Dewa Siwa, penguasa alam semesta, duduk bermeditasi di puncak Gunung Kailasha. Kedamaian terpancar dari wajahnya, meski pikirannya tengah menimbang sebuah keputusan penting. Di hadapannya, berdiri Kumara, putranya yang gagah berani, seorang dewa perang yang disegani. Kumara baru saja menyelesaikan tugas beratnya, memimpin para dewa dalam pertempuran melawan para raksasa yang mengancam kedamaian dunia.
"Anakku, Kumara," suara Siwa memecah keheningan. "Kau telah membuktikan keberanian dan kekuatanmu. Para dewa dan manusia berhutang budi padamu."
Kumara menunduk hormat. "Ayahanda terlalu memuji. Aku hanya menjalankan kewajibanku."
Siwa tersenyum. "Kerendahan hatimu sama terpujinya dengan keberanianmu. Namun, ada satu hal yang membuatku gundah."
Kumara mengangkat wajahnya, menunjukkan rasa ingin tahu. "Apakah itu, Ayahanda?"
"Kau telah tumbuh dewasa, Kumara. Kau telah menjadi dewa perang yang perkasa. Namun, dalam hatiku, kau tetaplah anak kecilku. Aku merindukan tawa riangmu, keceriaanmu yang polos. Aku tidak ingin kau kehilangan semua itu karena beban tanggung jawabmu."
Kumara terdiam. Ia mengerti apa yang dikatakan ayahnya. Ia memang telah banyak berubah sejak menjadi dewa perang. Beban tanggung jawab telah membuatnya menjadi lebih serius dan pendiam. Ia merindukan masa-masa ketika ia bisa bermain dan tertawa tanpa beban.
"Aku mengerti, Ayahanda," kata Kumara akhirnya. "Aku juga merindukan masa kecilku."
Siwa tersenyum lega. "Kalau begitu, aku akan memberikanmu sebuah anugerah. Aku akan memberimu kemampuan untuk tetap menjadi anak kecil, kapan pun kau inginkan. Kau bisa menjadi dewa perang yang perkasa ketika dibutuhkan, tetapi kau juga bisa menjadi anak kecil yang riang ketika kau ingin bersantai dan menikmati hidup."
Mata Kumara berbinar-binar. "Benarkah, Ayahanda? Aku sangat berterima kasih!"
Siwa mengangkat tangannya dan memberkati Kumara. Seketika, Kumara merasakan kekuatan baru mengalir ke dalam dirinya. Ia bisa merasakan dirinya berubah menjadi anak kecil, kapan pun ia mau.
"Ingatlah, Kumara," kata Siwa. "Anugerah ini adalah hadiah dariku. Gunakanlah dengan bijak. Jangan biarkan kekuatan ini membuatmu lupa akan tanggung jawabmu sebagai dewa perang. Tetapi, jangan juga biarkan tanggung jawabmu merenggut kebahagiaanmu sebagai seorang anak kecil."
Kumara mengangguk. "Aku akan selalu mengingat pesanmu, Ayahanda."
Sejak saat itu, Kumara menjadi dewa yang unik. Ia bisa menjadi dewa perang yang perkasa ketika dibutuhkan, tetapi ia juga bisa menjadi anak kecil yang riang ketika ia ingin bersantai dan menikmati hidup. Ia menjadi contoh bagi para dewa dan manusia, bahwa kekuatan dan tanggung jawab tidak harus menghilangkan kebahagiaan dan keceriaan.
Suatu hari, ketika Kumara sedang bermain-main di taman Kailasha dalam wujud anak kecil, Parwati, ibunya, menghampirinya.
"Kumara, anakku," kata Parwati sambil tersenyum. "Kau terlihat sangat bahagia."
"Aku memang bahagia, Ibunda," jawab Kumara. "Aku sangat berterima kasih kepada Ayahanda atas anugerah yang telah diberikan kepadaku."
Parwati mengangguk. "Ayahandamu sangat menyayangimu, Kumara. Ia hanya ingin kau bahagia."
Kumara memeluk ibunya dengan erat. "Aku juga sangat menyayangi Ayahanda dan Ibunda."
Parwati membalas pelukan putranya. Ia tahu bahwa Kumara akan selalu menjadi anak kesayangannya, tidak peduli seberapa besar dan perkasa dirinya.
Sejak saat itu, Kumara terus menjalankan tugasnya sebagai dewa perang dengan penuh tanggung jawab. Namun, ia tidak pernah melupakan anugerah yang telah diberikan oleh ayahnya. Ia selalu menyempatkan diri untuk bersantai dan menikmati hidup sebagai seorang anak kecil. Ia tahu bahwa dengan menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kebahagiaan, ia akan selalu menjadi dewa yang dicintai dan dihormati oleh semua orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar