Senin, 02 Februari 2026

Kisah Kawah Candradimuka

Di lereng selatan Gunung Agung, di wilayah Abang Karangasem, terdapat sebuah kawah yang dikenal dengan nama Candradimuka – tempat yang dipercaya sebagai pintu gerbang antara dunia manusia dan alam gaib. Cerita tentang kawah ini telah terdengar dari mulut ke mulut sejak zaman nenek moyang kita.
 
Nama "Candradimuka" berasal dari kata Sanskerta: Candra yang berarti bulan, dan Dimuka yang berarti wajah atau permukaan. Konon, pada malam bulan purnama yang cerah, permukaan air di kawah akan memantulkan cahaya bulan dengan sangat indah, seolah-olah wajah bulan yang terpancarkan di dalamnya. Namun, di balik keindahannya, kawah ini menyimpan cerita yang penuh dengan hikmah.
 
Dahulu kala, di kaki Gunung Agung hidup sebuah komunitas yang makmur dan damai. Masyarakatnya dikenal pekerja keras dan selalu menjaga keharmonisan dengan alam serta para leluhur. Pada suatu waktu, ada seorang pemuda bernama Aji Surya yang sangat cerdas namun seringkali sombong dan menganggap dirinya lebih baik dari orang lain.
 
Suatu hari, Aji Surya merasa bosan dengan kehidupan desa dan ingin mencari kekayaan serta kemuliaan yang lebih besar. Ia mendengar bahwa di dalam Gunung Agung terdapat sebuah kerajaan gaib yang menyimpan harta karun tak terhitung jumlahnya, dan pintu masuknya berada di sebuah kawah yang tersembunyi. Tanpa meminta izin kepada pemimpin desa atau berkonsultasi dengan orang tua, ia pergi mencari kawah tersebut.
 
Setelah berjalan jauh melalui hutan belantara dan lereng gunung yang terjal, akhirnya ia menemukan sebuah kawah dengan air yang jernih dan memancarkan cahaya keemasan. Tanpa ragu, ia melompat ke dalamnya. Namun, saat tubuhnya menyentuh air, bukan harta karun yang ia temukan, melainkan sebuah ruangan gelap yang dihiasi dengan batu-batu bersinar. Di tengah ruangan berdiri seorang wanita cantik mengenakan pakaian putih bersinar – ia adalah Dewi Candrawati, penjaga pintu gerbang alam gaib.
 
"Kamu yang datang dengan hawa nafsu dan kesombongan, apa yang kamu cari di sini?" tanya Dewi Candrawati dengan suara yang lembut namun penuh kekuasaan.
 
Aji Surya terkejut namun tetap berani berkata, "Aku datang untuk mengambil harta karun yang ada di dalam gunung ini – aku pantas mendapatkannya karena aku lebih cerdas dari orang lain!"
 
Dewi Candrawati menggelengkan kepalanya dengan prihatin. "Kekayaan sejati bukanlah emas atau permata, melainkan keharmonisan dengan alam dan sesama. Kamu telah melanggar hukum alam dengan datang ke sini tanpa izin dan dengan niat yang salah."
 
Sebagai hukuman sekaligus pembelajaran, Dewi Candrawati mengubah Aji Surya menjadi sebuah batu yang terpampang di tepi kawah. Ia juga mengubah kawah tersebut menjadi tempat di mana airnya bisa mencerminkan hati setiap orang yang datang menjenguknya. Jika hati seseorang suci dan penuh rasa syukur, air akan tampak jernih dan memantulkan cahaya indah. Namun, jika hati penuh dengan kesombongan dan hawa nafsu, air akan menjadi keruh dan gelap.
 
Sejak saat itu, masyarakat sekitar menyebut kawah tersebut sebagai Candradimuka. Mereka datang ke sini untuk berdoa, membersihkan hati, dan belajar menghargai alam serta sesama. Konon, pada malam bulan purnama, terkadang orang yang beruntung bisa melihat bayangan Aji Surya yang sedang bertobat di permukaan air kawah.
 
Hingga saat ini, kawah Candradimuka menjadi salah satu tempat suci bagi masyarakat lokal Bali. Setiap tahun, menjelang hari raya Galungan dan Kuningan, masyarakat mengadakan upacara adat untuk menghormati para leluhur dan memohon berkah dari alam semesta. Mereka membawa sesajen berupa buah-buahan, bunga, dan makanan khas Bali untuk diletakkan di tepi kawah.
 
Selain itu, banyak orang yang datang ke sini untuk meditasi dan mencari ketenangan batin. Mereka percaya bahwa air di kawah memiliki kekuatan penyembuhan baik untuk tubuh maupun jiwa, asalkan datang dengan niat yang baik.
 
Secara fisik, Kawah Candradimuka terletak di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Sekitar kawah tumbuh pepohonan hijau rimbun seperti pinus dan pohon-pohon khas pegunungan Bali. Udara di sekitarnya sangat segar dan sejuk, menjadikannya tempat yang cocok untuk melepaskan penat dari aktivitas sehari-hari. Permukaan air kawah biasanya tenang, dan pada saat cuaca cerah, bisa memantulkan bentuk Gunung Agung yang megah di kejauhan.
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar