Sebelum adanya Tahun Baru Saka, tanah Jawa diperintah oleh raja jahat bernama Baka yang mengaku sebagai "Dewa Dunia". Ia menyebarkan perbuatan yang tidak adil, memaksa rakyat untuk bekerja tanpa istirahat, dan melarang mereka menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Zaman itu dikenal sebagai "Zaman Kala" atau zaman kegelapan, di mana kegembiraan dan kedamaian hilang sama sekali.
Pada saat yang sama, jauh di pegunungan hidup seorang pemuda bijaksana bernama Aji Saka. Ia telah menyelesaikan pendidikan spiritual dari para guru suci dan diberi tugas untuk menyelamatkan rakyat Jawa dari kedzaliman Raja Baka.
Setelah tiba di kerajaan Raja Baka, Aji Saka mengajukan tantangan untuk menjadi raja baru jika ia bisa mengalahkan Baka dalam pertarungan. Raja Baka yang sombong menerima tantangan tersebut, karena ia yakin tidak ada yang bisa mengalahkannya.
Pertempuran berlangsung sengit selama tiga hari tiga malam. Raja Baka menggunakan segala macam ilmu gaib jahat dan senjata beracun, tetapi Aji Saka hanya mengandalkan kekuatan spiritual dan kebaikan hatinya. Pada hari yang keempat, ketika matahari mulai terbit, Aji Saka berhasil mengalahkan Raja Baka dengan mantra suci yang membuat kegelapan menghilang dan cahaya kembali menyinari bumi.
Raja Baka yang dikalahkan kemudian menghilang bersama seluruh kekuasaan jahatnya. Rakyat yang telah lama menderita pun meriahkan kemenangan ini dengan penuh kegembiraan.
Untuk menandai awal zaman baru yang penuh kebaikan dan kedamaian, Aji Saka menetapkan hari kemenangannya tersebut sebagai awal tahun baru, yang kemudian dikenal sebagai Tahun Baru Saka (mulai dari tanggal 1 Maret atau 22 Maret menurut kalender matahari). Ia juga menyusun sistem kalender baru yang berdasarkan pergerakan matahari dan bulan, untuk membantu rakyat dalam bertani dan menjalankan kehidupan sehari-hari.
Pada awal tahun baru ini, rakyat diajak untuk melakukan refleksi diri, membersihkan diri dari dosa dan pikiran negatif, serta mempersiapkan diri untuk menjalani tahun baru dengan semangat yang baru.
Beberapa tahun kemudian, setelah Aji Saka menjadi Prabu yang bijaksana bagi kerajaan Medang Kemulan, terjadi bencana alam yang mengerikan – gunung berapi meletus, banjir melanda, dan hama merusak ladang rakyat. Para bijak dan pertapa kemudian berkonsultasi dan menemukan bahwa bencana itu terjadi karena alam marah akibat tingginya keserakahan, perselisihan, dan perilaku tidak terpuji di kalangan masyarakat.
Mendengar hal ini, Prabu Aji Saka mengeluarkan keputusan untuk menyelenggarakan hari khusus di mana seluruh kerajaan akan berhenti dari segala aktivitas. Ia menyatakan:
"Pada hari tertentu, kita akan diam sepenuhnya – tidak ada api yang menyala, tidak ada suara yang terdengar, tidak ada aktivitas apapun. Kita akan menggunakan hari itu untuk berdoa, merenung, dan membersihkan alam serta jiwa kita dari segala kekotoran. Dengan begitu, alam akan kembali damai dan rakyat akan hidup sejahtera."
Hari tersebut kemudian dikenal sebagai Hari Raya Nyepi (Hari Sunyi). Pada hari ini, seluruh masyarakat diminta untuk melakukan empat larangan utama:
- Amat Geni: Tidak boleh menyalakan api atau sumber cahaya lainnya
- Amat Kariya: Tidak boleh melakukan aktivitas kerja atau bepergian
- Amat Lelunganan: Tidak boleh berkumpul atau bepergian keluar rumah
- Amat Balekatan: Tidak boleh melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan alam dan sesama
Sebelum Nyepi, masyarakat melakukan Melasti – ritual membersihkan diri dan lingkungan dengan berziarah ke sumber air suci, sebagai bentuk permintaan maaf kepada alam dan Tuhan. Malam menjelang Nyepi, dilakukan Ogoh-ogoh – parade patung raksasa yang melambangkan makhluk jahat, untuk mengusir energi negatif dari masyarakat.
Setelah pertama kali menyelenggarakan Nyepi, bencana alam tidak lagi terjadi dan kerajaan Medang Kemulan kembali hidup dalam kemakmuran. Tradisi Tahun Baru Saka dan Nyepi kemudian diteruskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat Jawa, terutama penganut agama Hindu di Bali dan Jawa Tengah, sebagai bentuk penghormatan kepada Prabu Aji Saka dan cara untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar