Minggu, 24 Mei 2026

Maya dan Cahaya Durga di Kaki Himalaya

Maya dan Cahaya Durga di Kaki Himalaya
 
Di sebuah desa kecil yang tersembunyi di lembah hijau, tepat di kaki pegunungan Himalaya yang menjulang tinggi dan hawanya dingin, hiduplah seorang gadis bernama Maya. Desa itu dikelilingi oleh bukit-bukit berbalut hutan pinus yang rimbun, dengan aliran sungai jernih yang turun dari gletser di atas, membawa air kehidupan yang dingin dan segar. Udara di sana selalu berbau harum bunga liar dan tanah basah, serta dipenuhi oleh suara gemercik daun dan kicauan burung yang bergema di antara tebing-tebing batu. Penduduk desa hidup sederhana, bercocok tanam di teras-teras bukit, memelihara ternak, dan menjaga tradisi leluhur yang telah diwariskan turun-temurun. Bagi mereka, gunung itu bukan sekadar tumpukan batu dan salju, melainkan tempat suci, tempat tinggal para dewa, dan penjaga alam yang agung.
 
Sejak kecil, Maya selalu menjadi gadis yang berbeda dari anak-anak lainnya. Dia tidak terlalu suka bermain boneka atau menenun seperti teman-temannya. Sebaliknya, ia lebih sering duduk diam di dekat kakek atau para pendeta tua di kuil desa, mendengarkan dengan saksama setiap kata yang keluar dari mulut mereka. Cerita-cerita tentang para dewa dan dewi, tentang kebaikan yang selalu mengalahkan kejahatan, dan tentang kekuatan yang lahir dari ketulusan hati, selalu membakar semangat di dada kecilnya. Dari semua kisah yang pernah didengarnya, satu cerita yang paling membuatnya kagum, yang membuat matanya berbinar setiap kali disebut namanya, adalah kisah tentang Dewi Durga. Dewi yang agung, pejuang yang gagah berani, yang menunggangi seekor singa buas yang setia, memegang berbagai senjata di sepuluh tangannya, dan turun ke bumi untuk menghancurkan segala bentuk kejahatan dan penindasan.
 
Maya sering membayangkan sosok itu dalam benaknya: sosok wanita yang cantik namun berwibawa, tatapan matanya tajam dan berapi-api namun penuh kasih sayang bagi mereka yang lemah dan tertindas. Ia mengagumi bagaimana Dewi Durga tidak takut menghadapi musuh sekuat apa pun, bagaimana ia berjuang tanpa lelah demi melindungi kebenaran. Bagi Maya, Dewi Durga bukan sekadar dewi yang diceritakan dalam dongeng, melainkan teladan, simbol kekuatan yang sejati, dan pelindung yang selalu ada di sana. Setiap kali Maya merasa takut atau sedih, ia akan menutup matanya dan membayangkan wajah Dewi Durga, dan seketika itu juga, rasa berani akan tumbuh kembali di hatinya.
 
Setiap tahun, saat musim gugur tiba dan udara menjadi lebih sejuk, desa itu akan bersiap menyambut festival besar, Navaratri, sembilan malam suci yang didedikasikan untuk memuliakan Dewi Durga. Ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Maya dan seluruh penduduk desa. Selama sembilan hari itu, jalan-jalan desa dihiasi dengan kain-kain warna-warni dan lampu-lampu minyak yang berkelap-kelip. Di kuil utama, patung Dewi Durga dipasang dengan megah, dihiasi bunga-bunga segar, kain sutra, dan perhiasan yang berkilauan. Penduduk desa datang berbondong-bondong, membawa persembahan berupa buah-buahan, bunga, dan dupa yang wangi. Doa-doa dilantunkan bersahut-sahutan, nyanyian pujian menggema memenuhi lembah, dan aroma dupa serta kemenyan memenuhi udara.
 
Bagi Maya, Durga Puja adalah momen paling sakral. Dia akan bangun paling pagi, memakai pakaian terbaiknya, dan berlari kecil menuju kuil agar bisa berada di barisan paling depan. Di sana, dia berlutut dengan khusyuk, menatap wajah Dewi Durga dengan penuh rasa hormat dan kekaguman. Dia berdoa bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk seluruh desa, untuk kesehatan, untuk keselamatan, dan untuk kedamaian. Dia selalu memohon agar Dewi yang penuh kasih itu senantiasa menjaga desanya, menjauhkan bencana, dan melindungi setiap orang dari bahaya apa pun. Dalam doa-doanya yang polos namun sungguh-sungguh, Maya sering berbisik, "Wahai Ibu Agung, Engkau adalah kekuatan di balik segala kekuatan, jagalah kami agar selalu berada di jalan yang benar, dan berikan kami keberanian untuk berbuat baik."
 
Tahun-tahun berlalu dengan damai, hingga suatu saat, kedamaian yang telah dinikmati desa itu selama berpuluh-puluh tahun tiba-tiba runtuh dan berubah menjadi mimpi buruk. Di wilayah-wilayah yang jauh di seberang gunung, ada seorang raja bernama Mahabala. Raja ini dikenal kejam, serakah, dan berhati batu. Dia tidak takut pada dewa, tidak peduli pada hukum, dan satu-satunya tujuannya adalah memperluas kekuasaannya serta mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, tidak peduli berapa banyak orang yang harus menderita atau menderita kelaparan karenanya. Pasukan Mahabala dikenal ganas, bersenjata lengkap, dan tak terkalahkan di mata rakyat kecil. Mereka bergerak dari satu tempat ke tempat lain, menaklukkan desa-desa, merampas segala yang berharga, dan menindas penduduknya dengan peraturan yang kejam serta pajak yang tidak masuk akal.
 
Berita tentang kedatangan Mahabala akhirnya sampai juga ke desa kaki gunung itu. Ketakutan mulai merayap masuk ke dalam hati setiap warga. Mereka tahu, desa mereka terpencil dan damai, namun kekayaan hasil buminya yang melimpah pasti akan menarik perhatian raja yang rakus itu. Dan kekhawatiran itu menjadi kenyataan. Suatu sore yang kelabu, saat matahari bersembunyi di balik awan tebal, debu terlihat mengepul dari jalan setapak yang menuju masuk ke desa. Suara derap kuda dan teriakan kasar terdengar mendekat. Pasukan Mahabala datang menyerang tanpa peringatan. Mereka masuk ke desa dengan kasar, mengusir warga dari rumah mereka, merampas hasil panen yang baru saja dipetik dari ladang-ladang yang subur, mengambil ternak, dan membawa pergi segala sesuatu yang berharga.
 
Raja Mahabala sendiri datang dengan wajah angkuh, duduk di atas kuda besar yang dihiasi emas, dikelilingi oleh pengawal yang membawa pedang terhunus. Dia mengumumkan bahwa mulai hari itu, desa itu adalah miliknya, bahwa setiap warga wajib menyerahkan separuh dari apa yang mereka miliki, dan siapa pun yang berani menentang akan dihukum berat atau dibunuh begitu saja. Tidak ada yang berani melawan. Penduduk desa hanyalah petani dan pengrajin, orang-orang damai yang tidak memegang senjata dan tidak tahu cara berperang. Mereka hanya bisa menunduk diam, menahan tangis dan amarah di dada, menyaksikan harta benda mereka diambil paksa, serta melihat istri dan anak-anak mereka ketakutan.
 
Sejak hari itu, kesengsaraan menyelimuti desa yang dulunya bahagia itu. Wajah-wajah ceria berubah menjadi pucat dan sedih. Ladang-ladang yang dulu ditanami dengan penuh harap kini dikerjakan dengan berat hati, karena mereka tahu hasilnya nanti akan diambil oleh orang lain. Banyak orang mulai kehilangan harapan. Mereka berpikir bahwa nasib mereka sudah tertutup, bahwa mereka tidak berdaya melawan kekuatan sebesar itu, dan bahwa mereka hanya bisa pasrah menerima segala perlakuan buruk itu sebagai takdir. Keputusasaan terasa begitu pekat, menggantung berat di udara, bahkan di saat festival Navaratri tiba pun, doa-doa yang dilantunkan terasa lemah dan penuh ratapan, bukan lagi pujian sukacita.
 
Namun, di tengah keputusasaan itu, ada satu hati yang tidak mau menyerah, satu jiwa yang masih menyala dengan api keberanian yang tak kunjung padam. Itu adalah Maya. Meski masih muda, meski tubuhnya kecil dan lemah seperti gadis desa lainnya, di dalam dadanya berdenyut hati yang kuat dan teguh. Dia tidak bisa menerima keadaan di mana orang-orang baik harus menderita, di mana kejahatan berkuasa, dan di mana ketidakadilan berjalan bebas tanpa ada yang berani menghentikannya. Setiap kali dia melihat tetua desa menunduk lelah, atau mendengar tangis anak-anak yang kelaparan karena makanan mereka dirampas, rasa sakit bercampur amarah terasa menyayat hatinya.
 
Di saat-saat seperti itu, ingatannya kembali terbang ke kisah-kisah yang sering didengarnya. Dia teringat akan kisah agung Dewi Durga, bagaimana dewi itu diciptakan dari gabungan kekuatan seluruh dewa, turun ke bumi untuk menghadapi Mahishasura, raja iblis yang sangat kuat, licik, dan kejam. Mahishasura telah menaklukkan dunia, membuat para dewa takut dan lari bersembunyi, sama seperti yang dilakukan Mahabala sekarang. Namun, Dewi Durga tidak gentar. Dia bertempur berhari-hari, menggunakan segala kebijaksanaan dan kekuatannya, hingga akhirnya berhasil menaklukkan iblis itu dan mengembalikan kedamaian. “Jika Dewi Durga bisa mengalahkan kejahatan yang sebesar itu,” batin Maya bertekad keras, “maka tidak mungkin kita hanya diam saja membiarkan desa kita hancur.”
 
Dengan tekad yang membara dan keyakinan yang kokoh, Maya mengambil keputusan besar. Suatu pagi, saat kabut masih tebal menyelimuti lembah dan desa masih dalam kebisuan, Maya berjalan menyusuri jalan setapak yang terjal dan berbatu, menanjak ke atas bukit di belakang desa. Di puncak bukit itu, jauh dari hiruk-pikuk dan penderitaan di bawah, berdiri sebuah kuil tua yang kecil dan sederhana, yang didedikasikan khusus untuk Dewi Durga. Kuil itu jarang dikunjungi karena letaknya yang sulit, namun bagi Maya, tempat itu adalah tempat paling suci dan paling dekat dengan langit.
 
Sesampainya di sana, napasnya terengah-engah karena mendaki bukit yang curam, namun dia tidak peduli. Dia masuk ke dalam ruangan kuil yang remang-remang, beraroma tanah kering dan bunga kering. Di sana, di atas altar batu, terdapat patung sederhana Dewi Durga yang terbuat dari batu, yang dipahat oleh nenek moyang mereka berabad-abad lalu. Patung itu tampak sederhana namun sorot matanya terasa hidup dan tajam, seolah mengawasi siapa pun yang datang. Maya berlutut di lantai yang dingin, menekan kedua telapak tangannya di dada, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di sanalah, di tempat yang sepi dan suci itu, dia mencurahkan segala isi hatinya, segala rasa sakit, ketakutan, dan tekadnya.
 
"Ya Dewi Durga, Ibu segala kekuatan," bisiknya dengan suara bergetar namun jelas, matanya mulai basah oleh air mata ketulusan. "Engkau lahir untuk melindungi yang lemah dan menghancurkan kejahatan. Engkau adalah simbol keberanian dan keadilan. Lihatlah desaku, lihatlah rakyatmu yang menderita. Raja Mahabala telah datang dan menindas kami, kami dirampas hak kami, kami dipenuhi ketakutan. Kami kecil dan lemah, kami tidak memiliki pedang atau pasukan. Tapi kami tahu bahwa apa yang dilakukan Mahabala itu salah, itu jahat. Berikanlah aku kekuatan, ya Ibu. Berikanlah aku keberanian. Bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk melindungi desaku, untuk melindungi orang-orang yang kucintai. Tunjukkanlah padaku jalan untuk mengusir kejahatan ini, sama seperti Engkau pernah mengusir kejahatan dahulu kala."
 
Maya terus berdoa, berulang kali, dengan sepenuh hati, membiarkan seluruh jiwanya terbuka dan menyerahkan segalanya kepada kekuatan yang lebih besar. Dia tidak meminta kekuatan untuk berkuasa, dia hanya meminta kekuatan untuk berbuat kebaikan dan membela kebenaran. Saat doanya mencapai puncaknya, saat rasa pasrah dan keyakinannya memuncak, tiba-tiba hal yang ajaib terjadi. Udara di dalam kuil itu berubah menjadi hangat. Cahaya matahari yang tadinya terhalang kabut, tiba-tiba menembus masuk lewat celah-celah dinding dan jendela, berkilauan dengan sinar yang sangat terang, keemasan, dan menyilaukan namun tidak menyakitkan mata. Seluruh ruangan itu dipenuhi cahaya yang menyilaukan itu, dan aroma bunga-bunga surgawi yang manis semerbak memenuhi udara.
 
Maya merasakan sesuatu yang luar biasa. Seolah-olah ada gelombang energi yang hangat, kuat, dan murni, mengalir masuk ke dalam dirinya lewat ubun-ubun, merembes ke setiap urat nadi, ke setiap otot dan tulang, hingga ke ujung jari kakinya. Rasa lelah, takut, dan ragu yang selama ini membebaninya seketika lenyap tak berbekas. Tubuhnya terasa ringan, segar, dan penuh tenaga, sementara hatinya terasa damai dan sangat teguh. Saat dia mengangkat kepalanya, di tengah cahaya yang berkilau itu, dia melihat sebuah visi yang sangat nyata. Di hadapannya, terlihat sosok Dewi Durga yang agung dan indah, jauh lebih megah daripada yang pernah dibayangkannya. Dewi itu duduk di atas punggung singa yang gagah, surainya berkibar, matanya berapi-api namun penuh kasih. Di sepuluh tangannya, dia memegang cakra, pedang, panah, gada, dan berbagai senjata lain yang berkilauan, masing-masing mewakili kekuatan untuk mengatasi sifat buruk dan rintangan.
 
Dewi Durga menatap Maya dalam-dalam, menembus hingga ke dalam jiwanya, lalu perlahan sudut bibirnya yang indah itu terangkat membentuk senyum yang lembut dan meyakinkan. Suaranya terdengar seperti gema guntur yang halus namun jelas, bergema di dalam kepala dan hati Maya. "Jangan takut, Maya. Kekuatan sejati tidak datang dari luar, tidak dari senjata atau pasukan. Kekuatan itu ada di dalam dirimu sendiri, tertanam sejak kamu lahir. Kekuatan itu tumbuh dari keberanianmu membela kebenaran, dari kasih sayangmu pada sesama, dan dari persatuan dengan saudara-saudaramu. Gunakanlah kekuatan itu dengan bijak, dengan hati yang bersih, dan kejahatan tidak akan pernah mampu mengalahkanmu. Aku selalu bersamamu."
 
Seketika itu juga, cahaya dan visi itu perlahan memudar, kembali menjadi cahaya matahari biasa yang masuk lewat celah dinding. Namun, perasaan ajaib itu masih tersisa di seluruh tubuh dan jiwa Maya. Dia bangkit berdiri, menyeka sisa air matanya, dan menatap patung batu Dewi Durga itu dengan pandangan yang berbeda. Dia tidak lagi merasa kecil atau tidak berdaya. Dia mengerti sekarang. Dewi Durga tidak akan turun dari langit untuk berperang menggantikan mereka, tapi Dewi Durga menanamkan semangatnya ke dalam hati setiap orang yang berani melawan ketidakadilan. Semangat itulah yang kini mengalir deras di dalam darah Maya.
 
Dengan langkah tegap dan pandangan mata yang berubah menjadi penuh tekad, Maya turun kembali menuju desa. Dia tidak berjalan lagi seperti gadis kecil yang ragu-ragu. Dia berjalan dengan kepala terangkat tinggi, membawa pesan harapan yang baru saja diterimanya. Dia langsung berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, mengumpulkan para pemuda desa, anak-anak muda yang hatinya masih berapi-api namun terbungkus rasa takut. Dia mengumpulkan mereka di balai desa, tempat yang kini sering sepi dan sunyi. Di hadapan mereka, Maya bercerita tentang apa yang terjadi di kuil tadi, tentang visinya, tentang pesan Dewi Durga, dan tentang kebenaran bahwa mereka sebenarnya jauh lebih kuat daripada yang mereka bayangkan.
 
"Teman-temanku," ucap Maya dengan suara lantang dan bergetar semangat, menatap satu per satu wajah mereka. "Kita mungkin kecil, kita mungkin terlihat lemah di mata pasukan Mahabala. Kita tidak memiliki baju besi, kita tidak memiliki pedang tajam, dan kita tidak terlatih berperang. Tapi ingatlah satu hal: kita memiliki kebenaran dan keadilan di pihak kita. Kita berjuang untuk rumah kita, kita berjuang untuk orang tua dan anak-anak kita, kita berjuang untuk kehidupan kita. Raja Mahabala berjuang hanya untuk keserakahan dan kekuasaannya, dan hal itu akan membuatnya lemah. Seperti Dewi Durga yang mengalahkan Mahishasura yang besar dan kuat bukan dengan kekuatan otot saja, tapi dengan kebijaksanaan, keberanian, dan keyakinan, kita pun bisa melakukan hal yang sama!"
 
Suasana menjadi hening sejenak, lalu perlahan percikan api mulai menyala kembali di mata para pemuda itu. Kata-kata Maya menembus dinding ketakutan yang selama ini mengurung hati mereka. Mereka teringat kembali pada cerita-cerita masa kecil, pada kekayaan budaya dan kekuatan rohani yang mereka miliki. Rasa malu karena membiarkan diri mereka ditindas mulai berubah menjadi amarah yang terarah dan keberanian yang tumbuh. "Kami siap!" teriak salah seorang pemuda, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. "Kami sudah cukup menderita. Kami siap berjuang bersama kamu, Maya!" Teriakan itu disambut oleh seruan-setujuan yang sama dari yang lain. Semangat yang sempat padam kini berkobar lagi menjadi api yang besar.
 
Maya, yang kecerdasannya kini terasah oleh semangat baru itu, segera menyusun rencana. Dia sadar, mereka tidak bisa bertempur secara langsung di medan terbuka melawan pasukan Mahabala yang bersenjata lengkap dan berpengalaman. Itu hanya akan menjadi bunuh diri. Maka, Maya mengajarkan mereka taktik yang dia pelajari dari pengetahuannya tentang hutan dan bukit di sekitar desa, tempat yang sangat mereka ketahui seluk-beluknya, sementara pasukan musuh sama sekali tidak mengerti. Mereka akan menggunakan taktik gerilya. Mereka akan bergerak cepat, menyerang dari arah yang tidak terduga, bersembunyi di balik pepohonan, di balik tebing, atau di celah-celah sempit yang hanya bisa dilewati penduduk lokal.
 
Para pemuda desa bekerja siang dan malam. Mereka membuat senjata sederhana dari apa yang ada di sekitar: tongkat kayu yang diperkeras ujungnya, batu-batu besar yang bisa digelindingkan dari atas bukit, tali-tali jebakan, dan peralatan tani yang diubah fungsinya menjadi alat pertahanan. Mereka berlatih bergerak senyap, berlatih berkomunikasi dengan isyarat tanpa suara, dan berlatih mengatur strategi. Maya memimpin mereka bukan sebagai pemimpin yang memerintah, tapi sebagai saudara yang berjuang bersama, selalu ada di barisan paling depan, selalu memberi semangat, dan selalu mengingatkan bahwa kekuatan terbesar mereka adalah persatuan. "Selama kita bersatu," katanya, "tidak ada kekuatan apa pun yang bisa memecah belah kita."
 
Hari penentuan pun tiba. Saat pasukan Mahabala datang lagi ke desa untuk mengambil hasil panen dan menindas penduduk seperti biasa, mereka tidak menyadari bahwa kali ini suasana desa sudah berbeda. Saat mereka menyebar dan lengah, pasukan desa yang dipimpin Maya mulai bergerak. Serangan datang dari kiri dan kanan, dari atas bukit dan dari balik semak belukar. Batu-batu jatuh bergemuruh, suara teriakan bersahutan dari berbagai arah membuat pasukan Mahabala bingung dan panik. Mereka mengira sedang dikepung oleh pasukan besar, padahal itu hanyalah akal cerdik Maya dan kawan-kawannya yang memanfaatkan suara dan medan. Pasukan raja yang kejam itu, yang biasa berhadapan dengan korban yang pasrah, menjadi bingung dan takut menghadapi perlawanan yang begitu gigih dan berani.
 
Mahabala sendiri terkejut luar biasa. Dia tidak mengerti dari mana asal keberanian penduduk desa yang selama ini diam dan lemah itu. Dia melihat gadis muda itu, Maya, bergerak lincah di antara pertempuran, memberi aba-aba, membantu kawan yang jatuh, dan bertahan dengan ketabahan yang luar biasa. Di mata Mahabala, Maya seolah berubah wujud menjadi sosok yang mengerikan dan suci, seolah ada cahaya yang mengelilinginya. Kekuatan jahatnya tidak mampu melawan kemurnian hati dan kebenaran yang berdiri di hadapannya. Pasukannya mulai mundur, panik, dan kalah semangat. Melihat kekalahannya sudah di depan mata, Mahabala yang angkuh itu akhirnya memilih untuk melarikan diri, membawa sisa pasukannya yang kacau balau, tidak berani lagi kembali ke desa itu selamanya.
 
Desa itu pun kembali menjadi milik penduduknya sendiri. Suara sorak sorai dan tangis bahagia meletus memenuhi lembah. Warga desa keluar dari persembunyian, saling berpelukan, bersyukur atas kemenangan yang tak terduga itu. Mereka melihat reruntuhan pertempuran, melihat senjata-senjata sederhana mereka, dan menyadari satu kebenaran besar: kekuatan sejati tidak hanya terletak pada pedang tajam atau baju besi yang kuat. Kekuatan sejati lahir dari keberanian hati, dari rasa persatuan yang kokoh di antara sesama, dan dari keyakinan yang teguh pada kebaikan dan keadilan. Kemenangan ini bukan kemenangan kekuatan otot, melainkan kemenangan semangat.
 
Sejak saat itu, nama Maya tercatat dalam ingatan seluruh penduduk desa sebagai pahlawan sejati. Dia tidak menjadi sombong atau angkuh. Dia tetaplah gadis desa yang sederhana, yang suka berjalan-jalan di pinggir sungai dan mendaki bukit. Namun, keberadaannya kini menjadi simbol hidup dari kekuatan yang mereka miliki. Maya terus menginspirasi orang tua dan muda, mengajarkan mereka untuk tidak pernah diam melihat ketidakadilan, untuk selalu melindungi yang lemah, dan untuk menjaga persatuan sebagai harta paling berharga.
 
Ketika musim gugur kembali tiba dan festival Navaratri datang menyapa, perayaan Durga Puja kali itu dirayakan dengan kemeriahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kuil-kuil dihiasi lebih indah dari biasanya, nyanyian pujian dilantunkan dengan suara yang lebih lantang dan bahagia, dan persembahan dipersembahkan dengan rasa syukur yang mendalam. Penduduk desa tidak lagi hanya menceritakan kisah Dewi Durga yang kuno, tapi kini mereka memiliki kisah baru yang hidup di antara mereka sendiri. Mereka menceritakan bagaimana seorang gadis bernama Maya, dengan kekuatan yang didapat dari keyakinan dan ketulusan hati, telah membuktikan bahwa semangat Dewi Durga itu abadi dan hidup dalam setiap jiwa yang berani berbuat baik.
 
Kisah Maya pun terus diceritakan dari generasi ke generasi, menjadi legenda abadi di desa kecil di kaki pegunungan Himalaya itu. Kisah itu menjadi pengingat yang selalu hidup di hati setiap orang, mengingatkan mereka bahwa setiap manusia, tidak peduli seberapa muda, seberapa kecil, atau seberapa sederhana kedudukannya, memiliki kekuatan yang luar biasa untuk melawan kejahatan dan mengubah nasib. Asalkan mereka memiliki keberanian untuk melangkah, keyakinan pada kebaikan, dan cinta yang besar untuk sesama, sama seperti Dewi Durga yang agung, yang selalu hadir melindungi dan memberikan kekuatan kepada umatnya yang tulus. Di bawah bayang-bayang gunung yang megah itu, kisah itu terus bersinar terang, secerah cahaya yang pernah menyinari kuil tua di puncak bukit, selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar