Angling Darma adalah tokoh legendaris dalam cerita rakyat Jawa yang hidup pada zaman kerajaan Pajajaran, dikenal sebagai pahlawan yang cakap berperang, penuh hikmah, dan selalu menjunjung tinggi keadilan.
Angling Darma dilahirkan dengan nama asli Raden Putra dari pasangan Prabu Jayaperkosa (raja Pajajaran) dan Dewi Supraba. Saat lahir, langit tiba-tiba bersinar terang dan suara merdu terdengar dari langit, yang dipercaya sebagai pertanda bahwa anak ini akan menjadi orang besar.
Di masa kecilnya, Raden Putra menunjukkan bakat luar biasa dalam seni bela diri dan ilmu peperangan. Dia belajar langsung dari para ahli yang diutus oleh raja, serta sering berlatih sendirian di hutan dekat istana. Selain itu, dia juga rajin mempelajari ilmu sastra, filsafat, dan tata negara, sehingga memiliki wawasan yang luas.
Pada usia 17 tahun, Raden Putra meminta izin kepada ayahnya untuk pergi menjelajah negeri dan mencari ilmu dari para bijak. Prabu Jayaperkosa menyetujui dengan hati berat, dan memberikan pedang pusaka bernama Keris Cundamani yang dipercaya memiliki kekuatan gaib.
Selama perjalanannya, dia berhenti di sebuah desa yang sedang dilanda kesusahan karena diserang oleh pasukan bajak laut yang kejam. Tanpa ragu, Raden Putra turun tangan melindungi penduduk desa dan mengalahkan para bajak laut dengan keahlian bela dirinya. Sebagai rasa terima kasih, seorang pemimpin desa yang juga seorang ahli ilmu gaib memberikan dia julukan "Angling Darma" – "Angling" berarti cerdas dan tangguh, sedangkan "Darma" berarti kewajiban dan keadilan.
Setelah itu, Angling Darma melanjutkan perjalanannya dan belajar dari berbagai guru besar. Dia menguasai ilmu peperangan, ilmu alam, hingga ilmu gaib yang digunakan hanya untuk kebaikan.
Ketika Angling Darma kembali ke Pajajaran, dia menemukan bahwa kerajaan sedang dalam bahaya. Kerajaan Bhinukencana yang dipimpin oleh Prabu Kala Bangsa berniat menaklukkan Pajajaran dan telah menyerang beberapa daerah pinggiran.
Sebagai panglima perang, Angling Darma membimbing pasukan Pajajaran dengan cerdik. Dia tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga strategi yang cerdas dan kepekaan terhadap kondisi medan. Dalam pertempuran besar di lereng Gunung Salak, Angling Darma berhasil mengalahkan pasukan Bhinukencana tanpa banyak korban jiwa, karena dia memilih cara damai setelah memiliki keunggulan.
Setelah kemenangan itu, Prabu Kala Bangsa menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Angling Darma menyarankan agar kedua kerajaan menjalin persahabatan dan kerja sama, yang kemudian membawa kemakmuran bagi kedua daerah.
Selain berperang untuk kerajaan, Angling Darma juga dikenal selalu siap membantu rakyat yang tertindas. Ada cerita bahwa dia pernah mengalahkan seorang raja zalim di daerah pedalaman yang menyiksa rakyatnya dengan pajak yang berat. Dia tidak menggunakan kekerasan secara berlebihan, melainkan dengan cara meyakinkan raja tersebut tentang pentingnya keadilan dan kasih sayang kepada rakyat.
Pada suatu waktu, hutan di sekitar kerajaan juga diganggu oleh makhluk gaib yang mengganggu aktivitas penduduk desa. Angling Darma pergi ke hutan dan berkomunikasi dengan makhluk tersebut, menemukan bahwa mereka kesusahan karena habitat mereka terganggu oleh penebangan liar. Dia kemudian bekerja sama dengan rakyat untuk membuat peraturan yang melindungi hutan sekaligus memenuhi kebutuhan hidup penduduk.
Setelah bertahun-tahun melayani kerajaan dan rakyat, Angling Darma memilih untuk mundur dari jabatan panglima perang pada usia lanjut. Dia tinggal di sebuah tempat yang tenang dekat sungai, dan sering memberikan nasihat kepada pemuda yang ingin belajar ilmu dan kebajikan.
Sebelum wafat, dia menyerahkan Keris Cundamani kepada putranya dan menyampaikan pesan penting: "Kekuatan bukan untuk menyakiti, melainkan untuk melindungi yang lemah; kebijaksanaan bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan untuk menciptakan kedamaian."
Kisah Angling Darma terus diperkenalkan dari generasi ke generasi sebagai contoh pahlawan yang tidak hanya tangguh, tetapi juga penuh kasih sayang dan hikmah.