Pertarungan Arjuna dan Karna di Kurukshetra.
Langit di atas dataran Kurukshetra tampak berdarah. Hari ke-17 perang besar Baratayuda telah tiba, dan pemandangan terasa begitu berat, dipenuhi dengan panah dan busur yang tidak habis habis. Di satu sisi barisan, berdiri tegak Karna, putra Dewa Surya yang kini diangkat menjadi Senapati atau Panglima Besar pasukan Korawa setelah gugurnya Bisma dan Drona. Di sisi lain, siap dengan busur Gandiva di tangan Arjuna. Dia adalah ksatria dari pihak Pandawa. Keduanya adalah murid dari guru yang sama, sama-sama ahli memanah, namun nasib memisahkan mereka ke dalam dua kubu yang saling bermusuhan.
Sejak awal, pertarungan ini memang sudah ditakdirkan. Karna menyimpan luka di dalam hatinya yang begitu dalam. Ia adalah anak sulung Kunti yang dibuang saat bayi, dirawat oleh kusir kereta bernama Adiratha. Selama hidupnya, ia selalu dihina sebagai "anak kusir", terutama oleh Drupadi saat acara sayembara. Hanya Duryodana yang menghargainya, mengangkatnya menjadi Raja Angga, dan menjadikannya saudara. Karena itulah Karna bersumpah setia akan membela Korawa sampai titik darah penghabisan, meski di lubuk hati terdalam, ia tahu siapa sebenarnya saudara-saudaranya dan pernah berjanji pada Kunti untuk tidak membunuh kelima Pandawa kecuali Arjuna.
Pertempuran pun dimulai. Suara dentuman busur memecah keheningan yang mencekam. Karna mengangkat busur Wijaya pemberian gurunya, Parasurama, sementara Arjuna memegang erat Gandiva, senjata ajaib pemberian Dewa Agni. Panah demi panah melesat begitu cepat hingga menutupi sinar matahari, membuat langit menjadi gelap gulita. Kehebatan mereka seimbang. Karna bahkan mampu memutuskan tali busur Gandiva sebanyak sebelas kali, namun dengan ketenangan yang luar biasa, Arjuna selalu sempat memasang tali baru dan terus bertarung.
Di atas kereta Arjuna, Krisna bertindak sebagai kusir yang sangat waspada. Berkali-kali ketika panah mematikan milik Karna hendak mengenai tubuh Arjuna, Krisna dengan sigap menginjak lantai kereta hingga roda kendaraan itu ambles sedalam satu jengkal ke dalam tanah. Panah-panah itu pun lewat di atas kepala Arjuna, hanya menyisir udara, menyelamatkan nyawa muridnya itu berkali-kali.
Karna yang sedang dalam puncak amarah mencoba mengeluarkan senjata pamungkasnya. Ia melepaskan Nagastra, panah berkepala ular yang sangat beracun dan ditakuti. Namun sekali lagi, campur tangan Dewa Krisna membuat kereta itu turun lebih dalam, hingga panah itu hanya berhasil melontarkan mahkota emas di kepala Arjuna, tidak menyentuh kulitnya sedikit pun. Karna marah besar kepada kusirnya, Raja Salya, yang dianggap tidak sigap, namun Salya hanya menjawab dingin bahwa tugasnya hanya membawa kereta, bukan mengatur strategi.
Kini, giliran takdir mulai bekerja. Kutukan-kutukan yang selama ini menempel pada diri Karna mulai aktif satu per satu. Pertama, ia tiba-tiba lupa mantra untuk mengendalikan senjata Brahmastra, hukuman karena dulu ia pernah berbohong kepada gurunya, Parasurama. Dan yang paling menentukan, roda keretanya tiba-tiba terperosok dalam ke tanah liat, terjepit kuat dan tidak bisa bergerak sama sekali. Ini adalah akibat dari kutukan seorang Brahmana yang pernah diinjak-injak kakinya di masa lalu.
Dengan susah payah, Karna turun dari kereta dan berusaha mengangkat roda itu dengan kedua tangannya. Ia berteriak memohon kepada Arjuna, mengingatkan tentang dharma ksatria: tidak boleh menyerang musuh yang sedang tidak siap, yang turun dari keretanya, dan yang sedang memegang roda bukan senjata.
Sesaat Arjuna ragu. Tangannya yang memegang panah mulai gemetar. Hatinya yang lembut tergerak oleh aturan kesatria yang ia junjung tinggi. Namun saat itulah Krisna berteriak dengan suara yang menggelegar, memecah keraguan Arjuna.
"Ingatlah Arjuna! Di mana dharma mereka saat putramu, Abimanyu, dikeroyok oleh tujuh panglima besar saat ia tidak bersenjata dan terperangkap? Di mana dharma Karna saat Drupadi hendak ditelanjangi di tengah balai sidang? Saat itu mereka tidak peduli aturan! Ini adalah perang Dharma, bunuh dia sekarang sebelum ia bangkit kembali!"
Nasihat itu bagaikan petir yang menyambar. Arjuna tersadar. Kebenaran harus ditegakkan, meski caranya harus melanggar aturan perang yang dangkal. Dengan napas memburu dan mata yang berkaca-kaca, Arjuna menarik tali busurnya hingga maksimal. Ia melepaskan Anjalika Astra, panah suci pemberian Dewa Siwa yang memiliki kekuatan luar biasa.
Wusss!
Panah itu melesat bagaikan kilat, tepat mengenai leher Karna. Braaaak! Kepala sang ksatria besar itu terpenggal, menggelinding jatuh ke tanah yang berdebu, sementara tubuhnya masih tegak memegang roda kereta yang terperosok itu. Cahaya keemasan keluar dari tubuh Karna, naik perlahan menuju langit, bersatu dengan matahari yang mulai terbenam. Itu adalah tanda bahwa ia benar-benar putra Surya yang kembali ke asalnya.
Setelah pertarungan usai, suasana berubah menjadi sunyi dan pilu. Arjuna menyesal, merasa telah membunuh musuh yang tidak dalam posisi siap. Namun Krisna menenangkannya, menjelaskan bahwa kematian Karna adalah takdir yang tak bisa dielakkan demi tegaknya keadilan.
Tragedi semakin dalam ketika Kunti, ibu para Pandawa, datang menjumpai mayat Karna. Ia menangis sejadi-jadinya dan akhirnya membuka rahasia terbesar sepanjang masa: Karna bukan musuh, melainkan kakak sulung mereka sendiri yang terbuang.
Mendengar itu, seluruh Pandawa terpukul. Yudistira yang paling terpukul, begitu marah dan sedih hingga ia mengutuk seluruh kaum wanita: "Mulai hari ini, tidak ada wanita yang mampu menyimpan rahasia!", karena rahasia kelahiran Karna yang disimpan Kunti selama puluhan tahun justru membawa bencana besar bagi seluruh keluarga.
Di tanah Kurukshetra yang basah oleh darah, berakhirlah kisah dua ksatria terhebat. Sebuah pelajaran abadi bahwa takdir seringkali lebih kuat dari usaha manusia, dan bahwa kebenaran kadang harus ditegakkan dengan cara yang menyakitkan, bahkan harus melanggar hati nurani sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar