Bab 1: Kehidupan di Negeri Pringgandani
Di kaki pegunungan yang menjulang tinggi, ada sebuah kerajaan yang bernama Pringgandani. Kerajaan tersebut dikelilingi oleh hutan lebat yang rimbun dan sungai yang jernih mengalir, menjadi tempat tinggal bagi kaum raksasa yang dipimpin oleh Prabu Arimbaka—raja yang gagah perkasa dengan hati yang cukup adil bagi rakyatnya. Bersamanya, Ratu Dewi Hadimba memerintah dengan kasih sayang, dan dari pernikahan mereka, delapan anak lahir ke dunia.
Yang paling muda di antara putri-putrinya adalah Dewi Arimbi, putri kedua yang sejak lahir telah menunjukkan keistimewaan. Meskipun memiliki darah raksasa yang membuatnya mampu memiliki tubuh besar dan kuat, ia juga memiliki wajah yang semakin cantik seiring bertambahnya usia. Selain itu, ia mewarisi kesaktian dari kedua orang tuanya, termasuk kemampuan untuk mengubah wujudnya—dari bentuk raksasa yang tangguh menjadi putri jelita dengan paras memukau dan tubuh langsing.
Dewi Arimbi tumbuh bersama tujuh saudara kandungnya: Arimba, Arya Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa, dan Kalabendana. Meskipun para saudara laki-lakinya lebih suka menghabiskan waktu untuk berlatih senjata dan menjelajahi hutan luas, Arimbi lebih sering memilih untuk menghabiskan waktu bersama ibunya, belajar tentang kesaktian, etika hidup, dan bagaimana menjadi sosok yang bermanfaat bagi rakyat. Ia tumbuh menjadi wanita yang tidak hanya cantik dan kuat, tetapi juga memiliki hati yang baik—jujur dalam setiap perkataan, setia kepada apa yang diyakininya, dan selalu berbakti kepada orang tua serta saudara-saudaranya.
Bab 2: Pertemuan dengan Bima
Suatu hari, kabar menyebar bahwa para Pandawa—lima saudara satria yang terkenal karena keberanian dan kebajikan mereka—sedang melakukan perjalanan melintasi wilayah sekitar Pringgandani setelah harus meninggalkan kerajaan Hastinapura. Prabu Arimbaka, yang telah mendengar tentang kehebatan para Pandawa, mengundang mereka untuk beristirahat di istananya.
Di antara kelima Pandawa, sosok Bima—yang berbadan besar, kuat seperti gajah, dan memiliki hati yang hangat—mencuri perhatian Dewi Arimbi. Saat melihat Bima berinteraksi dengan rakyat jelata dan membantu mereka dengan sukarela, hati Arimbi tergerak dengan kedermawanan yang dimiliki pria tersebut. Sementara itu, Bima juga terpikat dengan kecantikan dan kesederhanaan Dewi Arimbi, yang berbeda dari banyak wanita bangsawan yang pernah ditemuinya.
Mereka mulai sering bertemu di taman istana atau di tepi sungai, berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Bima bercerita tentang perjuangan para Pandawa untuk mendapatkan hak yang seharusnya, sementara Arimbi menceritakan tentang kehidupan di Pringgandani dan harapannya untuk melihat dunia lebih luas. Seiring berjalannya waktu, cinta tumbuh di antara keduanya—cinta yang tidak terbatas oleh perbedaan latar belakang atau bentuk fisik yang mereka miliki.
Setelah mendapatkan restu dari Prabu Arimbaka dan Dewi Hadimba, Bima dan Dewi Arimbi menikah dengan upacara yang meriah. Selama waktu bersama mereka, kebahagiaan meliputi istana Pringgandani. Tak lama kemudian, Dewi Arimbi dikaruniai seorang putra yang diberi nama Gatotkaca. Sejak lahir, Gatotkaca menunjukkan bakat luar biasa—berbadan kuat seperti ayahnya dan memiliki kesaktian yang diwarisi dari ibunya. Dewi Arimbi mencintai putranya dengan sepenuh hati, selalu mengajarkannya tentang pentingnya kejujuran, kesetiaan, dan tanggung jawab terhadap orang lain.
Bab 3: Masa Perpisahan dan Pertumbuhan Gatotkaca
Waktu terus berlalu, dan saatnya tiba bagi para Pandawa untuk melanjutkan perjalanan mereka. Bima harus pergi bersama saudara-saudaranya untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dan memperjuangkan hak mereka atas takhta Hastinapura. Meskipun sangat sulit untuk berpisah, Dewi Arimbi memahami bahwa tugas suaminya adalah untuk membela kebenaran. Ia menerima keputusan tersebut dengan hati yang kuat, berjanji akan merawat Gatotkaca dengan sebaik-baiknya dan mengajarkannya untuk menjadi seorang pria yang baik dan berbakti.
Selama tahun-tahun perpisahan, Dewi Arimbi mendidik Gatotkaca dengan penuh kasih dan ketelitian. Ia mengajarkan putranya tentang kesaktian yang dimilikinya, cara mengendalikan kekuatan dengan bijak, dan pentingnya menggunakan kekuatan untuk membantu orang yang lemah. Gatotkaca tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa, penuh rasa hormat terhadap ibu dan orang tua lainnya, serta memiliki semangat juang yang tinggi untuk membela kebenaran.
Selama itu juga, Dewi Arimbi terus menjalankan tugasnya sebagai putri kerajaan Pringgandani, membantu rakyatnya dengan segala cara yang bisa dilakukan. Ia dikenal sebagai sosok yang murah hati dan selalu siap memberikan bantuan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Meskipun sering merindukan Bima, ia tidak pernah mengeluh dan selalu menjaga semangat putranya agar tetap kuat.
Bab 4: Munculnya Perang Bharatayuda
Kabar tentang perselisihan yang semakin memanas antara pihak Pandawa dan Kurawa akhirnya mencapai telinga Dewi Arimbi dan Gatotkaca. Mereka mendengar bahwa upaya untuk menyelesaikan masalah secara damai telah gagal, dan perang yang besar—yang kemudian dikenal sebagai Perang Bharatayuda—tak terhindarkan lagi.
Gatotkaca, yang telah dewasa dan siap untuk membuktikan diri, mengungkapkan keinginannya untuk bergabung dengan pihak Pandawa dan membantu ayahnya dalam perang. Meskipun hati sangat khawatir, Dewi Arimbi memahami bahwa putranya telah siap untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang pejuang kebenaran. Ia memberikan restu kepada Gatotkaca, sekaligus mengingatkannya untuk selalu menjaga hati yang baik dan tidak terbawa emosi dalam medan perang.
Sebelum Gatotkaca berangkat, Dewi Arimbi memberikan kepada putranya sebuah amulet yang telah diberi doa dan kesaktiannya—sebagai perlindungan serta tanda cinta seorang ibu yang selalu mengawalinya. Gatotkaca menerima dengan penuh rasa hormat, berjanji akan selalu mengingat ajaran ibu dan berjuang dengan penuh kehormatan.
Bab 5: Tragedi di Medan Perang
Perang Bharatayuda berlangsung dengan sangat sengit. Kedua pihak bertempur dengan penuh semangat, masing-masing yakin bahwa mereka berjuang untuk kebenaran. Gatotkaca dengan gagah berperang di medan perang, menunjukkan kehebatan kesaktian dan keberaniannya. Ia berhasil mengalahkan banyak pejuang kuat dari pihak Kurawa, menjadi salah satu pahlawan utama yang membantu pihak Pandawa dalam berbagai pertempuran.
Namun, takdir memiliki rencana yang berbeda. Pada hari yang gelap dan penuh dengan badai petir, Gatotkaca harus menghadapi Adipati Karna—salah satu pejuang terkuat pihak Kurawa yang terkenal karena keahliannya dalam memanah. Dalam pertempuran yang sangat sengit, Karna mengeluarkan panah sakti bernama Kunta—sebuah panah yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan setiap lawan yang dihadapinya. Tanpa kesempatan untuk menghindar, Gatotkaca terkena panah tersebut dan gugur di medan perang.
Berita tentang wafatnya Gatotkaca segera menyebar ke seluruh medan perang. Ketika kabar itu sampai ke telinga Dewi Arimbi, yang telah mengikuti perkembangan perang dari kejauhan, hati ibunya hancur berkeping-keping. Namun, bukan kesedihan yang menguasainya—melainkan semangat keberanian untuk membela kehormatan putranya dan memastikan bahwa pengorbanannya tidak sia-sia.
Tanpa ragu, Dewi Arimbi mengubah wujudnya menjadi bentuk raksasa yang tangguh dan melesat ke medan perang. Ia dengan gagah menghadapi pasukan Kurawa, menyerang dengan kekuatan penuh untuk membela nama baik putranya. Meskipun telah berjuang dengan sangat keras dan berhasil mengalahkan banyak pejuang musuh, akhirnya Dewi Arimbi juga gugur di medan perang—berbaring bersama putranya yang sangat dicintainya, sebagai bukti cinta dan pengorbanan seorang ibu yang tidak ada batasnya.
Bab 6: Warisan Dewi Arimbi
Setelah berakhirnya Perang Bharatayuda, pihak Pandawa dan rakyat banyak mengenang jasa Dewi Arimbi dan Gatotkaca. Kedua sosok tersebut dikenang sebagai pahlawan yang rela berkorban untuk kebenaran dan cinta keluarga.
Dalam pewayangan Jawa yang kemudian berkembang, Dewi Arimbi sering digambarkan sebagai sosok putri cantik dengan wajah penuh kasih dan hati yang kuat. Kisahnya menjadi contoh bagi banyak orang tentang makna cinta yang tulus—baik cinta antara suami istri maupun cinta seorang ibu terhadap anaknya. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya datang dari kesaktian atau kekuatan fisik, tetapi juga dari kebaikan hati, kejujuran, dan kesediaan untuk berkorban bagi orang yang dicintai.
Hingga kini, nama Dewi Arimbi tetap hidup dalam khazanah budaya Jawa. Kisahnya menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kesetiaan, dan kasih sayang keluarga—nilai-nilai yang terus menjadi pondasi bagi kehidupan masyarakat hingga saat ini.