Pada zaman dahulu kala, ketika alam semesta masih dalam keseimbangan yang halus, Dewa Siwa sedang berdiam bersama Dewi Uma, sang istri yang memiliki kecantikan yang mempesona hingga membuat langit dan bumi terpana. Saat melihatnya, sebuah benih dari Dewa Siwa terjatuh ke dalam lautan.
Lautan membawa benih itu jauh ke kedalaman, hingga akhirnya ditemukan oleh Dewa Brahma dan Wisnu. Kedua dewa itu merasakan kekuatan besar yang terkandung di dalamnya, sehingga mereka memutuskan untuk merawatnya dengan penuh perhatian. Setelah waktu yang lama, dari benih itu lahir seorang raksasa bertaring besar dengan wajah yang menyeramkan—ia adalah Batara Kala, yang kemudian akan menjadi penguasa waktu dan kematian.
Setelah dewasa, Batara Kala tinggal di dunia bawah tanah bersama pasangannya, Setesuyara. Ia melambangkan hukum alam yang tak bisa dielakkan; waktu yang terus berjalan dan merusak segala sesuatu yang ada di ruang dan waktu. Sebagai tanda kehormatan, ia berhak memakan manusia yang lahir pada Wuku Wayang—wuku kelahiran dirinya sendiri.
Salah satu yang terancam adalah Batara Kumara, adik kandungnya yang lahir pada wuku tersebut. Ketika Batara Kala mulai mengejar adiknya untuk memenuhi haknya, langit dan bumi bergemetar. Melihat hal ini, para dewa dan manusia melakukan ritual ruwatan—penyucian yang sakral—untuk menghentikan pengejaran itu. Berkat ritual tersebut, Batara Kumara selamat, dan kesepakatan dibuat agar orang yang lahir pada Wuku Wayang bisa diselamatkan melalui upacara yang tepat.
Selain itu, Batara Kala juga dikenal dalam mitos gerhana. Ia diyakini mengejar dan mencoba memakan Batara Surya sang matahari atau Batara Candra sang bulan sebagai balas dendam atas nasibnya yang dianggap tidak adil. Ketika ia hampir berhasil menggigit salah satu dari mereka, gerhana terjadi di dunia manusia. Hanya ketika para dewa dan manusia berdoa serta melakukan upacara, ia akan melepaskan mangsanya dan cahaya kembali menyinari bumi.
Untuk melindungi orang-orang yang lahir pada Wuku Wayang, masyarakat Jawa-Bali mengadakan ritual Sapuh Leger—pertunjukan wayang khusus yang dipercaya dapat menjauhkan bahaya dari mangsa Batara Kala. Hiasan kepala raksasanya juga sering ditemukan di candi-candi Jawa, sebagai pengingat akan keberadaannya yang melambangkan nafsu dan kekacauan, namun juga sebagai simbol bahwa tidak ada yang bisa melawan alur waktu dan hukum alam yang mutlak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar