terbawa emosi dalam medan perang.
 
Sebelum Gatotkaca berangkat, Dewi Arimbi memberikan kepada putranya sebuah amulet yang telah diberi doa dan kesaktiannya—sebagai perlindungan serta tanda cinta seorang ibu yang selalu mengawalinya. Gatotkaca menerima dengan penuh rasa hormat, berjanji akan selalu mengingat ajaran ibu dan berjuang dengan penuh kehormatan.
 
Bab 5: Tragedi di Medan Perang
 
Perang Bharatayuda berlangsung dengan sangat sengit. Kedua pihak bertempur dengan penuh semangat, masing-masing yakin bahwa mereka berjuang untuk kebenaran. Gatotkaca dengan gagah berperang di medan perang, menunjukkan kehebatan kesaktian dan keberaniannya. Ia berhasil mengalahkan banyak pejuang kuat dari pihak Kurawa, menjadi salah satu pahlawan utama yang membantu pihak Pandawa dalam berbagai pertempuran.
 
Namun, takdir memiliki rencana yang berbeda. Pada hari yang gelap dan penuh dengan badai petir, Gatotkaca harus menghadapi Adipati Karna—salah satu pejuang terkuat pihak Kurawa yang terkenal karena keahliannya dalam memanah. Dalam pertempuran yang sangat sengit, Karna mengeluarkan panah sakti bernama Kunta—sebuah panah yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan setiap lawan yang dihadapinya. Tanpa kesempatan untuk menghindar, Gatotkaca terkena panah tersebut dan gugur di medan perang.
 
Berita tentang wafatnya Gatotkaca segera menyebar ke seluruh medan perang. Ketika kabar itu sampai ke telinga Dewi Arimbi, yang telah mengikuti perkembangan perang dari kejauhan, hati ibunya hancur berkeping-keping. Namun, bukan kesedihan yang menguasainya—melainkan semangat keberanian untuk membela kehormatan putranya dan memastikan bahwa pengorbanannya tidak sia-sia.
 
Tanpa ragu, Dewi Arimbi mengubah wujudnya menjadi bentuk raksasa yang tangguh dan melesat ke medan perang. Ia dengan gagah menghadapi pasukan Kurawa, menyerang dengan kekuatan penuh untuk membela nama baik putranya. Meskipun telah berjuang dengan sangat keras dan berhasil mengalahkan banyak pejuang musuh, akhirnya Dewi Arimbi juga gugur di medan perang—berbaring bersama putranya yang sangat dicintainya, sebagai bukti cinta dan pengorbanan seorang ibu yang tidak ada batasnya.
 
Bab 6: Warisan Dewi Arimbi
 
Setelah berakhirnya Perang Bharatayuda, pihak Pandawa dan rakyat banyak mengenang jasa Dewi Arimbi dan Gatotkaca. Kedua sosok tersebut dikenang sebagai pahlawan yang rela berkorban untuk kebenaran dan cinta keluarga.
 
Dalam pewayangan Jawa yang kemudian berkembang, Dewi Arimbi sering digambarkan sebagai sosok putri cantik dengan wajah penuh kasih dan hati yang kuat. Kisahnya menjadi contoh bagi banyak orang tentang makna cinta yang tulus—baik cinta antara suami istri maupun cinta seorang ibu terhadap anaknya. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya datang dari kesaktian atau kekuatan fisik, tetapi juga dari kebaikan hati, kejujuran, dan kesediaan untuk berkorban bagi orang yang dicintai.
 
Hingga kini, nama Dewi Arimbi tetap hidup dalam khazanah budaya Jawa. Kisahnya menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kesetiaan, dan kasih sayang keluarga—nilai-nilai yang terus menjadi pondasi bagi kehidupan masyarakat hingga saat ini.