Selasa, 26 November 2024

Kisah Lahirnya Dewa Ganesha.

Dalam salah satu cerita legendaris dari kitab Siwa Purana, terungkap kisah yang penuh dengan emosi, konflik, dan akhirnya sebuah keajaiban yang mengubah takdir seorang anak. Kisah ini bermula dengan Dewi Parwati, istri dari Dewa Siwa, yang suatu ketika ingin mandi di kediamannya. Namun, ia merasa tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk oleh suaminya. Maka, dengan kemampuannya yang luar biasa, Dewi Parwati menciptakan seorang anak laki-laki dari kotoran tubuhnya yang digunakan untuk membersihkan diri. Anak ini diciptakan dengan tujuan untuk menjaga kedamaian rumahnya, dan Parwati memberi perintah yang tegas: "Jangan biarkan siapapun masuk, hanya aku yang boleh memberikan perintah."

Sang anak yang diberi tugas itu, meskipun masih kecil, menunaikan perintah ibunya dengan penuh kesungguhan. Ia menjaga rumah dengan ketat, siapapun yang hendak masuk akan dihalanginya. Tidak ada yang bisa melawan ketegasannya, bahkan untuk orang yang datang dengan niat baik. Sang anak begitu patuh pada perintah ibunya, bahkan tanpa tahu betul siapa saja yang datang.

Suatu hari, Dewa Siwa, suami Dewi Parwati, datang untuk menemui istrinya di rumah mereka. Namun, ia mendapati dirinya dihalangi oleh seorang anak kecil yang menjaga pintu rumahnya. Dewa Siwa, yang merupakan sang penguasa alam semesta, tentu saja tidak ingin ada hambatan untuk masuk ke rumahnya sendiri. Ia mencoba menjelaskan kepada anak tersebut bahwa dirinya adalah suami dari Dewi Parwati dan bahwa rumah itu juga miliknya. Namun, sang anak yang penuh kesetiaan pada perintah ibunya menolak untuk membiarkan Dewa Siwa masuk.

"Saya hanya bisa mengikuti perintah ibu saya. Anda tidak boleh masuk, karena saya hanya boleh melaksanakan perintah ibu saya," jawab sang anak dengan tegas. Dewa Siwa merasa heran dan semakin marah. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa menantang perintahnya yang datang dari sang suami Dewi Parwati? Siwa semakin kesal dan mencoba meyakinkan sang anak, namun upayanya sia-sia. Sang anak tetap pada pendiriannya untuk tidak mendengarkan siapapun selain ibunya.

Konflik yang semakin memanas ini akhirnya memunculkan pertarungan sengit antara Dewa Siwa dan anaknya. Dewa Siwa, yang dikenal sebagai dewa dengan kekuatan luar biasa, berusaha membujuk anaknya untuk mengalah, namun sang anak tetap tidak bergeming. Terlalu kuatnya tekad anak kecil tersebut untuk menjalankan perintah ibunya membuat Dewa Siwa kehabisan kesabaran. Dalam kemarahannya, Dewa Siwa akhirnya menggunakan trisula sakti miliknya untuk mengakhiri pertarungan itu, dengan memenggal kepala sang anak.

Setelah pertarungan yang mengerikan itu, Dewi Parwati keluar dari kamar mandi dan terkejut mendapati anak yang baru saja ia ciptakan sudah terbaring tak bernyawa. Ketika ia mengetahui bahwa suaminya, Dewa Siwa, yang telah membunuh anak mereka, hatinya hancur. Dengan penuh kemarahan, Dewi Parwati menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. Ia marah bukan hanya karena anaknya dibunuh, tetapi juga karena keegoisan suaminya yang tidak mengerti dan menghargai perintah yang sudah ia berikan.

Dewa Siwa yang menyadari perbuatannya dan merasa sangat bersalah akhirnya bersumpah untuk menghidupkan kembali anaknya. Namun, ia tahu bahwa untuk mewujudkan permohonan istrinya, ia harus mematuhi nasihat para dewa. Maka, Dewa Siwa memutuskan untuk berkonsultasi dengan Brahma, sang pencipta, yang memberi saran agar ia mengutus para gananya—makhluk-makhluk yang setia kepada Dewa Siwa—untuk mencari kepala makhluk hidup yang dapat menggantikan kepala anaknya.

Atas perintah tersebut, para gananya segera turun ke dunia dan mulai mencari kepala makhluk hidup yang pertama kali menghadap ke arah utara. Setelah berkeliling, mereka akhirnya menemukan seekor gajah yang sedang menghadap ke utara. Tanpa ragu, para gananya memenggal kepala gajah tersebut dan membawa kepala itu kembali kepada Dewa Siwa. Dengan kepala gajah yang baru itu, Dewa Siwa menghidupkan kembali anaknya. Anak itu kini bangkit kembali dengan kepala gajah yang khas, dan sejak itu ia dikenal sebagai Ganesha, sang dewa dengan kepala gajah.

Setelah kejadian tersebut, Dewa Ganesha mendapatkan gelar baru sebagai Dewa Keselamatan, karena ia dipercaya dapat menghalangi segala rintangan dan memberikan kedamaian serta keberuntungan bagi umat manusia. Dewa Ganesha kemudian menjadi salah satu dewa yang sangat dihormati dalam agama Hindu, dan ia dipercaya dapat membantu umatnya dalam menghadapi kesulitan hidup.

Kisah tragis dan ajaib ini mengajarkan banyak hal, antara lain pentingnya kesetiaan pada perintah yang diberikan oleh orang tua dan pengampunan yang dapat mengubah takdir. Selain itu, kisah ini juga mengingatkan kita akan pentingnya memahami bahwa di balik setiap peristiwa, ada kebijaksanaan yang dapat membawa perubahan besar, bahkan jika itu berarti menghadapi rintangan yang sangat berat.

Senin, 25 November 2024

Durga, Dewi Pelindung Dalam Tradisi Bali.

Durga, dalam bahasa Sanskerta, memiliki makna yang dalam, yaitu "terpencil" atau "tidak bisa dimasuki," yang menggambarkan sifatnya yang tak tergoyahkan dan kuat. Dalam bahasa Dewanagari, Durga berarti "dewi kemenangan," sebuah simbol dari kekuatan dan kemenangan atas kejahatan. Dewi Durga sering digambarkan memegang berbagai senjata, seperti Cakram, petir, teratai, ular, pedang, gada, terompet kerang, dan trisula, yang masing-masing melambangkan kekuatan untuk menghancurkan segala bentuk kejahatan dan keburukan. Kendaraannya adalah singa atau macan, simbol keberanian dan kekuatan. Dalam berbagai representasi, Dewi Durga digambarkan dengan banyak tangan, yang seringkali berada dalam posisi Mudra, simbol dari penguasaan dan kendali atas segala aspek alam semesta. Selain itu, Dewi Durga dikenal dengan banyak nama, seperti Dewi Uma, Dewi Parwati, Dewi Kali, dan Dewi Candika, yang mencerminkan berbagai aspek dari kekuatan dan kebijaksanaan yang dimilikinya.

Sebagai istri dari Dewa Siwa, Dewi Durga memiliki peran yang sangat penting dalam mitologi Hindu. Ia juga memiliki seorang putra, Bhatara Kala, yang menambah kedalaman simbolis dalam kisah-kisah yang mengelilingi dirinya. Banyak yang beranggapan bahwa Dewi Durga adalah sosok yang menakutkan, bahkan di Bali, ia sering dilambangkan dalam wujud Rangda, yang terkadang dipersepsikan sebagai sosok yang menyeramkan. Namun, persepsi ini adalah kesalahpahaman yang besar. Durga bukanlah dewi yang menebar ketakutan, melainkan seorang pelindung yang berjuang melawan kejahatan dan membantu mereka yang teraniaya. Dewi Durga hadir untuk melindungi orang-orang yang terancam bahaya, memusnahkan kejahatan, dan membebaskan mereka yang dalam kesulitan.

Kebanyakan orang salah kaprah dengan menganggap Dewi Durga hanya dipuja oleh mereka yang terlibat dalam ilmu hitam atau hal-hal yang berhubungan dengan kejahatan. Padahal, Dewi Durga adalah sosok yang dipuja oleh mereka yang merasa terancam jiwa dan keselamatannya. Orang-orang yang berada dalam kondisi terdesak, yang menghadapi bahaya atau ancaman dari kekuatan gelap, sering memohon kepada Dewi Durga untuk perlindungan dan bantuan. Bahkan mereka yang menekuni dunia supranatural, seperti Jero Dasaran dan Balian, memuja Dewi Durga untuk mendapatkan bantuan dalam menyembuhkan penyakit atau mengatasi masalah yang berhubungan dengan ilmu hitam, seperti Desti, Teluh, atau Terangjana. Dewi Durga bukan hanya seorang pemusnah, tetapi juga penyembuh yang siap memberikan kesembuhan kepada mereka yang terancam nyawanya. Di Bali, terdapat istilah seperti "Nunas di Dalem" atau "Nebusin" yang merujuk pada upacara untuk meminta pertolongan Dewi Durga dalam menyembuhkan penyakit berat atau menyelamatkan jiwa seseorang.

Konsep "Nebusin" ini, yang dilakukan di pura Dalem, bertujuan untuk menebus roh seseorang yang digunakan sebagai agunan dalam ilmu hitam. Jika seseorang menderita penyakit yang sukar disembuhkan, mereka dapat mengadakan upacara Nebusin untuk menukar roh yang menjadi korban dengan sesajen yang dipersembahkan kepada Dewi Durga. Dalam tradisi ini, Dewi Durga dipandang sebagai pelindung yang menjaga agar kekuatan-kekuatan gelap tidak merajalela dan menguasai kehidupan umat manusia. Di Indonesia, terutama di Bali, ada pemahaman yang keliru tentang Dewi Durga, yang dianggap sebagai "ratunya para setan" atau "dedemit". Padahal, justru Durga adalah penguasa para iblis tersebut, dan tanpa keberadaannya, kekuatan iblis akan merusak tatanan dunia ini.

Dewi Durga adalah salah satu dewi yang paling dipuja dalam tradisi Hindu, terutama pada saat perayaan Galungan. Di Bali, saat Hari Galungan, masyarakat biasanya memasang Sampian Candigaan, sebuah persembahan yang mengandung unsur nama Candika, yang merupakan salah satu nama Dewi Durga. Di India, perayaan khusus untuk memuja Dewi Durga dikenal dengan nama Durga Puja, Kalipuja, dan Wijaya Dasami. Meski di Bali tidak ada perayaan khusus yang secara eksplisit memuja Dewi Durga, upacara Piodalan di pura Dalem selalu menjadi momen penting bagi umat Hindu untuk memuja beliau. Di Bali, Dewi Durga sangat dihormati, terutama oleh penganut Tantrayana, yang mempersembahkan sesajen berupa daging babi dalam upacara pemujaan. Pada hari Penampahan Galungan, masyarakat Bali membuat Upakara di halaman rumah dengan tujuan mempersembahkan penghormatan kepada Dewi Durga, dalam wujud beliau sebagai Dewi Uma.

Masyarakat Bali juga mempersembahkan Penjor, yang dipasang sebagai bentuk penghormatan dan doa untuk mendapatkan perlindungan dan kemenangan atas segala rintangan. Selama upacara ini, sesajen dan persembahan kepada Dewi Durga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual mereka. Upacara ini diyakini memiliki kekuatan untuk menjauhkan segala mara bahaya dan melindungi keluarga serta masyarakat dari gangguan kekuatan jahat. Bahkan, meskipun banyak umat Hindu di Bali tidak sepenuhnya memahami Mantra Mrtyunjaya yang diberikan oleh Dewi Durga kepada Raja Sri Aji Jaya Kasunu, mereka tetap melaksanakan tradisi ini dengan penuh keyakinan, karena mereka percaya bahwa dengan melaksanakan perayaan Galungan dan memasang Penjor, mereka telah mendapatkan keberkahan

Senin, 18 November 2024

Kisah Jaya Kasunu Dan Pawisik Durga.

Pada tahun 882 Masehi, di sebuah pulau yang dipenuhi oleh alam yang subur dan budaya yang kaya, di Bali, sebuah perayaan penting pertama kali dilaksanakan. Hari Raya Galungan, sebuah hari yang dipersembahkan untuk menghormati para dewa dan leluhur, pertama kali diselenggarakan dengan penuh kemegahan. Masyarakat Bali merayakan kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kejahatan) dalam kehidupan sehari-hari, dengan doa, persembahan, dan berbagai ritual. Namun, tak lama setelah perayaan pertama itu, Galungan menghilang dari kehidupan mereka. Tidak ada yang tahu mengapa, tetapi perayaan itu tak lagi dilaksanakan dan menjadi kenangan yang terlupakan.

Berpuluh-puluh tahun berlalu, dan dengan berjalannya waktu, Bali dilanda bencana alam yang tak terkendali. Gunung-gunung meletus, ombak besar menghantam pantai, dan gempa bumi mengoyak tanah. Tidak hanya itu, negeri ini juga dilanda pergolakan politik yang membuat kekuasaan raja-raja menjadi rapuh. Raja-raja yang memimpin pulau ini banyak yang mati muda, seperti terkutuk, tanpa dapat menggapai masa tua. Banyak yang mengatakan bahwa nasib buruk ini merupakan akibat dari sebuah kutukan atau pelanggaran terhadap tatanan yang telah lama berlaku.

Pada saat kerajaan Bali dipenuhi kekacauan, seorang raja bernama Sri Jaya Kasunu duduk di tahta. Ia adalah seorang pemimpin yang bijaksana, namun bahkan ia tak bisa melawan bencana alam yang datang silih berganti. Raja Jaya Kasunu memerintah dengan hati yang penuh kecemasan. Melihat banyaknya kerajaan yang jatuh dan rakyat yang menderita, ia merasa harus melakukan sesuatu untuk mengakhiri penderitaan itu.

Suatu malam, setelah mendengar banyak cerita tentang pentingnya hari Raya Galungan yang dulu pernah dirayakan, raja merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia merasakan bahwa kemarahan alam dan pergolakan di tanah Bali mungkin berkaitan dengan hilangnya perayaan tersebut. Namun, apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan kedamaian? Bagaimana ia bisa memperoleh petunjuk?

Tanpa ragu, Raja Jaya Kasunu mengambil langkah berani. Ia memutuskan untuk melakukan tapa (semedi) di sebuah kuburan tua yang terletak di kaki gunung Agung, tempat yang diyakini sebagai pintu masuk menuju dunia para dewa. Di sana, ia bertapa tanpa makan atau minum, hanya berfokus pada doa dan memohon petunjuk dari Tuhan. Berhari-hari ia bersemadi, hingga pada suatu malam yang penuh dengan suara angin yang berbisik, ia mendapat pawisik (petunjuk) dari seorang dewi yang sangat kuat dan dihormati.

Dewi itu adalah Bhatari Durga, sang dewi yang dikenal sebagai penguasa alam semesta, yang juga memiliki kekuatan untuk menghancurkan kejahatan. Dengan suara lembut namun penuh wibawa, Bhatari Durga berkata  "Wahai Raja Jaya Kasunu, kembalikan perayaan Galungan ke tanah ini. Hanya dengan memperingati kemenangan kebenaran atas kejahatan, engkau dan rakyatmu akan memperoleh kedamaian. Jangan biarkan kekacauan menguasai hidupmu. Rayakan Galungan, dan dengan itu, kembalikan keseimbangan yang hilang."

Mendengar pawisik tersebut, Raja Jaya Kasunu merasa tergetar dalam hatinya. Ia menyadari bahwa selama ini mereka telah lupa untuk merayakan kebenaran dan menghormati leluhur. Perayaan Galungan bukan hanya tentang pesta atau tradisi semata, tetapi juga tentang menghormati hubungan antara manusia dengan dunia spiritual, yang memberi kedamaian dan keseimbangan.

Setelah mendapatkan petunjuk tersebut, Raja Jaya Kasunu segera memerintahkan seluruh rakyat untuk menyiapkan perayaan Galungan kembali. Semua persiapan dilakukan dengan penuh semangat, dari pembuatan penjor yang dihias dengan indah, hingga persiapan upacara di pura-pura besar. Mereka juga membuat persembahan yang melimpah, baik berupa makanan, bunga, maupun dupa, sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada para dewa dan leluhur.

Pada hari yang telah ditentukan, seluruh Bali bersatu dalam perayaan Galungan yang megah. Untuk pertama kalinya dalam berabad-abad, perayaan itu kembali dirayakan dengan penuh suka cita. Raja Jaya Kasunu memimpin upacara di pura terbesar, dan seluruh rakyatnya berdoa dengan tulus agar bencana dan pergolakan yang telah menimpa pulau ini segera berakhir.

Keajaiban pun terjadi. Sejak perayaan Galungan itu dilaksanakan, bencana alam yang dahsyat mulai mereda. Gunung-gunung yang dulu mengeluarkan letusan kini menjadi tenang, gempa bumi yang sering terjadi akhirnya berhenti, dan laut pun menjadi damai. Pergolakan politik yang telah melanda kerajaan mulai menghilang, dan persatuan antar kerajaan pun terjalin kembali. Para raja-raja yang memimpin pada saat itu juga mulai hidup lebih panjang, tidak ada lagi yang mati muda, karena mereka berada dalam kedamaian yang terjaga dengan baik.

Raja Jaya Kasunu dan seluruh rakyat Bali akhirnya menyadari bahwa dengan merayakan Galungan, mereka telah mengundang berkah dari dunia gaib, dan menjaga keseimbangan alam semesta. Perayaan Galungan bukan hanya sebuah ritual, tetapi juga sebuah pengingat akan pentingnya hidup dalam kebenaran dan kesatuan dengan alam, dewa, dan leluhur.

Sejak saat itu, Galungan dirayakan setiap enam bulan sekali, dan menjadi hari yang paling dihormati di Bali. Masyarakat Bali, yang dipimpin oleh raja-raja yang panjang umur dan bijaksana, hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan, dan perayaan Galungan menjadi lambang dari kemenangan kebenaran atas segala bentuk kejahatan dan kekacauan.

Dan demikianlah, berkat kebijaksanaan seorang raja dan pawisik dari Bhatari Durga, Bali kembali menjadi pulau yang damai, penuh berkah, dan tetap merayakan Galungan hingga hari ini, sebagai sebuah warisan spiritual yang abadi.