Minggu, 22 Februari 2026

Bhisma: Pahlawan dengan Sumpah Tak Terlupakan

Di kerajaan Hastinapura, lahirlah seorang putra mulia dari Raja Shantanu dan Dewi Gangga—dia diberi nama Dewabrata, yang nantinya akan dikenal sepanjang masa sebagai Bhisma. Dengan kecerdasan yang luar biasa dan kekuatan tubuh yang mengagumkan, dia tumbuh menjadi pemuda yang layak untuk menjabat raja. Namun, takdir telah menyusun jalan yang berbeda baginya.
 
Ketika Raja Shantanu ingin menikahi Satyavati, ibu dari Vichitravirya dan Chitrangada, keluarganya memberikan syarat bahwa hanya keturunan Satyavati yang boleh menjadi pewaris tahta. Untuk memenuhi keinginan ayahnya dan menjaga keharmonisan kerajaan, Dewabrata mengucapkan sumpah yang abadi: "Aku tidak akan pernah menikah, tidak akan memiliki keturunan, dan tidak akan pernah menguasai tahta Hastinapura!" Dari saat itu, dia dikenal sebagai Bhisma—yang berarti "sumpah yang mengerikan".
 
Sepanjang hidupnya, Bhisma tetap setia pada sumpahnya. Ia menjaga dan mendidik adik tirinya, Vichitravirya, serta cucu-cucunya—para Kaurawa dan Pandawa. Kemampuan bertarungnya tidak tertandingi; dia adalah salah satu pejuang terhebat zamannya, mahir dalam segala jenis senjata dan taktik perang. Kesetiaannya kepada keluarga dan negara menjadi contoh bagi semua orang di Hastinapura.
 
Ketika perselisihan antara Kaurawa dan Pandawa mencapai puncaknya dan perang Kurukshetra pecah, Bhisma terpaksa memimpin pasukan Kaurawa. Meskipun ia tahu bahwa pihak Kaurawa berada di pihak yang salah, kesetiaannya pada kerajaan membuatnya tidak dapat berpaling. Selama hari-hari perang, dia bertempur dengan kehebatan yang membuat pasukan Pandawa kesusahan. Banyak pahlawan Pandawa jatuh di bawah serangannya, dan tampaknya tidak ada yang dapat mengalahkannya.
 
Namun, ada satu cara untuk menghentikan Bhisma. Ia pernah berjanji bahwa dia tidak akan pernah menyakiti orang yang pernah hidup sebagai wanita. Shikhandi—pangeran yang pernah memiliki kehidupan sebagai wanita sebelum menjadi laki-laki—ditempatkan di depan Arjuna ketika mereka menghadapi Bhisma. Ketika Arjuna menembakkan panahnya dengan bimbingan Shikhandi, panah-panah itu menancap ke tubuh Bhisma, membuatnya jatuh ke tanah. Tubuhnya tidak menyentuh bumi karena ditopang oleh ribuan panah, seperti sebuah tempat tidur yang terbuat dari logam.
 
Meskipun terluka parah, Bhisma tidak langsung meninggal. Dewa-dewa memberinya kesempatan untuk memilih waktu kematiannya sendiri. Ia memilih untuk menunggu hingga musim Uttarayana tiba—saat matahari bergerak ke arah utara, yang dianggap sebagai waktu suci dan baik bagi seorang pahlawan untuk kembali ke alam semesta. Setelah musim tiba, Bhisma mengambil nafas terakhirnya, meninggalkan dunia dengan kehormatan dan kehormatan yang layak bagi sosok legendarisnya.
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar