Pada awal abad ke-11, lahir seorang anak laki-laki bernama Erlangga di lingkungan kerajaan. Ia adalah putra dari Raja Udayana yang memerintah Kerajaan Bali, dan Mahendradatta—seorang putri bangsawan dari Kerajaan Isyana di Jawa. Darah kerajaan yang mengalir dalam dirinya membuatnya sejak kecil terpapar dengan ilmu pemerintahan, budaya, dan nilai-nilai spiritual yang kuat.
Ketika Erlangga masih muda, pamannya yaitu Raja Dharmawangsa dari Kerajaan Medang (yang berpusat di Jawa Timur) mengangkatnya sebagai putra angkat. Raja Dharmawangsa melihat potensi besar dalam diri Erlangga—ia cerdas, memiliki rasa keadilan yang tinggi, dan mampu bergaul dengan baik baik dengan kalangan bangsawan maupun rakyat jelata. Selama tinggal di istana Medang, Erlangga belajar secara intensif tentang tata pemerintahan, strategi militer, serta ajaran agama Hindu dan Buddha yang banyak dianut oleh masyarakat kala itu.
Setelah beberapa tahun memerintah, Raja Dharmawangsa meninggal dunia tanpa meninggalkan pewaris langsung yang layak. Melihat kondisi kerajaan yang mulai terancam kehancuran akibat perselisihan internal dan ancaman dari luar, para patih dan tokoh masyarakat sepakat untuk menjadikan Erlangga sebagai penerus tahta. Ia kemudian resmi menjadi raja Medang dan mengubah namanya menjadi Airlangga—sebuah nama yang melambangkan kecepatan dan kekuatan seperti kilat yang menyinari langit.
Namun, ibu kota Kerajaan Medang kala itu telah mengalami kerusakan akibat konflik sebelumnya. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor seperti keamanan, kesuburan tanah, dan aksesibilitas, Airlangga memutuskan untuk memindahkan ibu kota ke wilayah yang lebih strategis di Kahuripan (sekitar wilayah Jawa Timur saat ini). Bersamaan dengan pemindahan ibu kota, ia juga mengganti nama kerajaan menjadi Kerajaan Kahuripan, sebagai tanda awal dari masa kejayaan baru.
Pada masa Airlangga menjabat, wilayah Jawa Timur sedang dalam kondisi terpecah-pecah setelah runtuhnya struktur pemerintahan sebelumnya. Banyak daerah kecil yang menyatakan diri merdeka atau dikuasai oleh kepala suku yang bersaing satu sama lain. Dengan kebijaksanaan dan kekuatan militer yang kuat, Airlangga berhasil menyatukan kembali seluruh wilayah Jawa Timur menjadi satu kesatuan politik yang solid.
Setelah memperkuat kedudukan di Jawa, Airlangga melakukan ekspansi ke wilayah sekitarnya. Ia berhasil menjalin hubungan politik dan militer yang kuat dengan Kerajaan Bali (tanahnya sendiri), serta memperluas pengaruh hingga ke sebagian wilayah Sumatra dan Semenanjung Malaya. Banyak kerajaan di daerah tersebut memilih untuk menjadi sekutu atau bawahan Kahuripan karena melihat keadilan dan kemakmuran yang diwujudkan oleh Airlangga di wilayahnya.
Prabu Airlangga dikenal sebagai sosok yang sangat religius dan menghargai keberagaman keyakinan. Ia tidak hanya menganut agama Hindu, tetapi juga sangat menghormati ajaran Buddha yang banyak dianut oleh sebagian rakyatnya. Untuk menunjukkan dukungannya terhadap perkembangan agama dan budaya, ia membangun banyak kuil dan candi yang megah di seluruh kerajaan. Salah satunya adalah Candi Belahan yang terletak di Jawa Timur—candi yang dirancang dengan indah dan menjadi bukti kemajuan seni dan arsitektur pada masa itu.
Selain membangun tempat ibadah, Airlangga juga menjadi pelindung bagi para ulama dan sastrawan. Ia mendirikan lembaga untuk mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan sastra, serta mendorong para penyair untuk menciptakan karya-karya sastra yang menjadi bagian penting dari warisan budaya Jawa. Banyak naskah kuno yang berasal dari masa pemerintahannya hingga kini masih terpelihara dan menjadi sumber informasi tentang sejarah Jawa kuno.
Ketika memasuki usia lanjut, Airlangga mulai memikirkan masa depan kerajaan setelahnya. Ia memiliki dua putra yang sama-sama cakap dan layak memerintah, namun ia khawatir bahwa persaingan antara keduanya akan menyebabkan perang saudara yang dapat menghancurkan kerajaan yang telah dibangun dengan susah payah.
Untuk mencegah hal itu terjadi, Airlangga mengambil keputusan penting yang menjadi contoh bagi para pemimpin sesudahnya: ia membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian yang otonom, yaitu Kerajaan Janggala dan Kerajaan Panjalu (juga dikenal sebagai Kadiri). Setiap kerajaan diperintah oleh salah satu putranya, dengan kesepakatan bahwa kedua kerajaan akan tetap menjalin hubungan baik dan saling mendukung. Keputusan ini terbukti efektif dalam menjaga kestabilan wilayah setelah wafatnya Airlangga.
Prabu Airlangga meninggal dunia pada tahun 1049 Masehi, dan sesuai dengan keinginannya selama hidupnya, ia dimakamkan di dalam Candi Belahan yang pernah ia bangun. Ia digantikan oleh putranya Raja Samara Wijaya yang menjadi raja Janggala, sementara putranya yang lain memerintah di Panjalu.
Hingga kini, Prabu Airlangga dianggap sebagai salah satu raja terbesar dalam sejarah Jawa. Namanya terus diabadikan dalam berbagai prasasti batu, naskah kuno, dan cerita rakyat, sebagai bukti bahwa kepemimpinan yang bijak, adil, dan menghargai keberagaman dapat membawa kemakmuran dan perdamaian bagi sebuah bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar