Jumat, 13 Maret 2026

Lahirnya Bhatara Kala.

Di zaman dahulu kala, ketika alam semesta masih dalam kedamaian dan langit serta bumi saling melengkapi dalam harmoni yang agung, Bhatara Siwa bersama Dewi Uma, istrinya yang cantik dan penuh kebijaksanaan, memutuskan untuk menyempatkan diri menikmati keindahan laut yang luas dan misterius. Laut yang biru menyala itu mengembangkan ombak-ombak yang lembut, seperti kain sutra yang diayunkan oleh angin yang lembut, sementara sinar matahari menyinari permukaan air hingga memancarkan kilauan emas yang tak terhitung jumlahnya. Ikan-ikan berwarna-warni berenang dengan lincah di bawah permukaan, dan terumbu karang yang indah seperti mahakarya seni yang tersembunyi di kedalaman laut.
 
Bhatara Siwa dan Dewi Uma duduk di atas permukaan laut yang tenang, bercengkerama dengan hangat sambil menikmati pemandangan yang memukau itu. Mereka berbicara tentang kehidupan di kahyangan, tentang tugas mereka sebagai penguasa alam semesta, dan tentang keindahan ciptaan yang ada di sekeliling mereka. Saat suasana semakin hangat dan mereka semakin asyik dalam percakapannya, tiba-tiba sebuah hasrat yang kuat muncul dari dalam diri Bhatara Siwa. Birahinya yang lama terpendam bangkit dengan hebat, dan tanpa berpikir panjang, ia menyampaikan keinginannya kepada Dewi Uma dengan tulus dan langsung.
 
Namun, Dewi Uma dengan lembut menolak permintaan Bhatara Siwa. "Suamiku," katanya dengan suara lembut, "perilaku seperti ini tidak sesuai dengan adat dan tata krama para dewa yang tinggal di kahyangan yang suci. Kita sebagai pemimpin dan contoh bagi semua makhluk harus menjaga kesucian dan kehormatan kita, serta bertindak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh alam semesta itu sendiri."
 
Bhatara Siwa mendengarkan kata-kata Dewi Uma dengan cermat, namun hatinya yang sedang diliputi hasrat tidak dapat menerima penolakan itu. Ia membantah dengan suara yang kuat namun tidak kasar, "Wahai istriku, siapakah di antara kita yang dapat sepenuhnya menahan nafsu yang sedang bergelora dengan tiba-tiba? Nafsu ini muncul bukan karena keinginan yang sia-sia, melainkan karena indriya kita yang bertemu dengan objek yang sesuai dengan keinginannya. Ini adalah bagian dari sifat alamiah yang telah diberikan kepada kita oleh ciptaan itu sendiri, dan tidak dapat dengan mudah ditekan atau dihalangi."
 
Meskipun Dewi Uma masih ingin memberikan nasihat lebih lanjut, Bhatara Siwa tidak dapat lagi menahan hasrat yang membara dalam dirinya. Pada saat itu juga, Kama (air mani) Bhatara Siwa keluar dengan sendirinya dan jatuh ke dalam laut yang luas itu. Setelah kejadian itu, Bhatara Siwa dan Dewi Uma bergabung sebagai Ardanareswari—wujud tunggal yang menyatukan kekuatan pria dan wanita—dan kemudian mereka kembali ke Siwaloka, kediaman yang suci dan agung bagi Bhatara Siwa.
 
Sementara itu, di atas permukaan laut yang kini mulai bergelora karena kehadiran Kama Bhatara Siwa, Bhatara Brahma—sang pencipta alam semesta—dan Bhatara Wisnu—sang pelindung alam semesta- datang untuk menyaksikan fenomena yang luar biasa itu. Mereka melihat bagaimana laut yang tadinya tenang kini menjadi bergolak dengan hebat, dan ada tanda-tanda ajaib yang muncul di sekeliling mereka: kilatan cahaya yang menyilaukan menerobos awan, suara gemuruh yang terdengar seperti guntur yang kuat, dan aroma harum yang tak dikenal memenuhi udara.
 
Tanpa banyak bicara, Brahma dan Wisnu memutuskan untuk melakukan yoga bersama-sama. Mereka duduk dalam posisi meditasi yang tenang dan fokus, mengumpulkan kekuatan spiritual mereka untuk menghadapi apa pun yang akan muncul. Seiring dengan berjalannya waktu dan dengan kekuatan yoga yang luar biasa mereka miliki, Kama Bhatara Siwa yang telah jatuh ke laut mulai berkumpul menjadi satu kesatuan yang padat dan kuat. Perlahan-lahan, bentuknya mulai berubah dan tumbuh dengan pesat, hingga akhirnya menjadi seorang raksasa yang sangat besar dengan tubuh yang kokoh seperti gunung dan tinggi seperti langit. Raksasa ini diberi nama Bhatara Kala—Sang Penguasa Waktu dan Kematian.
 
Segera setelah ia muncul secara utuh, Bhatara Kala mengeluarkan suara raungan yang sangat keras dan mengguntur. Suara itu terdengar ke seluruh penjuru alam semesta, menyebabkan bumi berguncang dengan hebat, gunung-gunung bergoyang, dan sungai-sungai berbalik arah alirannya. Bahkan sorga loka—kediaman para dewa yang tinggi dan suci—juga menjadi bergoyang dan terguncang, membuat para dewa merasa takut dan khawatir akan keselamatan mereka dan alam semesta secara keseluruhan.
 
Para Dewata Nawa Sanga—sembilan dewa utama yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam semesta—segera menyadari bahwa ada bahaya yang besar yang mengancam sorga loka. Mereka berkumpul bersama dan kemudian melaporkan situasi yang genting itu kepada Bhatara Siwa di Siwaloka. "Yang Mulia," katanya dengan suara yang penuh rasa hormat namun juga khawatir, "seorang raksasa yang maha besar telah muncul dari laut dan mengeluarkan suara yang mengerikan. Dunia dan sorga loka menjadi tidak stabil, dan kami khawatir bahwa bahaya yang besar akan datang jika tidak segera ada tindakan yang diambil."
 
Bhatara Siwa mendengarkan laporan para Dewata Nawa Sanga dengan tenang dan penuh perhatian. Ia tahu bahwa saatnya telah tiba untuk menghadapi raksasa yang misterius itu dan mencari tahu tujuan serta asal-usulnya. Dengan kecepatan yang luar biasa, Bhatara Siwa pergi dari Siwaloka menuju tempat di mana Bhatara Kala berdiri dengan gagah.
 
Ketika Bhatara Siwa tiba di lokasi, ia melihat betapa besarnya Bhatara Kala, yang berdiri dengan tinggi dan mengancam di atas permukaan laut yang masih bergelora. Tanpa ragu, Bhatara Siwa menghampiri raksasa itu dan memulai percakapan. Mereka berbicara tentang banyak hal: tentang alam semesta, tentang peran masing-masing makhluk dalam menjaga keseimbangan dunia, dan tentang tujuan yang mendasari keberadaan setiap ciptaan. Namun, inti dari percakapan mereka adalah ketika Bhatara Kala dengan suara yang dalam dan kuat bertanya kepada Bhatara Siwa, "Siapakah orang tuaku? Dari mana aku berasal dan apa tujuan keberadaanku di dunia ini?"
 
Bhatara Siwa melihat ke mata Bhatara Kala dengan penuh kasih sayang dan kebijaksanaan. Ia tahu bahwa saatnya telah tiba bagi Bhatara Kala untuk mengetahui kebenaran tentang asal-usulnya. "Wahai Kala," katanya dengan suara yang tenang namun penuh kekuatan, "untuk mengetahui siapa orang tuamu dan asal-usulmu yang sebenarnya, kamu harus melakukan satu hal. Kamu harus memotong taring bagian kananmu dan melihat apa yang terjadi setelah itu."
 
Meskipun merasa sedikit bingung dan ragu, Bhatara Kala mempercayai kata-kata Bhatara Siwa. Dengan kekuatan yang luar biasa miliknya, ia mengambil sebuah benda tajam dan dengan tegas memotong taring bagian kanannya. Pada saat taring itu terpotong dan jatuh, seketika Bhatara Kala merasakan sebuah kesadaran yang mendalam muncul dalam dirinya. Ia melihat kembali pada Bhatara Siwa dengan mata yang kini penuh pemahaman dan rasa hormat yang mendalam. Akhirnya, ia mengetahui bahwa Bhatara Siwa adalah ayahnya yang sebenarnya—Yang Mahakuasa yang telah memberikan kehidupan padanya.
 
Sejak saat itu, Bhatara Kala memahami peran dan tugasnya dalam alam semesta. Ia menjadi penguasa waktu dan kematian yang adil dan bijaksana, yang bertugas untuk menjaga keseimbangan alam semesta dengan memastikan bahwa setiap makhluk menjalani hidupnya sesuai dengan takdir yang telah ditentukan, dan kemudian kembali kepada alam semesta ketika waktunya tiba. Cerita ini kemudian menjadi salah satu cerita yang paling terkenal dan sering digelar dalam pertunjukan pewayangan di Bali, terutama dalam upacara Sapuh Leger atau ruwatan yang dilakukan untuk orang-orang yang lahir pada Wuku Wayang, sebagai bentuk penghormatan kepada Bhatara Kala dan sebagai sarana untuk memohon perlindungan serta keberuntungan dalam hidup mereka.
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar