Sejak zaman dahulu kala, keberadaan kuburan atau yang lebih dikenal dengan sebutan setra di tanah Bali selalu menyimpan misteri yang dalam, tak hanya sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi tubuh manusia, melainkan juga sebagai tempat tinggal bagi kekuatan spiritual yang sakral dalam kepercayaan Hindu. Di balik kesan yang kerap dianggap menyeramkan, masyarakat Bali meyakini bahwa tidak hanya di pura terdapat dewa yang berstana, melainkan di setiap sudut alam semesta, termasuk di dalam kuburan, terdapat kekuatan Tuhan beserta para pengikutnya yang menjalankan tugas khusus sesuai dengan kodrat yang telah ditetapkan.
Asal muasal keberadaan sang penguasa kuburan, Dewi Durga, telah dicatat dengan jelas dalam salah satu lontar kuno bernama Lontar Andhabhuwana. Kisahnya bermula dari sosok Dewi Uma, sang istri Bhatara Siwa, yang pada awalnya tinggal bersama sang suami di Kahyangan atau alam para dewa yang penuh dengan kedamaian dan kemuliaan. Namun, sebuah peristiwa tak terduga mengubah seluruh nasibnya, menjadikannya Dewi Durga yang harus tinggal menetap di kuburan hingga saatnya tiba untuk kembali ke Siwa Loka setelah melalui proses pembersihan dan penyucian diri.
Pada suatu hari, Bhatara Siwa memerintahkan Dewi Uma untuk mencari susu yang memiliki bobot cukup berat, sebuah tugas yang tidaklah mudah dan membutuhkan pengorbanan besar. Untuk memenuhi permintaan sang suami yang disegani, Dewi Uma rela merendahkan diri dan melayani seorang pengembala dengan sepenuh hati, hanya untuk mendapatkan susu yang diminta. Setelah melalui berbagai kesulitan dan usaha yang luar biasa, akhirnya Dewi Uma berhasil memperoleh susu tersebut dan kembali ke Kahyangan untuk menyerahkannya kepada Bhatara Siwa.
Ketika saatnya tiba untuk memberikan penjelasan tentang bagaimana ia mendapatkan susu tersebut, Dewi Uma memutuskan untuk tidak menyebutkan asal-usul sebenarnya. Ia berusaha menyembunyikan fakta bahwa ia telah melayani pengembala untuk memperolehnya. Namun, kebenaran takkan pernah bisa tersembunyi selamanya. Melalui tenung Aji Saraswati yang dimiliki oleh Dewa Ganesha, putra kesayangannya, seluruh peristiwa yang telah dilalui oleh Dewi Uma terungkap dengan jelas. Dewa Ganesha dengan jujur membeberkan bagaimana ibunya memperoleh susu tersebut, tanpa menyembunyikan satu pun detailnya.
Mendengar penjelasan dari Dewa Ganesha dan menyadari bahwa rahasianya telah terbongkar, kemarahan meluap dari dalam diri Dewi Uma. Dalam amarahnya yang tak terkendali, ia langsung menghancurkan tenung Aji Saraswati hingga menjadi abu dengan menggunakan kekuatan api kemarahannya. Tindakan tersebut dan usaha Dewi Uma untuk berbohong mengenai asal-usul susu telah membangkitkan kemarahan besar dari Bhatara Siwa. Sang Dewa Yang Mahakuasa merasa sangat kecewa dengan sikap istri terkasihnya yang telah melanggar prinsip kejujuran dan memiliki keberanian untuk menghancurkan benda sakral seperti tenung Aji Saraswati. Akibat dari kemarahan tersebut, Bhatara Siwa kemudian mengutuk Dewi Uma untuk turun ke dunia dan menjelma menjadi Dewi Durga, yang harus tinggal di antara manusia dan menjaga wilayah kuburan sebagai tempat tinggalnya.
Setelah turun ke dunia dan menjelma sebagai Dewi Durga, ia kemudian berstana di dalam kuburan dan diiringi oleh sebanyak 108 Bhuta-Bhuti yang setia, masing-masing dengan nama dan ciri khas tersendiri. Di antara para pengikutnya yang terhormat adalah bhùta banaspati, yamapati, mregapati, banaspatiraja, bhùta saliwah, bhùta salah rupa, bhùta Enjek-pupu, Tangan-tangan, Laweyan, Kumangmang, Anja-anja, Mamedi, bhùta Sungsang, Udug-Basur, Ileg-ileg, Papengkah, Barong Asepek, I Gagendu, Suku-tunggal, kakawa, Mretyu, Togtogsil, Raregek, Raparayu, Kala Ngadang, bhùta Tan-pakuping, hingga bhùta Bungut-sasibak. Setiap nama yang tercantum mewakili kekuatan spiritual yang memiliki peran penting dalam menjalankan tugas bersama Dewi Durga.
Tugas utama yang diberikan kepada Dewi Durga dan para pengikutnya adalah menebarkan penyakit, menciptakan kekeringan, serta berbagai jenis kebencanaan di dunia. Namun, tidak semua manusia menjadi sasaran dari tindakan tersebut, karena sasaran utama dari segala sesuatu yang mereka lakukan adalah manusia yang telah lupa akan akar sejarah dan tugas utama mereka sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yaitu untuk selalu berbhakti dan mengingat-Nya setiap saat. Bukan tanpa alasan, penyakit dan kebencanaan yang diciptakan oleh Dewi Durga dan para pengikutnya memiliki tujuan yang dalam, yaitu untuk menyadarkan manusia agar tidak terus-terusan terjebak dalam kesibukan duniawi yang hanya sementara, dan kembali kepada jalan yang benar dengan selalu mengingat serta berbhakti kepada Sang Pencipta.
Untuk mengurangi gangguan yang mungkin ditimbulkan oleh kekuatan Dewi Durga dan para pengikutnya, masyarakat Bali yang taat menjalankan ajaran Hindu melakukan upacara khusus yang dikenal dengan nama butha yadnya. Upacara ini bukanlah sebagai bentuk penghindaran atau pemusnahan kekuatan tersebut, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan komunikasi spiritual agar kekuatan yang ada di dalam kuburan dapat memberikan kesejahteraan dan keselamatan bagi kehidupan manusia di dunia, serta mengingatkan setiap orang untuk selalu menjaga kesucian hati dan tetap berpegang teguh pada ajaran agama yang diyakini. Seiring berjalannya waktu, kisah Dewi Durga dan keberadaan kekuatan spiritual di dalam kuburan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan kepercayaan masyarakat Bali, yang terus dilestarikan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bentuk penghormatan terhadap kekuatan Tuhan yang mengatur alam semesta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar