Selasa, 14 Oktober 2025

Bayu dan Perlindungan Dewi Durga.

Di sebuah desa kecil di kaki Gunung Semeru, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bayu. Bayu lahir pada hari Tumpek Wayang, hari yang sakral namun juga menakutkan bagi sebagian orang. Menurut kepercayaan desa, anak yang lahir pada hari itu rentan menjadi mangsa Bhatara Kala, raksasa penguasa waktu yang mengerikan.
 
Bhatara Kala, putra Dewa Siwa dan Dewi Durga, dikenal sebagai personifikasi waktu yang tak terhindarkan. Wujudnya mengerikan, dengan taring tajam dan nafsu makan yang tak terpuaskan. Konon, ia lahir dari kama Dewa Siwa dan menjadi penguasa waktu yang tak kenal ampun.
 
Bayu termasuk dalam kategori anak sukerta, yaitu anak-anak yang memiliki ciri-ciri khusus yang membuat mereka rentan terhadap gangguan Bhatara Kala. Orang tuanya, Pak Made dan Bu Ayu, sangat khawatir. Mereka tahu bahwa satu-satunya cara untuk melindungi Bayu adalah dengan melakukan upacara ruwatan, sebuah ritual pembersihan untuk memohon perlindungan dari para dewa.
 
Namun, biaya upacara ruwatan sangat mahal. Pak Made hanyalah seorang petani kecil, dan mereka tidak memiliki cukup uang untuk melaksanakan upacara tersebut. Mereka berusaha mencari pinjaman, tetapi tidak ada yang bersedia membantu. Waktu terus berjalan, dan hari Tumpek Wayang semakin dekat.
 
Bu Ayu tidak menyerah. Dia teringat akan cerita-cerita tentang Dewi Durga, ibu dari Bhatara Kala, yang memiliki kekuatan untuk melindungi umatnya. Setiap malam, Bu Ayu berdoa dengan sungguh-sungguh di depan altar keluarga, memohon belas kasihan Dewi Durga.
 
Pada suatu malam, saat Bu Ayu sedang berdoa, dia mendengar suara lembut memanggil namanya. "Ayu," suara itu berbisik, "Aku mendengar doamu. Jangan takut, aku akan melindungi Bayu."
 
Bu Ayu terkejut dan melihat sekeliling, tetapi tidak ada siapa-siapa. Dia yakin bahwa itu adalah suara Dewi Durga yang menjawab doanya. Dengan hati yang penuh harapan, Bu Ayu menceritakan pengalamannya kepada Pak Made.
 
Keesokan harinya, saat matahari terbit, sebuah keajaiban terjadi. Seorang pedagang kaya dari kota datang ke desa. Dia mendengar tentang kesulitan Pak Made dan Bu Ayu, dan dengan sukarela menawarkan bantuan untuk membiayai upacara ruwatan Bayu.
 
Pak Made dan Bu Ayu sangat bersyukur. Mereka segera mempersiapkan upacara ruwatan dengan bantuan seluruh warga desa. Pada hari Tumpek Wayang, upacara dilaksanakan dengan khidmat dan meriah. Seorang pendeta memimpin ritual, memohon perlindungan dari Bhatara Kala dan para dewa lainnya.
 
Saat upacara berlangsung, tiba-tiba langit menjadi gelap dan angin bertiup kencang. Semua orang merasa ketakutan, seolah-olah Bhatara Kala benar-benar datang untuk menjemput Bayu. Namun, pendeta terus melantunkan mantra dengan khusyuk, dan Bu Ayu terus berdoa dengan air mata berlinang.
 
Tiba-tiba, cahaya terang muncul dari langit. Dewi Durga muncul di hadapan mereka, menunggangi singa dan memegang senjata-senjata yang berkilauan. Bhatara Kala, yang melihat ibunya datang, langsung gentar dan menghilang dalam kegelapan.
 
Dewi Durga tersenyum pada Bayu dan berkata, "Jangan takut, anakku. Aku akan selalu melindungimu. Ingatlah untuk selalu berbuat baik dan menghormati waktu."
 
Sejak saat itu, Bayu tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan berbudi pekerti luhur. Dia selalu ingat akan perlindungan Dewi Durga dan berusaha untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Bayu menjadi pengingat bagi seluruh desa bahwa meskipun Bhatara Kala melambangkan kekuatan alam yang tak bisa dilawan, kebaikan dan keyakinan pada dewa dapat memberikan perlindungan dan harapan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar