Kamis, 05 Februari 2026

Kisah Rakyat Angling Darma.

Di kerajaan Malyapura yang makmur, dipimpin oleh Prabu Darmawangsa yang bijaksana, hidup seorang pangeran muda bernama Angling Darma. Sejak kecil, dia menunjukkan keunikan yang luar biasa – tidak hanya cerdas dan gagah berani, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan segala makhluk hidup yang berkaki empat, bersayap, maupun berkaki banyak. Para nelayan sering melihatnya sedang berbincang santai dengan ikan di tepi sungai, sementara petani bercerita bahwa pangeran bisa meminta bantuan rusa dan kerbau untuk merawat ladang mereka.
 
Selain kemampuan luar biasa itu, Prabu Darmawangsa juga memberikan kepada putranya sebuah senjata ajaib yang disebut Kris Cundamani. Kris itu tidak hanya tajam melumpuhkan musuh dengan satu tusukan, tetapi juga bisa memberikan kejelasan pikiran pada pemakainya saat menghadapi kesulitan.
 
Pada suatu hari, Angling Darma pergi berburu ke hutan yang jauh dari istana. Saat tengah beristirahat di bawah pohon beringin tua, dia mendengar suara tangisan yang lembut. Menelusuri suara itu, dia menemukan seorang gadis cantik dengan rambut hitam seperti malam dan mata yang jernih seperti air matahari pagi. Gadis itu adalah Dewi Rini, putri dari seorang pemimpin suku yang tinggal di pedalaman hutan.
 
Dewi Rini sedang menangis karena kelompok harimau liar akan menyerang kampungnya, dan dia tidak tahu bagaimana cara melindungi rakyatnya. Tanpa ragu, Angling Darma menggunakan kemampuannya untuk berbicara dengan harimau. Dia menjelaskan bahwa rakyat suku Dewi Rini tidak pernah menyakiti hewan-hewan di hutan, dan bahkan sering memberi makan binatang yang kesusahan. Terpengaruh oleh kata-kata bijaksana sang pangeran, harimau memimpin kelompoknya pergi dan tidak pernah lagi mengganggu kampung itu.
 
Sejak saat itu, cinta tumbuh di antara Angling Darma dan Dewi Rini. Mereka sering bertemu di tepi sungai atau di bawah pohon beringin tempat mereka pertama kali bertemu, berbagi cerita dan impian tentang dunia yang lebih baik. Setelah mendapatkan izin dari Prabu Darmawangsa dan pemimpin suku Dewi Rini, mereka merencanakan pernikahan yang akan menyatukan kerajaan Malyapura dengan suku di pedalaman.
 
Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Prabu Kala Bangsa, raja dari kerajaan tetangga yang iri dengan kemakmuran Malyapura, mendengar tentang kecantikan Dewi Rini dan memutuskan untuk mengambilnya dengan paksa. Dia mengirim utusan ke istana Malyapura dengan tuntutan yang tidak masuk akal – jika Dewi Rini tidak diberikan kepadanya, dia akan menyerang kerajaan Malyapura dan membunuh rakyatnya.
 
Angling Darma menolak tuntutan itu dengan tegas, tetapi dia tidak ingin terjadi peperangan yang akan merenggut nyawa banyak orang. Dengan kecerdasannya, dia mengusulkan untuk mengadakan sebuah pertandingan tantangan yang akan menentukan siapa yang layak memiliki Dewi Rini. Prabu Kala Bangsa yang sombong menyetujui, berpikir dia akan dengan mudah mengalahkan Angling Darma.
 
Tantangan pertama adalah menyelesaikan teka-teki yang dibuat oleh penyihir tua kerajaan Malyapura. Teka-teki itu menyatakan: "Apa yang bisa menghancurkan gunung, tetapi tidak bisa merusak sehelai daun; bisa membuat lautan mengering, tetapi tidak bisa membuat tanah kering?" Prabu Kala Bangsa tidak bisa menemukan jawabannya, tetapi Angling Darma dengan tenang menjawab – "Waktu". Waktu bisa menghancurkan gunung melalui erosi, tetapi tidak akan merusak daun yang baru tumbuh; bisa membuat lautan mengering seiring berjalannya abad, tetapi tanah akan selalu bisa tumbuh kembali dengan air hujan.
 
Tantangan kedua adalah mengalahkan binatang buas yang dirilis oleh Prabu Kala Bangsa. Namun, Angling Darma tidak perlu menggunakan kekuatan fisik – dia hanya perlu berbicara dengan binatang itu, yang ternyata adalah seekor singa yang pernah diselamatkannya dari jeruji besi saat masih kecil. Singa itu dengan senang hati berdiri di sisi Angling Darma, membuat Prabu Kala Bangsa dan pasukannya takut dan melarikan diri.
 
Setelah kekalahan Prabu Kala Bangsa, kerajaan Malyapura kembali tenteram. Namun, tidak lama kemudian, sebuah bencana datang – penyakit ganas menyerang rakyat, dan ladang-ladang menjadi tandus karena kurangnya hujan. Angling Darma tidak tinggal diam; dia pergi mencari penyebab masalah itu ke puncak gunung tertinggi di sekitar kerajaan.
 
Di sana, dia bertemu dengan roh gunung yang marah karena manusia telah menebang pohon secara sembarangan dan mencemari sumber air. Dengan sikap rendah hati, Angling Darma meminta maaf atas kesalahan rakyatnya dan berjanji akan mengajarkan mereka untuk hidup rukun dengan alam. Roh gunung terpesona oleh kejujuran dan kecerdasan Angling Darma, lalu memberikan air suci yang bisa menyembuhkan penyakit dan meminta hujan turun untuk menyuburkan ladang.
 
Sejak saat itu, Angling Darma memimpin rakyatnya dengan bijaksana, mengajarkan pentingnya menghormati alam dan sesama makhluk hidup. Dia dan Dewi Rini hidup bahagia dan memiliki banyak anak yang juga diajarkan untuk menjadi pemimpin yang penuh kasih dan cerdas.
 
Legenda tentang keberanian dan kecerdasan Angling Darma terus hidup hingga kini. Ceritanya sering diceritakan dalam pertunjukan wayang kulit dan wayang orang di seluruh Jawa, menjadi contoh bagi generasi muda tentang pentingnya menggunakan akal sehat, kekuatan, dan kasih sayang untuk melindungi yang lemah dan melawan kejahatan.
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar