Pada abad ke-1 Masehi, wilayah Medang – tanah yang subur dengan sungai yang jernih dan hutan yang rindang – dikuasai oleh Dewata Cengkar, seorang makhluk gaib dengan kekuatan luar biasa. Dia bukan raja yang dipilih rakyat, melainkan penguasa yang datang dengan paksa dan mengklaim wilayah itu sebagai miliknya.
Dewata Cengkar dikenal sangat kejam: dia memaksa rakyat untuk menyerahkan separuh hasil panen mereka setiap bulan, memerintahkan kaum muda untuk bekerja tanpa bayaran membangun istana batu yang besar, dan jika ada yang berani menentangnya, dia akan berubah menjadi bentuk binatang buas seperti naga raksasa atau harimau belang raksasa untuk menghukum mereka. Rakyat hidup dalam ketakutan, tidak berani mengeluh atau bergerak bebas. Beberapa kali mereka mencoba mengangkat senjata, tetapi tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan Dewata Cengkar yang bisa mengendalikan angin dan tanah.
Pada suatu musim hujan, seorang pemuda gagah dengan janggut hitam rapi dan mata yang penuh kebijaksanaan tiba di wilayah Medang. Dia adalah Prabu Aji Saka, yang berasal dari tanah jauh dan telah mendengar tentang penderitaan rakyat Medang. Sebelum berangkat, dia bertemu dengan Dewa Brahma di dalam mimpi, yang memberinya sebuah senjata ajaib bernama Tombak Trisula Wisnu – tombak yang memiliki tiga mata tajam yang masing-masing mewakili kebenaran, kebaikan, dan perdamaian. Dewa Brahma juga memberinya nasihat: "Kekuatan fisik tidak akan mengalahkan kejamannya. Gunakan akal sehat dan kasih sayang untuk memenangkan pertempuran ini."
Setelah tiba, Prabu Aji Saka tidak langsung mencari Dewata Cengkar. Sebaliknya, dia menghabiskan beberapa hari untuk bertemu rakyat, mendengar keluhan mereka, dan membantu mereka dengan pekerjaan sehari-hari. Dia membantu petani menyiram ladang, mengobati orang sakit dengan tumbuhan obat, dan mengajarkan anak-anak cara membaca dan menulis. Rakyat mulai merasa harapan kembali dan melihat Prabu Aji Saka sebagai sosok yang bisa menyelamatkan mereka.
Ketika berita tentang kedatangannya sampai ke telinga Dewata Cengkar, dia sangat marah. "Siapa pemuda yang berani mengganggu kekuasaan saya?" teriaknya. Dia segera berubah menjadi naga raksasa dengan tubuh sebesar pohon beringin tua dan sisik yang berkilau seperti logam, lalu pergi mencari Prabu Aji Saka.
Pertarungan dimulai di dataran terbuka di dekat sungai Bengawan Solo. Dewata Cengkar dengan cepat menyerang dengan ekornya yang kuat, mencoba menghancurkan Prabu Aji Saka. Namun, Prabu Aji Saka dengan gesit menghindari serangan itu dan menggunakan kecepatannya untuk mengelilingi musuhnya.
Setelah serangan dengan bentuk naga tidak berhasil, Dewata Cengkar berubah menjadi harimau belang raksasa dengan gigi yang tajam seperti pisau dan cakar yang bisa mencakar batu. Dia melompat dengan cepat menuju Prabu Aji Saka, tetapi kali ini Prabu Aji Saka tidak menghindar – dia mengangkat Tombak Trisula Wisnu dan menyuarakan kata-kata doa. Tombak itu memancarkan cahaya keemasan yang membuat harimau tidak bisa melihat dengan jelas.
Pertarungan berlangsung selama tiga hari dan tiga malam. Dewata Cengkar terus berubah bentuk – kadang menjadi ular raksasa, kadang menjadi burung elang besar, bahkan pernah menjadi badai pasir yang menghalangi pandangan. Prabu Aji Saka tidak pernah menyerah; dia menggunakan strategi berbeda untuk setiap bentuk musuhnya. Ketika Dewata Cengkar menjadi badai pasir, Prabu Aji Saka menggunakan kekuatan tombaknya untuk memanggil hujan yang menyiram pasir dan membuatnya menetap. Ketika dia menjadi ular raksasa, Prabu Aji Saka menggunakan tali dari kulit pohon untuk mengikat tubuhnya tanpa menyakitinya.
Pada hari keempat, ketika kedua belah pihak sudah lelah, Dewata Cengkar kembali ke bentuk aslinya – seorang pria tinggi dengan wajah kasar dan mata yang penuh kemarahan. "Mengapa kamu terus melawan saya?" tanyanya dengan suara yang bergema. "Saya adalah yang paling kuat di wilayah ini! Saya layak memerintah!"
Prabu Aji Saka menjatuhkan tombaknya dan mendekatinya dengan tenang. "Kekuatan tidak membuat seseorang layak memerintah," jawabnya dengan suara yang jelas dan penuh rasa hormat. "Seorang pemimpin harus melayani rakyatnya, bukan menyiksa mereka. Lihatlah tanah ini – ia subur dan bisa memberi makan semua orang, tetapi kamu membuat rakyat hidup dalam kelaparan dan ketakutan. Apa yang kamu dapatkan dengan kekuasaan yang tidak disukai rakyat?"
Dengar kata-kata itu, Dewata Cengkar merasa tersentuh. Untuk pertama kalinya, dia melihat wajah-wajah rakyat Medang yang tidak lagi penuh ketakutan, tetapi penuh harapan. Dia menyadari bahwa selama ini dia telah menggunakan kekuatannya dengan salah. Tanpa berkata apa-apa, dia menjentikkan jari dan istana batu yang dia perintahkan dibangun berubah menjadi taman yang indah dengan berbagai macam bunga. "Aku mengakui kekalahan saya," ujarnya dengan suara yang lembut. "Aku akan menyerahkan kekuasaan kepadamu dan membantu rakyat Medang sebagai penjaga tanah dan sungai."
Setelah itu, Prabu Aji Saka mendirikan kerajaan Medang dan menjadi raja yang adil dan bijaksana. Dia membuat peraturan yang menguntungkan rakyat, membangun tempat ibadah, sekolah, dan tempat perlindungan bagi orang miskin. Dewata Cengkar benar-benar berubah – dia menjadi penjaga kerajaan yang setia dan menggunakan kekuatannya untuk melindungi tanah dari bencana alam seperti banjir dan gempa bumi.
Rakyat Medang hidup bahagia dan makmur. Kisah kemenangan Prabu Aji Saka atas Dewata Cengkar menjadi legenda yang diceritakan dari generasi ke generasi, menjadi simbol bahwa kekuatan sejati bukanlah untuk menindas, melainkan untuk melayani dan membawa kebaikan bagi semua orang. Kerajaan Medang kemudian menjadi cikal bakal kerajaan-kerajaan besar yang muncul di Jawa setelahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar